Setiap bulan puasa biasanya itu menjadi moment yang tepat buat instrospeksi diri. Karena di bulan ini semua kondisi yang memungkinkan untuk itu terjadi dan banyak dilakukan.

Kembali ke nothing. Hidup memang pencarian yang nggak pernah berhenti. Sebenarnya apa yang dicari? mungkin juga sebagian ada yang sudah tahu apa sebenarnya di cari di hidup ini. Tentu saja masih banyak orang yang berusaha mencari apa makna hidup ini. Termasuk mungkin gw.

Kosong atau nothing. Semua berawal dari ada menjadi tiada lagi, manusia diciptakan Allah dari tanah tentu saja kembali ke tanah. Tapi sejak kapan membutuhkan sesuatu yang dapat mengikat kita kepada sesuatu. Ini bukan hanya tentang materi. Materi dan sebagainya itu merupakan hal yang kasat mata. Mungkin gampang di identifikasi sebagai ‘thing’ karena kelihatan.

Seperti roda hidup dari bawah kemudian tiba di atas lagi dan siap tidak siap pasti akan kembali kebawah. Dari nothing kemudian kita mencapai pencapaian ‘thing’ dan kemudian kembali nothing lagi. Beranikah kita memutuskan untuk mencari ‘sumber’ dari kegundahan kita, membuang segala macam ‘aku’. Mencari tentang makna hidup dengan langsung melihat ’hidup’ yang selama ini tidak terlihat karena banyak terhalang oleh segala ‘aku’ bentukan sendiri.

Mungkin karena dosa – dosa yang telah kita lakukan. ‘Aku’ itu mungkin bisa juga terbentuk karena harta, jabatan dan mungkin juga citra bentukan kita sendiri. Termasuk juga image bentukan kita sendiri di internet yang kadang kala jauh sekali dari diri.

Puasa di bulan Ramadhan. Tentu saja sudah yang banyak mengetahui bahwa puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus. Tapi puasa juga mencoba mengingatkan tentang ke eksistensi kita. Yang sebenarnya ‘nothing’, selama ini telah banyak terikat dengan sesuatu. Puasa memcoba untuk mengembalikan manusia menuju fitrahnya semula. Sebagai makhluk ciptaanNya yang tidak berarti di banding dengan kebesaranNya.

Gw nggak ingin menghujat hal – hal duniawi. Sedangkan ternyata gw adalah orang yang ternyata mungkin masih sangat terikat dengan hal – hal ini. Puasa mencoba kembali mempertanyakan ‘aku’ kita, mencoba membuang segala keterikatan kita pada sesuatu. Siapa sebenarnya diri kita? tanpa terikat oleh segala hal yang berusaha membentuk ‘aku’.

Diri pribadi, fitrah kita itu mungkin terendam sangat dalam. Karena kesibukan yang banyak di lakukan, menjadi terkotori oleh image dan citra yang palsu. Tapi dalam sebulan ini mencoba untuk dicari lagi dan ditemukan kembali. Bisakah kita lepas dari segala keterikatan yang telah mendistorsi kita?

Diri kita dan gw saat ini mungkin seperti gedung pencakar langit yang rapuh, ketika gempa terjadi semuanya kolaps. Tapi tanpa terasa ia menjadi ‘aku’, tanpanya kita menjadi hampa, lemas dan nggak punya power. Inikah tanda keterikatan gw pada sesuatu? Gw nggak tahu tapi paling tidak itu bisa menjadi bahan perenungan. Siapa diri kita, ‘aku’ yang sengguhnya sesungguhnya bukan bentukan dari imaji, keterikatan pada sesuatu dan mungkin juga fantasi.

Moment puasa ini bagi gw sangat penting untuk mencari lagi fitrah kita sebagai makhlukNya, ‘aku’ kita yang sebenarnya yang mungkin harus ditemukan kembali. Terima Kasih Ya Allah telah kau ciptakan bulan yang begitu mulia dimana segala amal kebaikan kita dilipat gandakan pahalanya. Tempat dimana kita bisa melihat diri kita sebenarnya dan tempat kita bisa berintrospeksi melihat segala macam kekurangan dan kesalahan kita selama ini. Ya Allah… terima kasih. Allahu Akbar, Allah Maha Besar.

La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu mina dzalimin rabbi inni kulli dzunubun wa antal afuwwul ghafur

(Ya Allah ampunilah dosaku…)

pic dari sini

Iklan

Fana
mengalir dari dekapan
kosong

apa yang kucari?
dari hidup

pernah kupegang ekornya
tapi putus
lari bersama raganya

hilang
ditengah kabut terbutakan
ditengah cahaya silau
buta di malam yang kelam

Ya Tuhan..
apa lagi ini?
berlutut di tanahmu
kegenggam pasir

dari tanah
kembali ketanah

musnah, sirna
hanya kebaikan yang abadi
menjadi cahaya bagi nurani

pelita di tengah taifun ganas
bagi sampan di lautan lepas
perahu yang terombang-ambing
dari subuh sampai petang

yang hanya menjadi keledai
tanpa ada yang menilai
apa arti dari semua ini

Ya Allah…
selamatkanlah aku…
dari derita tak berujung ini
hidup, muda, tua, sakit, mati

samsara yang abadi
entah apa yang terjadi,
jika tiada suluhmu
perih tersayat di perjalanan

nyatakah semua ini?
cuma ilusi?

tapi kemana perginya waktu?
dunia simbolis,
memento bagi memori

dan aku tenggelam
kedalam riuhnya aku
yang menjadi besar

tanpa sadar
akan kebesaranNya
aku menjadi kerdil

dikerdilkan oleh ruang dan waktu yang fana,
mencari diri sendiri
dan makna mencari,
sesuatu yang kurasa pergi
padahal ia ada berlindung pada jiwaku

jiwaku yang resah mencari
kedalaman makna arti
tentang bumi yang berevolusi
bukan tentang diri sendiri

dan aku terdadahkan
oleh aral yang terjadi
yang tiba menjadi hikmah
pelajaran penuh arti

bagi diri pribadi
yang rindu
akan cahaya Ilahi

ruang – ruang imajiku sedang berdenyut
bagai ribuan neon yang bergetar
memendarkan warna dan nuasa
yang terasa janggal

yang hanya sekelabat saja
terangkum dalam ribuan warna
tertangkum dalam iris matamu
yang bertanya tentang apa makna dan arti

dari inskripsi yang telah kutuliskan
kepada siapa akupun tak mengerti
dan dalam diam aku bicara
arus yang terus berputar dalam benakku

membuat aku tak bisa memejamkan
kelopak mataku yang telah menjadi transparan
dan akupun silau terjaga dan terus terjaga
oleh dunia yang terasa menjadi sirna

berubah menjadi ribuan bits makna
yang berkelebat dalam ruang maya
dari dunia tanpa nama dan rasa
yang tercercap oleh indera

tapi telah memukau aku
dengan rasa itu
yang tergenggam tapi tak kulihat
ribuan paragraf yang menjadi misteri

dari mana datangnya aku tak mengerti
tapi Tuhan pasti mengerti
euforia yang tak terduga
membuat aku gila

euforia yang tak terkira
yang kadang tak bisa kutampung
dalam goresan pena
yang terasa pejal dan kelu

tapi menunggu disitu
di benakku
berdenyut
menunggu aku

meggoreskannya menjadi parafrase
yang elok yang tak kumengerti
dari mana ini semua berasal
tanpa sadar telah kugoreskan

menjadi kata yang tak terduga
ekstase yang tak kukira
akan kualami dari sebentuk karya literasi
yang selama ini mungkin asing bagiku

151007 6:43AM

Di ujung rona itu
telah menunggu
semangkuk bubur gandum hangat
bagi perutku
yang seharian kosong

tapi di ujung jalan itu
hanya perih
yang menunggu
setelah rona itu
dan adzanpun bergema…

Ketika kau pergi
semua menjadi jelas
awan kelabu yang menggantung

telah tertiup angin
menuju kesendirian
yang menyadarkan

menjadi katarsis bagi diri sendiri
tentang arti dari perjalanan ini
pencarian yang meletihkan

anak hilang yang telah kembali
yang dirindu oleh saudara
oleh bapak dan ibu yang lelah

lelah pada terror
dan sentimentil diri yang berlebih
egoisme yang tak tersapih

tapi imajimu yang tersisa
masih mengelayuti
benakku

terasa berat
membebaniku
sesak mengapitku

menghimpit ruang visi
dari pikiran dan dimensi
kucoba kutulis inskripsiku disini

di hatiku
yang mencoba berdamai
dengan imajimu

mahadewi dimana kau….
sejenak kurasa secercap di nurani
pecah sirna di dukaku
buih ombak memecah pantai

nurani membatu
batu membatu nilai
mungkin sudah ketemu?
terhanyut lagi gelombang
kutatap langit dengan tanya

kukejar lagi ia
dari evenue itu
tiba – tiba ia berbelok
menuju kesadaran tertinggi

dari sudut cangkir kopi itu
begitu dekat

semua mengalir dengan cepat
tik-tak tik-tak dan diam

sebuah semtex yang terikat
dengan sumbu yang lekat

boom…

yang tersisa

tangis, sesal, duka

wheat_harvest.jpg

Sayangku masih ingatkah kau saat itu.
Saat bunga – bunga musim semi bermekaran di jalan – jalan di Chile.
Dan sebuah dunia khyalan yang kita ciptakan.

Dan kaupun datang
bagai daun kering yang tertiup musim semi itu.
Bersama putik – putik bunga terbang dan melekat di kelopaknya.

Dan tiba – tiba bagai awan ia menjadi lembut,
seperti kapas yang menyerap segala nuansa.

Dan embun itu menjadi pelangi
memancar dari senyummu yang indah

Dan kau pun berkata tentang sebuah ruang
tempat kita bisa bersama.
Mengisi kanvas lukisan yang kita lukis.

Lukisan yang kita lukis bersama
sebuah landscape yang kita inginkan.

Dan kaupun tersenyum.
Sayangku betapa indahnya senyummu
seandainya kau tahu itu.