renungan


Perlukah sekolah? Sekelebat pikiran radikal pernah muncul dibenakku. Binar – binar banal. Karena ia telah memakanku, menjerumuskanku. Sebuah angan berawal dari mimpi yang terasa hambar karena bengkah. Semuanya pecah, perih dan memar. Menjadi parut di seputar kalbu dan benakku.

Semua itu pernah menjadi lakon, dalam hikayat tentang ego dan tiba – tiba memukulku. Nyalang menatap dan mengejekku, menjerembabkanku kedalam dunia yang suntuk berisi tentang pita kaset – kaset kusut yang tersusun menjadi menjadi imaji yang terasa kekal. Tapi musnah diterjang gelombang tsunami, sebuah sentakan dari karpet bumi yang sebenarnya mungil.

Dan dia ada disitu? siapa? Dari iris matamu yang indah aku tahu siapa kamu, Laila katamu. “Aku adalah pejalan kaki gila yang menelusuri tapak – tapak kaki yang pudar”, batinku berkenalan, berbicara denganmu. “Dan maaf, karena kamu adalah sang pejalan kaki gila yang memang harus berjalan. Sedangkan aku adalah seorang peziarah waktu. Maka kita harus berpisah, karena aku selalu mencari”, katamu. Dan itu saja sudahlah cukup. Di persimpangan kita berpisah.

Karenanya aku tidak marah, aku berjalan. Segera saja kutiup serunai yang segera mengalun merdu. Suaranya menggema kedalam lorong kalbu dan tanpa terasa serunai itu ditimpali oleh sebuah suara. “Suara itu?”. Tang-Ting Tang-Ting. Percikan api yang memercik dari sebuah tungku. Membara membakar biji besi yang segera ditimpa godam. Kemelitik yang ditimpali palu itu, terasa merdu dibenakku. Jiwaku menjelma larikan oranye itu. Ting-Tang Ting-Tang dan spiritku menjelma menjadi itu.

Di tempa dan diluruskan. Di masukkan lagi kedalam bara. Di tiupkan angin yang segera membuat bara itu kembali terbakar. Larut, menjadi tarikan nafas sang peniup serunai yang tiba – tiba terpekur, berhenti berbunyi. Dalam sunyi terdengar suara itu, sebuah untaian frekuensi yang saling menjalin. Dalam bayang bunyi dari tapak – tapak terompah sang peziarah waktu. Yang berziarah kedalam ruang batin seorang Ibu yang sedang menimang si buah hati dalam kalbu.

Itu tentang rasa hangat itu, susu yang diminum oleh si kecil dalam buaiannya. Seperti sebuah bandul dari tarikan gravitasi bulan dan bumi yang saling menarik. Dalam ayat – ayat kausal yang dituliskan Tuhan di angkasanya. Menjadi seperti hirupan nafas nikmat dari sang perokok. Yang hembusannya bagai sesuap nasi hangat yang terbeli dari sebuah atensi dari seorang yang mengerti tentang arti dari mencari.

Dan tiba – tiba bagai sebuah angin gila, itu semua menjadi satu. Menjadi larutan pekat antara frekuensi, bara, tarikan nafas, bulan dan bumi. Ia telah menjadi larut, dalam adukan takjil yang manis dan syahdu. Pekat dan berputar dalam sendok yang diaduk oleh Ibu. Setiap hembusan nafasnya menjelma menjadi tasbih, berputar dalam irama yang ritmis. Rebana yang ditabuh oleh pengemis.

Dan si pejalan kaki gila itu telah berpusing, dalam diamnya ia telah bicara. Tidaklah perlu mengerti tapi cukup paham untuk tahu. Dalam setiap putaran yang menjadi makna. Setiap putaran yang menjelma waktu, tapi tidak cukup penting dimana itu. Tapi itu telah melemparkannya menembus waktu. Kedalam sebuah impian kelu. Tapi saya tahu ia tidak begitu. “God i surrender to you”.

Iklan

Setiap bulan puasa biasanya itu menjadi moment yang tepat buat instrospeksi diri. Karena di bulan ini semua kondisi yang memungkinkan untuk itu terjadi dan banyak dilakukan.

Kembali ke nothing. Hidup memang pencarian yang nggak pernah berhenti. Sebenarnya apa yang dicari? mungkin juga sebagian ada yang sudah tahu apa sebenarnya di cari di hidup ini. Tentu saja masih banyak orang yang berusaha mencari apa makna hidup ini. Termasuk mungkin gw.

Kosong atau nothing. Semua berawal dari ada menjadi tiada lagi, manusia diciptakan Allah dari tanah tentu saja kembali ke tanah. Tapi sejak kapan membutuhkan sesuatu yang dapat mengikat kita kepada sesuatu. Ini bukan hanya tentang materi. Materi dan sebagainya itu merupakan hal yang kasat mata. Mungkin gampang di identifikasi sebagai ‘thing’ karena kelihatan.

Seperti roda hidup dari bawah kemudian tiba di atas lagi dan siap tidak siap pasti akan kembali kebawah. Dari nothing kemudian kita mencapai pencapaian ‘thing’ dan kemudian kembali nothing lagi. Beranikah kita memutuskan untuk mencari ‘sumber’ dari kegundahan kita, membuang segala macam ‘aku’. Mencari tentang makna hidup dengan langsung melihat ’hidup’ yang selama ini tidak terlihat karena banyak terhalang oleh segala ‘aku’ bentukan sendiri.

Mungkin karena dosa – dosa yang telah kita lakukan. ‘Aku’ itu mungkin bisa juga terbentuk karena harta, jabatan dan mungkin juga citra bentukan kita sendiri. Termasuk juga image bentukan kita sendiri di internet yang kadang kala jauh sekali dari diri.

Puasa di bulan Ramadhan. Tentu saja sudah yang banyak mengetahui bahwa puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus. Tapi puasa juga mencoba mengingatkan tentang ke eksistensi kita. Yang sebenarnya ‘nothing’, selama ini telah banyak terikat dengan sesuatu. Puasa memcoba untuk mengembalikan manusia menuju fitrahnya semula. Sebagai makhluk ciptaanNya yang tidak berarti di banding dengan kebesaranNya.

Gw nggak ingin menghujat hal – hal duniawi. Sedangkan ternyata gw adalah orang yang ternyata mungkin masih sangat terikat dengan hal – hal ini. Puasa mencoba kembali mempertanyakan ‘aku’ kita, mencoba membuang segala keterikatan kita pada sesuatu. Siapa sebenarnya diri kita? tanpa terikat oleh segala hal yang berusaha membentuk ‘aku’.

Diri pribadi, fitrah kita itu mungkin terendam sangat dalam. Karena kesibukan yang banyak di lakukan, menjadi terkotori oleh image dan citra yang palsu. Tapi dalam sebulan ini mencoba untuk dicari lagi dan ditemukan kembali. Bisakah kita lepas dari segala keterikatan yang telah mendistorsi kita?

Diri kita dan gw saat ini mungkin seperti gedung pencakar langit yang rapuh, ketika gempa terjadi semuanya kolaps. Tapi tanpa terasa ia menjadi ‘aku’, tanpanya kita menjadi hampa, lemas dan nggak punya power. Inikah tanda keterikatan gw pada sesuatu? Gw nggak tahu tapi paling tidak itu bisa menjadi bahan perenungan. Siapa diri kita, ‘aku’ yang sengguhnya sesungguhnya bukan bentukan dari imaji, keterikatan pada sesuatu dan mungkin juga fantasi.

Moment puasa ini bagi gw sangat penting untuk mencari lagi fitrah kita sebagai makhlukNya, ‘aku’ kita yang sebenarnya yang mungkin harus ditemukan kembali. Terima Kasih Ya Allah telah kau ciptakan bulan yang begitu mulia dimana segala amal kebaikan kita dilipat gandakan pahalanya. Tempat dimana kita bisa melihat diri kita sebenarnya dan tempat kita bisa berintrospeksi melihat segala macam kekurangan dan kesalahan kita selama ini. Ya Allah… terima kasih. Allahu Akbar, Allah Maha Besar.

La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu mina dzalimin rabbi inni kulli dzunubun wa antal afuwwul ghafur

(Ya Allah ampunilah dosaku…)

pic dari sini

Di ujung rona itu
telah menunggu
semangkuk bubur gandum hangat
bagi perutku
yang seharian kosong

tapi di ujung jalan itu
hanya perih
yang menunggu
setelah rona itu
dan adzanpun bergema…

wheat_harvest.jpg

Sayangku masih ingatkah kau saat itu.
Saat bunga – bunga musim semi bermekaran di jalan – jalan di Chile.
Dan sebuah dunia khyalan yang kita ciptakan.

Dan kaupun datang
bagai daun kering yang tertiup musim semi itu.
Bersama putik – putik bunga terbang dan melekat di kelopaknya.

Dan tiba – tiba bagai awan ia menjadi lembut,
seperti kapas yang menyerap segala nuansa.

Dan embun itu menjadi pelangi
memancar dari senyummu yang indah

Dan kau pun berkata tentang sebuah ruang
tempat kita bisa bersama.
Mengisi kanvas lukisan yang kita lukis.

Lukisan yang kita lukis bersama
sebuah landscape yang kita inginkan.

Dan kaupun tersenyum.
Sayangku betapa indahnya senyummu
seandainya kau tahu itu.

365335823_c2673d0a61.jpg Kesadaranku mungkin telah hilang, bagai mendaki gunung yang terjal, aku melorot dengan cepat menuruni lereng yang terjal. Keringat bercucuran menetes membentuk aliran air laut yang asin yang membekas di kemeja disekitar ketiakku. Semua itu seperti nafasku yang satu dua, antara mendaki dan menuruni bukit itu dengan deras. Terbit dan ada seperti matahari panas dan menyengat menimbulkan bau apak yang menipak di kemejaku.

Antara gelap dan terang, berkedip kelopak mataku. Tetes asin kristal – kristal sekresi, keringat menetes memasuki mulutku. Asin, garam yang menegenai bibir pecahku yang berdarah. Di jotos dengan keras, membiru, semua tanpa recana kujilat sedikit dengan lidahku asin dan anyir. Plok! Sebuah tamparan mengenai pipiku. Kebas pipiku terkena, sakit dan menjadi keras. Duak! Jotosan yang telak mengenai bibirku, asin dan anyir, keringat masuk di mulutku mengelontor menuju kerongkongan dan lambungku.

Surga dan Neraka yang bagai tipis jaraknya. Seperti seorang yang menunggu di tengah garis, kiri atau kanan?. Lampu pijar yang maju mundur menimbulkan bayang yang membesar dan mengecil bagai iblis yang menggoda manusia dengan kenikmatan menuju neraka jahanam. Siapa yang tertawa? Iblis. Hmm… tapi itu manusia. Cuih… seseorang meludah mengenai kakiku. Bagai pendulum, semua itu berima, pukulan dan tendangan yang ritmis.

Ini siang atau malam? Tidak penting karena aku berada di ruang kedap waktu. Yang nggak real tapi nyata. Menyisip di antara suatu yang real hingga manusia – manusia nggak menyadari bahwa itu ada. Di diamkan bagai anjing di tengah kerumunan manusia komuter yang berjalan di pagi hari dengan kereta menuju kota, yang tidak peduli dengan seekor anjing yang keluyurun sedirian mengais sampah dan makan sisa. Tidak cukup penting bagi kehidupan yang statis dan ajeg, nggak cukup penting buat mengguncang kesadaran yang sengaja diciptakan. Dengan mengatas namakan kestabilan.

Pikiaranku sesaat bagai debuai semilir angin. Aneh tidak lagi terasa sakit itu, setelah beberapa kali otakku mengirimkan seuatu zat yang menyebabkan itu semua terasa bagai sebuah sensasi sensual saja. Terasa nikmat bahkan terasa erotis. Nalarku dihembus badai huricane, kabur, mana nyata mana maya. Sekerjap bening tapi sekerjap kabur. Lambungku yang kosong terasa sakit oleh asam, asin dan anyir.

Siapa Senor? Dia bertanya. Siapa?. Ya Siapa Senor? Dengan siapa kamu merencanakan itu semua?. Merencanakan apa?. Keparat dan bak – buk ditambah tendangan. Maaf saya tidak mengerti Senor. Dasar bebal, keledai, babi, anjing – anjing buduk tak ber-Tuhan. Dan di belakang itu tidak sunyi, terdengar hinggar bingar suara music dance yang menghentak di mansion itu. Mengaburkan apa yang terjadi di dalamnya. Tapi orang – orang tidak bisa ditipu. Bagai anjing mereka bisa mecium bau sosis dan daging steak panggang ribuan kilometer dari sumbernya. Tapi mereka tidak berdaya, tempat itu merupakan ‘pesta’ private yang nggak mengundang siapapun kecuali hantu lapar dan arwah yang nggak punya nama, tempat dan tanggal lahir bahkan nisan.

Selamat anda telah diundang di pesta ini! Segera siapkan nyali anda kalau anda sudah tahu akan diundang. Sudah dapat undangan? undangan yang segera menjadi gosong dan hitam begitu kau buka. Segeralah bawa bekal anda segala amal langit dan bumi anda. Ciumlah Ibu anda, bagi yang sudah punya kekasih, istri, suami atau keluarga segeralah cium mereka. Jangalah janjikan apapun pada mereka yang akan membuat mereka cengeng, karena itu berilah mereka kartu nama saja beserta tulisan ‘I love you’ atau sejenisnya. Dan tabahkanlah hati mereka karena mereka tidak akan bisa menemukan batu epigraph yang ditaman di tanah berumput yang suci itu.

Tanah berumput yang diatasnya tumbuh, epigraph dari batu dan pohon – pohon kasih sayang para keluarga. Yang tumbuh diatasnya juga bunga Daffodil yang selalu mekar di musim semi. Di situ terdapat sebuah rumah dengan ranjang yang hangat dimusim dingin buat mereka yang tinggal. Tidak kami tidak akan mendapat itu, hanya ada para gagak dan nazar yang akan membawa remah – remah debu ditemani cacing dan belatung. Tapi kami akan menjadi angin hangat yang menghembuskan angin musim semi yang akan membuat mekarnya bunga – bunga di taman anak – anak kami. Anak – anak dari para debu dan tanah yang berterbangan diterpa angin musim kering sebuah negara yang kerontang.

Ibu jangan menagis setelah Ayah pergi para durjana itu hanya akan dapat membawa bayangan saja tapi tidak jiwa kami, spirit kami akan selalu ada pada jahitan dan rajutan kain kebajikan yang selalu karajut dan kaujahit lagi apa bila bolong. Baju – baju hangat buat anak – anak kami para manusia – manusia debu dan tanah. Dan diluar hujanpun semakin deras, titiknya memecah kehangatan hati setiap insan ber-Tuhan. Karena peristiwa yang terjadi akan dicatat pada lembaran – lembaran kelabu dengan tinta darah kami para hantu lapar tak punya nama dan tinggalah epigraph itu tergelatak dihati anak kami.

***

Senor! Kemana kau bawa anak kami, anak yang lahir dari rahim yang kau kehendaki akan menjadi awal bukan akhir. Apakah ini akhir? Akhir dari mimpi masa depanmu. Masa depan negeri ini. Kumohon jangan, biarlah kami para Ibu yang pergi saja memenuhi undanganmu. Kami sudah tua dan mungkin memang butuh fiesta dan tentu saja siesta yang panjang untuk bertemu denganNya.

Mereka masih lama dan sadarkah kau Senor! Mereka itu adalah sempalan dari dirimu sendiri. Secuil daging dari jantung dan hati seandainya kamu masih punya itu. Tapi secuil daging itupun mungkin telah kaumakan, tapi masihkah ada sedikit sisa disana, di piring makanmu. Segenggam gandum dari tanah – tanah kami yang suci, yang tumbuh menguning dari pertanian kami. Kemudian kau rontokan dan kau jadikan ia sarapan pagimu yang hangat.

Karena itu janganlah kami segerombolan manusia kalah ini yang telah menjadi alas kakimu tersingkir oleh deru kalashnikovmu. Ketika itu pagi – pagi buta sekumpulan serdadu menyerbu, dalam sepoi – sepoi angin subuh kudengar bisik mereka. ‘caravan kematian’ kata mereka, sebuah caravan?. Kami sebagai sekumpulan debu dan tanah tidak mengerti. Yang kami mengerti adalah angin itu tiba – tiba berubah, entahlah apa yang kami rasakan. Sedangkan sang angin sebelumnya belum selesai berpamitan kepada para biarawan, ia telah kau usir pergi sebelum para biarawan itu mengucapkan sakramennya kepada sang raja.

Dengan Abrakadabra dan Hocus Pocus, kau sihir para pendeta itu. Dan kami para manusia debu dan tanah merasa kecut, sebuah kelebat yang dilihat oleh Mozart. Sesosok lelaki dengan jubah dan kerudung hitam yang dilihatnya sebelum ia menciptakan requemnya yang syahdu. Dan tiba – tiba salak anjing – anjing, menjilat pantat – pantat dan muka si pahlawan kesiangan. Dengan tanda pangkat dari kaleng rombeng yang segera kau sematkan sebagai tanda ketaatan. Menyihir mereka dengan lullaby yang indah menuju ranjang peraduan mereka di rumah.

Dan perapian di istana itu sekarang terbakar. Terbakar oleh arang, arang dari tulang tengkorak yang kau ambil dari catacomb. Catacomb yang kaubuat di hati kami para Ibu. Asapnya membumbung tinggi menyebarkan jerebu yang kelak pasti menyelimuti hati setiap insan negeri ini. Dan para liliput yang tiba – tiba menjadi raksasa telah mecengkeram kami semua dengan rasa itu. Sebuah bayangan utopis tentang sesuap gandum dan sepotong kue ulang tahun bagi setiap makhluk negeri.

Senor sekali lagi kumohon jangan bawa anak kami. Ia hanya menirukan suara melilit dari perut kosong. Tiada berparasangka dan dusta, coba tanyakanlah hal itu pada kamu. Iya diri kamu yang barusan ada tapi telah kaubunuh. Itu proyektilnya masih ada, karena kau dulu kami manusia debu dan tanah sebelum kau bunuh kamu.

Tapi sia – sia dan malam telah larut, menyisakan sepotong bulan tersaput gelap. Awan yang berarak sejak subuh tadi, membawa angin yang salah musim. Sebagai pertanda tentang apa yang terjadi. Dan kami para Ibu telah kosong, tiada lagi air dari mata kami. Air itu telah jatuh menjadi hujan malam ini yang mengirimkan kebekuan kepada para gelandangan yang telanjang. Ia telah menjadi gelandangan hari ini, terusir, terlunta dan sia. Berjalan diantara ratapan perih kami para Ibu yang berharap secuil darah dan daging kami kembali.

Nak relakanlah suamimu itu. Ia telah pergi bersama angin, rawatlah cucuku agar nanti ia bisa menerbangkan layangan itu. Biarkan ia bermain layang – layang di tanah lapang itu nak, layangan itu akan mengantar celoteh cucuku kepada burung merpati. Burung merpati yang membawa setangkai cemara itu, yang akan mengantarkan celoteh cucuku kepada sang angin.

Kini tinggalah kemeja anakku itu, kemeja rombeng yang sudah sobek disana – sini. Biarlah ia menjadi perca, akan kutisik dan kujahit satu persatu menjadi selimut hangat untukmu anakku. Dan lihatlah di dalamnya anakku, ada sepotong lukisan. Lukisan yang mengisahkan tentang negeri kami, yang dilukis dengan warna merah. Biarlah ia mengabarkan kepada setiap makhluk di dunia tentang kau anakku. Tentang manusia debu dan tanah yang telah menjadi angin musim semi bagi kami.

***

Sayangku aku mengerti kenapa kau menagis. Tidak bukan karena kesedihan. Tetes air matamu itu telah jatuh dan menjadi sungai. Sungai yang akan menghanyutkan segala pedih perih ini menuju ke lautan itu. Lautan yang telah menampung segalanya dengan rela. Karena kami pun telah di relakan olehmu dan juga oleh anak – anakku yang telah kau lahirkan dari rahimmu.

Kami telah purna, telah usai berpesta. Tinggalah sisa – sisa semua yang harus disingkirkan kedalam tong sampah. Ibu tolong jagalah mereka Bu. Jagalah mereka cucumu agar mereka dapat leluasa bermain layang – layang di tanah berumput itu Bu. Dan kalau kau merasakan angin hangat musim semi, yakinlah Bu. Bahwa semua kebohongan akan musnah, ia telah tertiup badai huricane menuju ke lautan pasifik atau mungkin membeku di daratan patagonia yang dingin.

Kala itu, Santiago, Chile, September 11 1973

220807 1:18AM

matrixreloaded50_resize1.jpg“What is The Matrix?”, pertanyaan yang diberikan oleh Morpheus kepada Neo. The Matrix mungkin ada yang melihat hanya sebuah film sci-fi biasa. Walaupun sebenarnya ada sebuah pemikiran (halah!) yang menarik didalamnya. The Matrix dalam movie sebenarnya adalah mesin yang betugas ‘menyelamatkan’ kehidupan manusia Bumi di masa depan. Ia merupakan live support bagi manusia – manusia Bumi yang hidup di jaman yang terpolusi. Kepintaran ‘The Matrix’ sebenarnya merupakan sebuah Artificial Intelligence yang dapat terus belajar, ia merupakan sebuah sequent, masih ada program – program lain dalam dalam daftar init sequent mesin tersebut. Sayangnya mesin yang begitu kompleks itu consume a lot of energy, dengan kata lain ia butuh energy yang sangat besar buat ‘hidup’. Ia butuh ‘cell – cell’ baterei buat menjalankan program – programnya.

matrix26_resize.jpgBuat menjalankan ‘dunia’ yang ada dalam pikiran – pikiran setiap manusia, ia mejalankan sebuah sebuah symbiosis hingga manusia yang hidup dalam sell2 cocoon dijadikannya sumber energi bagi mesin itu. Sebagai imbalannya ia memberikan image – image yang diinginkan para manusia pembuat mesinnya dahulu. Sebuah gambaran tentang ‘dunia’ yang normal. Bahkan sejak manusia tersebut baru saja dilahirkan ia sudah secara otomatis menjadi sebuah cell – cell energy baru bagi ‘makhluk’ tersebut. Sebuah gambaran yang kelihatanya sangat absurd dan nggak masuk akal bahwa sebuah mesin dapat begitu mengontrol hidup manusia di planet ini.

Dare to Dream.

matrix43_resize.jpgBerani bermimpi?. Bagi sebagian manusia – manusia Indonesia kata – kata ini pasti suatu hal yang wajar, tapi bagi sebagian yang lainya berani bermimpi saja sudah suatu kemewahan. Kita sebenarnya merupakan bagian – bagian yang beruntung dari manusia – manusia Indonesia, memperolah akses informasi baik melalui Internet dan sebagainya. Tapi bagi sebagian manusia Indonesia ini semua bagai di awang – awang, pernahkan berpikir bahwa kita ini termasuk orang yang beruntung dan bersyukur kepada Tuhan atas keberuntungan itu?

Itulah kenapa Morpheus (The gods of dreams) berkata kepada Neo, “Pilihlah ditantara dua kapsul ini? Salah satunya tidak berefek apapun, tapi kalau kau ingin melihat seuatu kebenaran maka pilihlah kapsul yang satunya?” begitulah kira – kira Morpheus berkata kepada Neo. Dan kembali Morpheus menekankan kepada Neo agar berpikir dahulu sebelum menentukan pilihannya, “pikirlah lagi sebelum memilih salah satunya!”.

matrix04_resize.jpgBerani bermimpi saja merupakan suatu langkah maju, ditengah dunia yang menglobal dan mesin – mesin kapital besar yang memanfaatkan./memenjarakan kemerdekaan kita, hanya menjadikan manusia – manusia tidak lebih hanya sekedar bahan bakar, sumber energy tanpa batas yang nggak melihat sisi kemanusian.

Okelah mungkin perang dingin sudah usai, perang antara idiologi tersebut nggak dimenangkan oleh salah satunya, itu hanya hukum rimba. Keduanya bukan yang terbaik, si pemenang adalah yang lebih kuat, ya .. hanya lebih kuat tapi bukan yang terbaik. Yang dapat dipilih secara naluriah. Yang satu menganggap bahwa manusia harus sederajat, equal, karena itu diciptakan suatu ‘sistem’ buat menghilangkan sekat – sekat dengan cara yang ‘memaksa’ manusia – manusia yang hidup dalam sistem itu untuk mematuhinya. Manusia – manusia nggak lebih hanya seperti mesin2 yang ‘dingin’ gak punya emosi.

Yang satunya lagi membiarkan kebebasan, bahkan kebabasan tersebut begitu bebasnya sampai dapat menyisihkan kesadaran sosial. Menjadikan pribadi – pribadi ‘Paman Gober’ menumpuk kekayaan, sebesar – besarnya tanpa memperhatikan lingkungan sosialnya. Semua yang menjadi ukuran keberhasilan adalah kaya, besar dan banyaknya, bukan arti dan faedah kita bagi lingkungan sekitar.

Kebebasan sangatlah penting tapi, haruskah itu melanggar hak asasi. Kedua – duanya punya potensi melangkahi itu, walaupun salah satunya berpotensi untuk luput dari pengamatan mata kita yang lugu. Mungkin perlu sebuah castatopic seperti pada kitab2 Ilahi yang dapat memecahkan ego kita dan menyadarkan kemanusiaan kita.

Dunia yang digambarkan oleh The Matrix memang sangat mengerikan, manusia yang tidak lagi mempunyai esksistensi atas tubuhnya sendiri. Tergilas dan terpasung oleh deru mesin – mesin ‘kapital’ dan calon – calon tiran masa depan yang menciptakan sistem2 yang melupakan kemanusiaan.

Kadang gue merasa nggak pernah cukup dengan 24 jam saja, waktu bagi gw kadang terasa begitu sedikitt. Belum banyak yang bisa gw lakukan, terasa menyiakan waktu yang begitu sempit. 24 Jam terasa begitu cepat berlalu, menit-menit dan detik yang kadang serasa disiakan begitu saja. Padahal waktu tersebut nggak akan pernah kembali. Setiap detik begitu berarti tapi seperti lepas mengalir nggak kepegang seperti aliran air yang konstan nggak pernah berhenti, saking konstannya kita nggak menyadari akan air maupun alirannya seakan hal yang wajar saja.

Kita nggak menghargainya, lupa berterimakasih hal yang begitu kecil tapi sangat berarti. Sesuatu kadang dapat mengacaukan pandangan kita tentang sesuatu yang besar. Yang utuh, nggak hanya dipermukaan. Bukan repihan – repihan, remah kecil yang mengganggu. Suatu permintaan maaf bisakah cukup? Gw kadang merasa tenggelam dalam lautan, terus tenggelam karena suatu yang memberatkan ke dasar samudra yang kelam, entah siapa yang mau peduli.

Small hours, yang bisa berarti seluruh kehidupan, wasted karena luput melihatnya, luput menyapa dan memaafkan ataupun minta maaf. Lingkaran itu belumlah utuh karena sesuatu hal yang ‘kecil’ yang hilang. Mungkin karena kekhilafan, menyadari terlambat. “Hai….terima kasih”, “Maaf”, “Tolong”, “Saya memaafkanmu”, membiarkan prasangka memenuhi pikiaran, sampai hal – hal yang berarti menjadi sirna, menjadi nggak penting.

Gw juga menyadari mungkin telah menulisakan beberapa hal, yang (sangat) bodoh pada blog akhir – akhir ini. Atau juga mungkin karena kegoblokkan gw, menulisan sesuatu yang naif dan goblok buat ngambarin sesuatu yang ada dalam benak gw. Yah, mungkin itu karena gw kurang kreatif, tapi memang gw akui semua kegoblogkan gw. Tapi gw tetap mau belajar, tulisan – tulisan gw sebenarnya dapat dirangkum dalam sebuah ‘tag besar’ yaitu belajar menulis. Gw menolak ‘mati’, ‘mati’ disini bukanlah suatu yang yang lateral. Gw merasa ada suatu hal yang lebih mengerikan dari sekedar kematian.

Matinya pikiran dan nurani kita sebelum kematian itu sendiri. Itulah kenapa gw menuliskan tentang Stephen Hawking. Walaupun tubuh kita mungkin sudah nggak bisa bergerak tapi, jangan sampai pikiran dan nurani kita yang masih hidup ikut ‘mati’. Gw menganggap hal itu (mungkin) suatu yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri.

Gue paham tulisan bisa lebih tajam dari apapun, seperti sebuah peluru tapi bukanlah sembarang peluru seperti sebuah peluru hollow point setelah ditembakan ia bebas lepas nggak seperti peluru biasa yang menghancurkan tulang, daging dan jaringan. Ia pecah mandiri menjadi serpihan – serpihan fragment kecil, tiap fragment dapat berada di ruang dan waktu tersendiri di hati dan pikiran seseorang. Pecahan – pecahan itu nggak lagi terikat ia bebas, mendekontruksi dan manghancurkan kebekuan pemikiran kita. Tapi fragment – fragment itu juga bersifat ambigu, mempunyai kecenderungan desktuktif atau konstruktif, kadang dapat membuka dan mendekonstuksi pemikiran seseorang, dapat pula menjadi perusak ia meracuni pemikiran seseorang yang berpikiran sempit.

Happy Birthday

Laman Berikutnya »