puisi


rubiks_cube_variations.jpg

aneh sekali
apa yang kulihat
dari peristiwa

menjadi sebuah kubus
sebuah rubik yang menunggu
untuk kucabik menjadi kepingan
:yang kucoba kulekatkankan lagi
kepingannya itu
menjadi sebuah gambaran
:yang terlihat simetris di benakku

tapi ini bukan tentang nafsu
aku yakin bukan nafsu…

pic from en.wikipedia.com

Iklan

setetes dirimu itu beracun
menghujam benak ingsun
didiamkan menjadi karat
lama – lama menjadi madat

berkelebat di dalam jidat
yang tak terasa kujilat
tertelan menjadi pekat
dalam mimpi yang singkat

telah berubah menjadi jerat
dalam jeram bertingkat-tingkat
yang selalu menyebar pikat
tentang suatu yang tak-padat

Aku memakinya, cialat!

Dan sang penghibur itu telah bekerja,
ia bekerja dengan diam
di benakku yang padam
“apa yang kau mau?”
“tidak kau tahu?”

Dan sekali lagi dia bekerja,
tidak harap dipuja
tanpa pinta bekerja
“apa maumu?”
“hanya senyummu!”

‘Sang Penghibur’ itu ada lagi,
dalam setiap hela nafasku
aku tahu karena dia ‘kamu’
“Aku sedang kelu”
“Tidak, maju ayo maju”

Ku usir lagi si ‘dia’
tapi kembali dengan suka
pada saat ku duka
“Aku sedang luka”
“Mari bersuka-suka saja”

“Dasar Gila!”
“Terserah kau saja;
mari bersuka!”

Inspirasi dari lirik lagu padi – sang penghibur

Fana
mengalir dari dekapan
kosong

apa yang kucari?
dari hidup

pernah kupegang ekornya
tapi putus
lari bersama raganya

hilang
ditengah kabut terbutakan
ditengah cahaya silau
buta di malam yang kelam

Ya Tuhan..
apa lagi ini?
berlutut di tanahmu
kegenggam pasir

dari tanah
kembali ketanah

musnah, sirna
hanya kebaikan yang abadi
menjadi cahaya bagi nurani

pelita di tengah taifun ganas
bagi sampan di lautan lepas
perahu yang terombang-ambing
dari subuh sampai petang

yang hanya menjadi keledai
tanpa ada yang menilai
apa arti dari semua ini

Ya Allah…
selamatkanlah aku…
dari derita tak berujung ini
hidup, muda, tua, sakit, mati

samsara yang abadi
entah apa yang terjadi,
jika tiada suluhmu
perih tersayat di perjalanan

nyatakah semua ini?
cuma ilusi?

tapi kemana perginya waktu?
dunia simbolis,
memento bagi memori

dan aku tenggelam
kedalam riuhnya aku
yang menjadi besar

tanpa sadar
akan kebesaranNya
aku menjadi kerdil

dikerdilkan oleh ruang dan waktu yang fana,
mencari diri sendiri
dan makna mencari,
sesuatu yang kurasa pergi
padahal ia ada berlindung pada jiwaku

jiwaku yang resah mencari
kedalaman makna arti
tentang bumi yang berevolusi
bukan tentang diri sendiri

dan aku terdadahkan
oleh aral yang terjadi
yang tiba menjadi hikmah
pelajaran penuh arti

bagi diri pribadi
yang rindu
akan cahaya Ilahi

ruang – ruang imajiku sedang berdenyut
bagai ribuan neon yang bergetar
memendarkan warna dan nuasa
yang terasa janggal

yang hanya sekelabat saja
terangkum dalam ribuan warna
tertangkum dalam iris matamu
yang bertanya tentang apa makna dan arti

dari inskripsi yang telah kutuliskan
kepada siapa akupun tak mengerti
dan dalam diam aku bicara
arus yang terus berputar dalam benakku

membuat aku tak bisa memejamkan
kelopak mataku yang telah menjadi transparan
dan akupun silau terjaga dan terus terjaga
oleh dunia yang terasa menjadi sirna

berubah menjadi ribuan bits makna
yang berkelebat dalam ruang maya
dari dunia tanpa nama dan rasa
yang tercercap oleh indera

tapi telah memukau aku
dengan rasa itu
yang tergenggam tapi tak kulihat
ribuan paragraf yang menjadi misteri

dari mana datangnya aku tak mengerti
tapi Tuhan pasti mengerti
euforia yang tak terduga
membuat aku gila

euforia yang tak terkira
yang kadang tak bisa kutampung
dalam goresan pena
yang terasa pejal dan kelu

tapi menunggu disitu
di benakku
berdenyut
menunggu aku

meggoreskannya menjadi parafrase
yang elok yang tak kumengerti
dari mana ini semua berasal
tanpa sadar telah kugoreskan

menjadi kata yang tak terduga
ekstase yang tak kukira
akan kualami dari sebentuk karya literasi
yang selama ini mungkin asing bagiku

151007 6:43AM

Di ujung rona itu
telah menunggu
semangkuk bubur gandum hangat
bagi perutku
yang seharian kosong

tapi di ujung jalan itu
hanya perih
yang menunggu
setelah rona itu
dan adzanpun bergema…

Ketika kau pergi
semua menjadi jelas
awan kelabu yang menggantung

telah tertiup angin
menuju kesendirian
yang menyadarkan

menjadi katarsis bagi diri sendiri
tentang arti dari perjalanan ini
pencarian yang meletihkan

anak hilang yang telah kembali
yang dirindu oleh saudara
oleh bapak dan ibu yang lelah

lelah pada terror
dan sentimentil diri yang berlebih
egoisme yang tak tersapih

tapi imajimu yang tersisa
masih mengelayuti
benakku

terasa berat
membebaniku
sesak mengapitku

menghimpit ruang visi
dari pikiran dan dimensi
kucoba kutulis inskripsiku disini

di hatiku
yang mencoba berdamai
dengan imajimu

Laman Berikutnya »