draft


14 jam sebelum…

Bedil itu telah menyalak. Mengeluarkan pelurunya, sebait sepi. Yang telah ditembakkan dari proyetilnya menuju ke hati yang sunyi. Ditengah keheningan malam yang menyesakkan. Seleret langkah di keheningan malam, setiap langkahnya berat oleh beban. Nafasnya berdesakkan, mencoba mengusir dingin yang kelam. Dalam setiap langkahnya terkandung sederet untaian harap. Beberapa jam setelah ini akan tumbuh di ufuk timur sang mentari. Sebuah harapan akan kehangatan, yang dituang kedalam cangkir kopi. Aku pun menghisap hawa dingin itu lagi.

“Duh puanku, aku berjalan disini. Duh Gusti apa artinya ini?”

***

Dalam desah nafasnya, (lebih…)

Iklan

Perlukah sekolah? Sekelebat pikiran radikal pernah muncul dibenakku. Binar – binar banal. Karena ia telah memakanku, menjerumuskanku. Sebuah angan berawal dari mimpi yang terasa hambar karena bengkah. Semuanya pecah, perih dan memar. Menjadi parut di seputar kalbu dan benakku.

Semua itu pernah menjadi lakon, dalam hikayat tentang ego dan tiba – tiba memukulku. Nyalang menatap dan mengejekku, menjerembabkanku kedalam dunia yang suntuk berisi tentang pita kaset – kaset kusut yang tersusun menjadi menjadi imaji yang terasa kekal. Tapi musnah diterjang gelombang tsunami, sebuah sentakan dari karpet bumi yang sebenarnya mungil.

Dan dia ada disitu? siapa? Dari iris matamu yang indah aku tahu siapa kamu, Laila katamu. “Aku adalah pejalan kaki gila yang menelusuri tapak – tapak kaki yang pudar”, batinku berkenalan, berbicara denganmu. “Dan maaf, karena kamu adalah sang pejalan kaki gila yang memang harus berjalan. Sedangkan aku adalah seorang peziarah waktu. Maka kita harus berpisah, karena aku selalu mencari”, katamu. Dan itu saja sudahlah cukup. Di persimpangan kita berpisah.

Karenanya aku tidak marah, aku berjalan. Segera saja kutiup serunai yang segera mengalun merdu. Suaranya menggema kedalam lorong kalbu dan tanpa terasa serunai itu ditimpali oleh sebuah suara. “Suara itu?”. Tang-Ting Tang-Ting. Percikan api yang memercik dari sebuah tungku. Membara membakar biji besi yang segera ditimpa godam. Kemelitik yang ditimpali palu itu, terasa merdu dibenakku. Jiwaku menjelma larikan oranye itu. Ting-Tang Ting-Tang dan spiritku menjelma menjadi itu.

Di tempa dan diluruskan. Di masukkan lagi kedalam bara. Di tiupkan angin yang segera membuat bara itu kembali terbakar. Larut, menjadi tarikan nafas sang peniup serunai yang tiba – tiba terpekur, berhenti berbunyi. Dalam sunyi terdengar suara itu, sebuah untaian frekuensi yang saling menjalin. Dalam bayang bunyi dari tapak – tapak terompah sang peziarah waktu. Yang berziarah kedalam ruang batin seorang Ibu yang sedang menimang si buah hati dalam kalbu.

Itu tentang rasa hangat itu, susu yang diminum oleh si kecil dalam buaiannya. Seperti sebuah bandul dari tarikan gravitasi bulan dan bumi yang saling menarik. Dalam ayat – ayat kausal yang dituliskan Tuhan di angkasanya. Menjadi seperti hirupan nafas nikmat dari sang perokok. Yang hembusannya bagai sesuap nasi hangat yang terbeli dari sebuah atensi dari seorang yang mengerti tentang arti dari mencari.

Dan tiba – tiba bagai sebuah angin gila, itu semua menjadi satu. Menjadi larutan pekat antara frekuensi, bara, tarikan nafas, bulan dan bumi. Ia telah menjadi larut, dalam adukan takjil yang manis dan syahdu. Pekat dan berputar dalam sendok yang diaduk oleh Ibu. Setiap hembusan nafasnya menjelma menjadi tasbih, berputar dalam irama yang ritmis. Rebana yang ditabuh oleh pengemis.

Dan si pejalan kaki gila itu telah berpusing, dalam diamnya ia telah bicara. Tidaklah perlu mengerti tapi cukup paham untuk tahu. Dalam setiap putaran yang menjadi makna. Setiap putaran yang menjelma waktu, tapi tidak cukup penting dimana itu. Tapi itu telah melemparkannya menembus waktu. Kedalam sebuah impian kelu. Tapi saya tahu ia tidak begitu. “God i surrender to you”.

Setiap bulan puasa biasanya itu menjadi moment yang tepat buat instrospeksi diri. Karena di bulan ini semua kondisi yang memungkinkan untuk itu terjadi dan banyak dilakukan.

Kembali ke nothing. Hidup memang pencarian yang nggak pernah berhenti. Sebenarnya apa yang dicari? mungkin juga sebagian ada yang sudah tahu apa sebenarnya di cari di hidup ini. Tentu saja masih banyak orang yang berusaha mencari apa makna hidup ini. Termasuk mungkin gw.

Kosong atau nothing. Semua berawal dari ada menjadi tiada lagi, manusia diciptakan Allah dari tanah tentu saja kembali ke tanah. Tapi sejak kapan membutuhkan sesuatu yang dapat mengikat kita kepada sesuatu. Ini bukan hanya tentang materi. Materi dan sebagainya itu merupakan hal yang kasat mata. Mungkin gampang di identifikasi sebagai ‘thing’ karena kelihatan.

Seperti roda hidup dari bawah kemudian tiba di atas lagi dan siap tidak siap pasti akan kembali kebawah. Dari nothing kemudian kita mencapai pencapaian ‘thing’ dan kemudian kembali nothing lagi. Beranikah kita memutuskan untuk mencari ‘sumber’ dari kegundahan kita, membuang segala macam ‘aku’. Mencari tentang makna hidup dengan langsung melihat ’hidup’ yang selama ini tidak terlihat karena banyak terhalang oleh segala ‘aku’ bentukan sendiri.

Mungkin karena dosa – dosa yang telah kita lakukan. ‘Aku’ itu mungkin bisa juga terbentuk karena harta, jabatan dan mungkin juga citra bentukan kita sendiri. Termasuk juga image bentukan kita sendiri di internet yang kadang kala jauh sekali dari diri.

Puasa di bulan Ramadhan. Tentu saja sudah yang banyak mengetahui bahwa puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus. Tapi puasa juga mencoba mengingatkan tentang ke eksistensi kita. Yang sebenarnya ‘nothing’, selama ini telah banyak terikat dengan sesuatu. Puasa memcoba untuk mengembalikan manusia menuju fitrahnya semula. Sebagai makhluk ciptaanNya yang tidak berarti di banding dengan kebesaranNya.

Gw nggak ingin menghujat hal – hal duniawi. Sedangkan ternyata gw adalah orang yang ternyata mungkin masih sangat terikat dengan hal – hal ini. Puasa mencoba kembali mempertanyakan ‘aku’ kita, mencoba membuang segala keterikatan kita pada sesuatu. Siapa sebenarnya diri kita? tanpa terikat oleh segala hal yang berusaha membentuk ‘aku’.

Diri pribadi, fitrah kita itu mungkin terendam sangat dalam. Karena kesibukan yang banyak di lakukan, menjadi terkotori oleh image dan citra yang palsu. Tapi dalam sebulan ini mencoba untuk dicari lagi dan ditemukan kembali. Bisakah kita lepas dari segala keterikatan yang telah mendistorsi kita?

Diri kita dan gw saat ini mungkin seperti gedung pencakar langit yang rapuh, ketika gempa terjadi semuanya kolaps. Tapi tanpa terasa ia menjadi ‘aku’, tanpanya kita menjadi hampa, lemas dan nggak punya power. Inikah tanda keterikatan gw pada sesuatu? Gw nggak tahu tapi paling tidak itu bisa menjadi bahan perenungan. Siapa diri kita, ‘aku’ yang sengguhnya sesungguhnya bukan bentukan dari imaji, keterikatan pada sesuatu dan mungkin juga fantasi.

Moment puasa ini bagi gw sangat penting untuk mencari lagi fitrah kita sebagai makhlukNya, ‘aku’ kita yang sebenarnya yang mungkin harus ditemukan kembali. Terima Kasih Ya Allah telah kau ciptakan bulan yang begitu mulia dimana segala amal kebaikan kita dilipat gandakan pahalanya. Tempat dimana kita bisa melihat diri kita sebenarnya dan tempat kita bisa berintrospeksi melihat segala macam kekurangan dan kesalahan kita selama ini. Ya Allah… terima kasih. Allahu Akbar, Allah Maha Besar.

La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu mina dzalimin rabbi inni kulli dzunubun wa antal afuwwul ghafur

(Ya Allah ampunilah dosaku…)

pic dari sini

matrixreloaded50_resize1.jpg“What is The Matrix?”, pertanyaan yang diberikan oleh Morpheus kepada Neo. The Matrix mungkin ada yang melihat hanya sebuah film sci-fi biasa. Walaupun sebenarnya ada sebuah pemikiran (halah!) yang menarik didalamnya. The Matrix dalam movie sebenarnya adalah mesin yang betugas ‘menyelamatkan’ kehidupan manusia Bumi di masa depan. Ia merupakan live support bagi manusia – manusia Bumi yang hidup di jaman yang terpolusi. Kepintaran ‘The Matrix’ sebenarnya merupakan sebuah Artificial Intelligence yang dapat terus belajar, ia merupakan sebuah sequent, masih ada program – program lain dalam dalam daftar init sequent mesin tersebut. Sayangnya mesin yang begitu kompleks itu consume a lot of energy, dengan kata lain ia butuh energy yang sangat besar buat ‘hidup’. Ia butuh ‘cell – cell’ baterei buat menjalankan program – programnya.

matrix26_resize.jpgBuat menjalankan ‘dunia’ yang ada dalam pikiran – pikiran setiap manusia, ia mejalankan sebuah sebuah symbiosis hingga manusia yang hidup dalam sell2 cocoon dijadikannya sumber energi bagi mesin itu. Sebagai imbalannya ia memberikan image – image yang diinginkan para manusia pembuat mesinnya dahulu. Sebuah gambaran tentang ‘dunia’ yang normal. Bahkan sejak manusia tersebut baru saja dilahirkan ia sudah secara otomatis menjadi sebuah cell – cell energy baru bagi ‘makhluk’ tersebut. Sebuah gambaran yang kelihatanya sangat absurd dan nggak masuk akal bahwa sebuah mesin dapat begitu mengontrol hidup manusia di planet ini.

Dare to Dream.

matrix43_resize.jpgBerani bermimpi?. Bagi sebagian manusia – manusia Indonesia kata – kata ini pasti suatu hal yang wajar, tapi bagi sebagian yang lainya berani bermimpi saja sudah suatu kemewahan. Kita sebenarnya merupakan bagian – bagian yang beruntung dari manusia – manusia Indonesia, memperolah akses informasi baik melalui Internet dan sebagainya. Tapi bagi sebagian manusia Indonesia ini semua bagai di awang – awang, pernahkan berpikir bahwa kita ini termasuk orang yang beruntung dan bersyukur kepada Tuhan atas keberuntungan itu?

Itulah kenapa Morpheus (The gods of dreams) berkata kepada Neo, “Pilihlah ditantara dua kapsul ini? Salah satunya tidak berefek apapun, tapi kalau kau ingin melihat seuatu kebenaran maka pilihlah kapsul yang satunya?” begitulah kira – kira Morpheus berkata kepada Neo. Dan kembali Morpheus menekankan kepada Neo agar berpikir dahulu sebelum menentukan pilihannya, “pikirlah lagi sebelum memilih salah satunya!”.

matrix04_resize.jpgBerani bermimpi saja merupakan suatu langkah maju, ditengah dunia yang menglobal dan mesin – mesin kapital besar yang memanfaatkan./memenjarakan kemerdekaan kita, hanya menjadikan manusia – manusia tidak lebih hanya sekedar bahan bakar, sumber energy tanpa batas yang nggak melihat sisi kemanusian.

Okelah mungkin perang dingin sudah usai, perang antara idiologi tersebut nggak dimenangkan oleh salah satunya, itu hanya hukum rimba. Keduanya bukan yang terbaik, si pemenang adalah yang lebih kuat, ya .. hanya lebih kuat tapi bukan yang terbaik. Yang dapat dipilih secara naluriah. Yang satu menganggap bahwa manusia harus sederajat, equal, karena itu diciptakan suatu ‘sistem’ buat menghilangkan sekat – sekat dengan cara yang ‘memaksa’ manusia – manusia yang hidup dalam sistem itu untuk mematuhinya. Manusia – manusia nggak lebih hanya seperti mesin2 yang ‘dingin’ gak punya emosi.

Yang satunya lagi membiarkan kebebasan, bahkan kebabasan tersebut begitu bebasnya sampai dapat menyisihkan kesadaran sosial. Menjadikan pribadi – pribadi ‘Paman Gober’ menumpuk kekayaan, sebesar – besarnya tanpa memperhatikan lingkungan sosialnya. Semua yang menjadi ukuran keberhasilan adalah kaya, besar dan banyaknya, bukan arti dan faedah kita bagi lingkungan sekitar.

Kebebasan sangatlah penting tapi, haruskah itu melanggar hak asasi. Kedua – duanya punya potensi melangkahi itu, walaupun salah satunya berpotensi untuk luput dari pengamatan mata kita yang lugu. Mungkin perlu sebuah castatopic seperti pada kitab2 Ilahi yang dapat memecahkan ego kita dan menyadarkan kemanusiaan kita.

Dunia yang digambarkan oleh The Matrix memang sangat mengerikan, manusia yang tidak lagi mempunyai esksistensi atas tubuhnya sendiri. Tergilas dan terpasung oleh deru mesin – mesin ‘kapital’ dan calon – calon tiran masa depan yang menciptakan sistem2 yang melupakan kemanusiaan.

Kadang gue merasa nggak pernah cukup dengan 24 jam saja, waktu bagi gw kadang terasa begitu sedikitt. Belum banyak yang bisa gw lakukan, terasa menyiakan waktu yang begitu sempit. 24 Jam terasa begitu cepat berlalu, menit-menit dan detik yang kadang serasa disiakan begitu saja. Padahal waktu tersebut nggak akan pernah kembali. Setiap detik begitu berarti tapi seperti lepas mengalir nggak kepegang seperti aliran air yang konstan nggak pernah berhenti, saking konstannya kita nggak menyadari akan air maupun alirannya seakan hal yang wajar saja.

Kita nggak menghargainya, lupa berterimakasih hal yang begitu kecil tapi sangat berarti. Sesuatu kadang dapat mengacaukan pandangan kita tentang sesuatu yang besar. Yang utuh, nggak hanya dipermukaan. Bukan repihan – repihan, remah kecil yang mengganggu. Suatu permintaan maaf bisakah cukup? Gw kadang merasa tenggelam dalam lautan, terus tenggelam karena suatu yang memberatkan ke dasar samudra yang kelam, entah siapa yang mau peduli.

Small hours, yang bisa berarti seluruh kehidupan, wasted karena luput melihatnya, luput menyapa dan memaafkan ataupun minta maaf. Lingkaran itu belumlah utuh karena sesuatu hal yang ‘kecil’ yang hilang. Mungkin karena kekhilafan, menyadari terlambat. “Hai….terima kasih”, “Maaf”, “Tolong”, “Saya memaafkanmu”, membiarkan prasangka memenuhi pikiaran, sampai hal – hal yang berarti menjadi sirna, menjadi nggak penting.

Gw juga menyadari mungkin telah menulisakan beberapa hal, yang (sangat) bodoh pada blog akhir – akhir ini. Atau juga mungkin karena kegoblokkan gw, menulisan sesuatu yang naif dan goblok buat ngambarin sesuatu yang ada dalam benak gw. Yah, mungkin itu karena gw kurang kreatif, tapi memang gw akui semua kegoblogkan gw. Tapi gw tetap mau belajar, tulisan – tulisan gw sebenarnya dapat dirangkum dalam sebuah ‘tag besar’ yaitu belajar menulis. Gw menolak ‘mati’, ‘mati’ disini bukanlah suatu yang yang lateral. Gw merasa ada suatu hal yang lebih mengerikan dari sekedar kematian.

Matinya pikiran dan nurani kita sebelum kematian itu sendiri. Itulah kenapa gw menuliskan tentang Stephen Hawking. Walaupun tubuh kita mungkin sudah nggak bisa bergerak tapi, jangan sampai pikiran dan nurani kita yang masih hidup ikut ‘mati’. Gw menganggap hal itu (mungkin) suatu yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri.

Gue paham tulisan bisa lebih tajam dari apapun, seperti sebuah peluru tapi bukanlah sembarang peluru seperti sebuah peluru hollow point setelah ditembakan ia bebas lepas nggak seperti peluru biasa yang menghancurkan tulang, daging dan jaringan. Ia pecah mandiri menjadi serpihan – serpihan fragment kecil, tiap fragment dapat berada di ruang dan waktu tersendiri di hati dan pikiran seseorang. Pecahan – pecahan itu nggak lagi terikat ia bebas, mendekontruksi dan manghancurkan kebekuan pemikiran kita. Tapi fragment – fragment itu juga bersifat ambigu, mempunyai kecenderungan desktuktif atau konstruktif, kadang dapat membuka dan mendekonstuksi pemikiran seseorang, dapat pula menjadi perusak ia meracuni pemikiran seseorang yang berpikiran sempit.

Happy Birthday

Daripada menunggu tulisan gw ‘matang’ lebih baik gw menuliskan sesuatu yang ‘setengah matang’ saja ke dalam blog gw. Sungguh bodoh kalau berpikir blog adalah suatu yang fixed yang nggak bisa dirubah padahal pemikiran manusia belajar dari apa yang dilihat, dengar dan rasakan. Jadi gw akan mempost tulisan – tulisan gw yang masih mentah, lelah menunggu tulisan – tulisan itu ‘matang’ dari oven pikiran gw. Jadi gw akan mempostkan tulisan gw yang masih dalam bentuk mentah (yang sisanya mungkin masih ada dalam benak gw) biarlah menjadi ‘matang’ dengan sendirinya, gw akan selalu mengedit tulisan gw.