14 jam sebelum…

Bedil itu telah menyalak. Mengeluarkan pelurunya, sebait sepi. Yang telah ditembakkan dari proyetilnya menuju ke hati yang sunyi. Ditengah keheningan malam yang menyesakkan. Seleret langkah di keheningan malam, setiap langkahnya berat oleh beban. Nafasnya berdesakkan, mencoba mengusir dingin yang kelam. Dalam setiap langkahnya terkandung sederet untaian harap. Beberapa jam setelah ini akan tumbuh di ufuk timur sang mentari. Sebuah harapan akan kehangatan, yang dituang kedalam cangkir kopi. Aku pun menghisap hawa dingin itu lagi.

“Duh puanku, aku berjalan disini. Duh Gusti apa artinya ini?”

***

Dalam desah nafasnya, ia masih terjaga. Dalam gelap yang sunyi. Ngelangut. Menghantarkan kebekuan yang terbungkus dalam angin malam. Asap yang dingin mendesak oksigen di dalam paru. Bertarung dalam kabut dari dirinya. Yang menggelayut, tertiup melayang tak tentu, gelisah. Kami saling diam, suntuk dalam pikiran pribadi yang jengah. Merayap menggelayuti dinding yang kelam, bersatu dalam lembab dan sepi. Berarak pulang menuju ke peraduan pribadi. Pikiran yang melayang tak tentu.

Tapi kita tetap diam. Bagaimana dengan dirimu? Masih berbaring, menutup matamu. Diam, suntuk dengan pikiranmu sendiri. Ruangan disini terasa sesak ya? aku membatin. Tapi kau tetap membisu. Aku tahu kau masih terjaga, tak tidur. Karena desah nafasmu yang tak teratur, ia belum menjadi teratur seperti kehendakmu. Tapi tiba – tiba seperti terdengar sebuah bisikan yang lirih di tengah wengi ini.

“Aku tak mengerti, kenapa kau hanya diam?”

Tapi tak terdengar suara apapun, apalagi lagu. Hanya desahan nafas yang mencoba untuk teratur. Kamu masih disitu, nggak mengharap disentuh. Tapi aku juga mengerti, sebuah sentuhan akan memusnahkan semuanya. Teringat ketika kau masih kecil dulu, aku biasa bermain jetungan dengamu. Ini seperti menemukanmu bersembunyi di dalam gelap. Tapi kau masih ingin sembunyi.

Tapi kenapa begitu terburu? Sedangkan sebelumnya kutahu dan pernah kudengar tentang kenginanmu untuk berjalan denganku. Perjalanan yang mengasyikkan, rendezvous-mu dengan duniamu itu, telah membuatmu berhenti berpetualang denganku? Padahal disini masih ada jalan yang terus mengkerucut. Masih panjang, menuju ke bulatan mentari yang terbenam disitu.

Ini sudah 8 jam sebelum…

Aku mau menyelesaikan tugasku, mengetik disitu. Aku berjalan menuju meja di sudut dengan penerangan lampu duduk yang lembut. Membuka laptopku, mencoba mengetikkan sesuatu di keyboard. Sebait puisi, sajak, prosa, frase, kalimat, kata, huruf. Tapi tidak dapat kulakukan. Hanya sebaris huruf ini saja yang telah memenuhi display komputer.

Apakah Ayah dan Ibu telah mendorongmu? Tapi tidak ini semua memang benar dan memang harus begitu. Atau bukan? Kenapa aku telah menjadi sentimentil. Aku berjalan ke meja makan, membuat kopi kental yang hangat bagi diriku sendiri. Mengaduk kopi instan kental itu di cangkir, melarutkan serbuk – serbuk hitam itu menjadi pekat. Larut bersama pikiranku, masih berasap. Panas. Asap itu mengepul karena udara yang dingin malam ini. Seperti pikiranku yang dipenuhi kabut yang tak kumengerti.

Aku menyeruputnya, panas!. Masih panas, membakar ujung lidahku. Kutiup sebentar sekedar menurunkan suhunya, tapi rasanya sudah lain. Karena lidahku yang tersentuh oleh kopi panas itu, mematikan beberapa indera pengecapku. Tapi itu akan tumbuh lagi beberapa waktu, batinku.

Mungkin aku cemburu tapi mungkin juga bukan. O… puanku dimana jiwa kanakmu itu saat ini. Ingin rasanya kujangkau dirimu yang itu. Kamu tahu jiwa kanak kita. Terkubur begitu jauh sampai terlupa. Disitu terdapat diri kita yang masih murni. Sesekali kita perlu terjatuh ke pangkuan diri kita itu. Jiwa kanak yang murni, yang melihat segalanya dengan bening. Beranikan kamu mengambil resiko itu?

Kuingin berdialog dengan jiwamu itu, membangkitkanya. Ia mungkin seharusnya bangkit malam ini, untuk menyaingi dirimu. Ya…dirimu, yang butuh jiwa yang murni itu. Antara hitam dan putih ia menjadi dirimu. Tanpanya kau akan selalu hampa, karena dia adalah kamu. Yang telah kau kalahkan dahulu ketika kau merasa bahwa dirimu yang itu telah usang. Tapi kau kini merasa hampa karena dia itu adalah deru air laut yang bergelora bagi jiwamu. Tapi kau menolaknya.

Ketika itu kau berumur 9 tahun dan tiba – tiba semuanya terjadi. Dunia kecil dalam dirimu. Dunia (mikrokosmis) yang imature, tapi ada dan terus tumbuh. Bersamanya kau menyebutnya kedewasaan. Semuanya menjadi tidak penting lagi bukan. Ketika aku gandeng tanganmu saat itu mungkin akan terasa lain. Karena kami lelaki tidak mengerti itu.

Tapi itu memang seharusnya. Jangan berprasangka buruk, ini tentang perbuatan kita menerobos hujan. Tanpa memperdulikan tentang flu ataupun demam yang mungkin kita alami sesudahnya, ketika kecil.

Tapi dalam e-mail-mu yang terakhir itu. Kau berkata tentang perjalanan yang ingin kaulakukan. Sial!. Ironis sekali kenapa itu harus terjadi. aku tahu bahwa ini suatu yang sulit. Itulah mengapa kau sengaja ‘melepas’ semuanya, tapi sebenarnya apakah itu perbuatan yang adil? Kau tidak ingin mengikatku, begitu juga dengan diriku.

Maka kita berjalan masing – masing saja dalam ‘diam’. Diam yang mengganggu pikiran kita, seperti mengerti tapi juga tak mengerti. Tapi tentu saja hati tidak bisa di tipu. Hati kita tetap berbohong, tapi dengan e-mail-mu itu, apakah kau ingin ‘bicara’.

Bagaimana kita medesakkan ‘diam’ kita. Menjerembabkannya seperti seonggok sampah yang patut dibuang. Dan kuajak kamu minum kopi di ujung avenue itu atau dimanapun kau mau ber-rendezvous denganku. Dan akan kubisikkan kata itu ke dalam cuping kupingmu yang mungil, ‘lepaslah, lepaslah jiwa kanakmu itu’

Tapi begitulah, dan kau tersenyum. Sambil menyicip kopimu, sepotong croissant tergeletak di dekat cangkir kopimu. Mademoiselle ada sesuatu yang indah di senyummu, itu yang tersembunyi di sudut cangkir kopi itu. Dan kau tersenyum kecil (lagi). Kubisikkan lagi hal itu. Kata yang tak kumengerti dari mana. ‘Aku tidak mengerti, tapi maukah kau berbagi sesuatu di ujung cangkir kopi itu’.

Tapi kamu telah hilang dan tiba – tiba kamu menjadi matryoshka, kubuka kamu yang ini tapi selalu ada dirimu yang lebih kecil, begitu rumit. Lagi dan lagi. Itu terus terjadi sampai menjadi sebiji atom atau apapun elemen terkecil benda yang belum ketemu. Dan tiba – tiba sebiji atom telah melejit dan mengenai atom yang lain, memecahkan atom itu dan menembakkan elemen yang mengenai atom yang lainnya juga. Lagi (dan lagi), menyebabkan reaksi berantai.

Udara tiba – tiba berubah, aku tidak tahu kenapa. Ia telah terkontaminasi oleh ledakan nuklir (kata?) yang tiba – tiba itu mungkin. Dan dirimu ada di dalam benakku, berlari diantara neuron – neuron di sel – sel kelabuku. Melompat – lompat dan berlari. Aku berlari mengejarmu dan terus mengejarmu melompati sel – sel kelabu itu, melompati ujung – ujung neuron itu, menjadi plasma. Aliran energi yang murni, mengaliri cakra – cakra di tubuhku dan mengaktifkannya.

“Hati, jiwa dan pikiranmu cukupkah itu…”

ini sudah 1 jam sebelum…

Lirih, kudengar bisikmu. ‘Aku harus pergi’. Aku bisa mengerti itu. Di dalam keramaian komuter itu kulihat dirimu pergi. Menyusup di situ, menjadi energi yang tak kasat mata. Kau telah pergi. Tapi energimu masih tertinggal disini, duduk di bangku didepanku sambil meminum secangkir kopi yang pahit itu. Tanpa sisa.

Dalam proyektorMu Tuhan, tak kutemukan diriku, aku telah menjadi netra? Tapi bukankan episode ini belum usai? Akupun bangkit pergi menyusup di keramaian komuter itu menyusulmu.

PS:Dengan Apologi,apologi,apologi (tiga kali). Saya terinspirasi menulis. Hanya sekedar tulisan yang gak berarti 😀

Iklan