365335823_c2673d0a61.jpg Kesadaranku mungkin telah hilang, bagai mendaki gunung yang terjal, aku melorot dengan cepat menuruni lereng yang terjal. Keringat bercucuran menetes membentuk aliran air laut yang asin yang membekas di kemeja disekitar ketiakku. Semua itu seperti nafasku yang satu dua, antara mendaki dan menuruni bukit itu dengan deras. Terbit dan ada seperti matahari panas dan menyengat menimbulkan bau apak yang menipak di kemejaku.

Antara gelap dan terang, berkedip kelopak mataku. Tetes asin kristal – kristal sekresi, keringat menetes memasuki mulutku. Asin, garam yang menegenai bibir pecahku yang berdarah. Di jotos dengan keras, membiru, semua tanpa recana kujilat sedikit dengan lidahku asin dan anyir. Plok! Sebuah tamparan mengenai pipiku. Kebas pipiku terkena, sakit dan menjadi keras. Duak! Jotosan yang telak mengenai bibirku, asin dan anyir, keringat masuk di mulutku mengelontor menuju kerongkongan dan lambungku.

Surga dan Neraka yang bagai tipis jaraknya. Seperti seorang yang menunggu di tengah garis, kiri atau kanan?. Lampu pijar yang maju mundur menimbulkan bayang yang membesar dan mengecil bagai iblis yang menggoda manusia dengan kenikmatan menuju neraka jahanam. Siapa yang tertawa? Iblis. Hmm… tapi itu manusia. Cuih… seseorang meludah mengenai kakiku. Bagai pendulum, semua itu berima, pukulan dan tendangan yang ritmis.

Ini siang atau malam? Tidak penting karena aku berada di ruang kedap waktu. Yang nggak real tapi nyata. Menyisip di antara suatu yang real hingga manusia – manusia nggak menyadari bahwa itu ada. Di diamkan bagai anjing di tengah kerumunan manusia komuter yang berjalan di pagi hari dengan kereta menuju kota, yang tidak peduli dengan seekor anjing yang keluyurun sedirian mengais sampah dan makan sisa. Tidak cukup penting bagi kehidupan yang statis dan ajeg, nggak cukup penting buat mengguncang kesadaran yang sengaja diciptakan. Dengan mengatas namakan kestabilan.

Pikiaranku sesaat bagai debuai semilir angin. Aneh tidak lagi terasa sakit itu, setelah beberapa kali otakku mengirimkan seuatu zat yang menyebabkan itu semua terasa bagai sebuah sensasi sensual saja. Terasa nikmat bahkan terasa erotis. Nalarku dihembus badai huricane, kabur, mana nyata mana maya. Sekerjap bening tapi sekerjap kabur. Lambungku yang kosong terasa sakit oleh asam, asin dan anyir.

Siapa Senor? Dia bertanya. Siapa?. Ya Siapa Senor? Dengan siapa kamu merencanakan itu semua?. Merencanakan apa?. Keparat dan bak – buk ditambah tendangan. Maaf saya tidak mengerti Senor. Dasar bebal, keledai, babi, anjing – anjing buduk tak ber-Tuhan. Dan di belakang itu tidak sunyi, terdengar hinggar bingar suara music dance yang menghentak di mansion itu. Mengaburkan apa yang terjadi di dalamnya. Tapi orang – orang tidak bisa ditipu. Bagai anjing mereka bisa mecium bau sosis dan daging steak panggang ribuan kilometer dari sumbernya. Tapi mereka tidak berdaya, tempat itu merupakan ‘pesta’ private yang nggak mengundang siapapun kecuali hantu lapar dan arwah yang nggak punya nama, tempat dan tanggal lahir bahkan nisan.

Selamat anda telah diundang di pesta ini! Segera siapkan nyali anda kalau anda sudah tahu akan diundang. Sudah dapat undangan? undangan yang segera menjadi gosong dan hitam begitu kau buka. Segeralah bawa bekal anda segala amal langit dan bumi anda. Ciumlah Ibu anda, bagi yang sudah punya kekasih, istri, suami atau keluarga segeralah cium mereka. Jangalah janjikan apapun pada mereka yang akan membuat mereka cengeng, karena itu berilah mereka kartu nama saja beserta tulisan ‘I love you’ atau sejenisnya. Dan tabahkanlah hati mereka karena mereka tidak akan bisa menemukan batu epigraph yang ditaman di tanah berumput yang suci itu.

Tanah berumput yang diatasnya tumbuh, epigraph dari batu dan pohon – pohon kasih sayang para keluarga. Yang tumbuh diatasnya juga bunga Daffodil yang selalu mekar di musim semi. Di situ terdapat sebuah rumah dengan ranjang yang hangat dimusim dingin buat mereka yang tinggal. Tidak kami tidak akan mendapat itu, hanya ada para gagak dan nazar yang akan membawa remah – remah debu ditemani cacing dan belatung. Tapi kami akan menjadi angin hangat yang menghembuskan angin musim semi yang akan membuat mekarnya bunga – bunga di taman anak – anak kami. Anak – anak dari para debu dan tanah yang berterbangan diterpa angin musim kering sebuah negara yang kerontang.

Ibu jangan menagis setelah Ayah pergi para durjana itu hanya akan dapat membawa bayangan saja tapi tidak jiwa kami, spirit kami akan selalu ada pada jahitan dan rajutan kain kebajikan yang selalu karajut dan kaujahit lagi apa bila bolong. Baju – baju hangat buat anak – anak kami para manusia – manusia debu dan tanah. Dan diluar hujanpun semakin deras, titiknya memecah kehangatan hati setiap insan ber-Tuhan. Karena peristiwa yang terjadi akan dicatat pada lembaran – lembaran kelabu dengan tinta darah kami para hantu lapar tak punya nama dan tinggalah epigraph itu tergelatak dihati anak kami.

***

Senor! Kemana kau bawa anak kami, anak yang lahir dari rahim yang kau kehendaki akan menjadi awal bukan akhir. Apakah ini akhir? Akhir dari mimpi masa depanmu. Masa depan negeri ini. Kumohon jangan, biarlah kami para Ibu yang pergi saja memenuhi undanganmu. Kami sudah tua dan mungkin memang butuh fiesta dan tentu saja siesta yang panjang untuk bertemu denganNya.

Mereka masih lama dan sadarkah kau Senor! Mereka itu adalah sempalan dari dirimu sendiri. Secuil daging dari jantung dan hati seandainya kamu masih punya itu. Tapi secuil daging itupun mungkin telah kaumakan, tapi masihkah ada sedikit sisa disana, di piring makanmu. Segenggam gandum dari tanah – tanah kami yang suci, yang tumbuh menguning dari pertanian kami. Kemudian kau rontokan dan kau jadikan ia sarapan pagimu yang hangat.

Karena itu janganlah kami segerombolan manusia kalah ini yang telah menjadi alas kakimu tersingkir oleh deru kalashnikovmu. Ketika itu pagi – pagi buta sekumpulan serdadu menyerbu, dalam sepoi – sepoi angin subuh kudengar bisik mereka. ‘caravan kematian’ kata mereka, sebuah caravan?. Kami sebagai sekumpulan debu dan tanah tidak mengerti. Yang kami mengerti adalah angin itu tiba – tiba berubah, entahlah apa yang kami rasakan. Sedangkan sang angin sebelumnya belum selesai berpamitan kepada para biarawan, ia telah kau usir pergi sebelum para biarawan itu mengucapkan sakramennya kepada sang raja.

Dengan Abrakadabra dan Hocus Pocus, kau sihir para pendeta itu. Dan kami para manusia debu dan tanah merasa kecut, sebuah kelebat yang dilihat oleh Mozart. Sesosok lelaki dengan jubah dan kerudung hitam yang dilihatnya sebelum ia menciptakan requemnya yang syahdu. Dan tiba – tiba salak anjing – anjing, menjilat pantat – pantat dan muka si pahlawan kesiangan. Dengan tanda pangkat dari kaleng rombeng yang segera kau sematkan sebagai tanda ketaatan. Menyihir mereka dengan lullaby yang indah menuju ranjang peraduan mereka di rumah.

Dan perapian di istana itu sekarang terbakar. Terbakar oleh arang, arang dari tulang tengkorak yang kau ambil dari catacomb. Catacomb yang kaubuat di hati kami para Ibu. Asapnya membumbung tinggi menyebarkan jerebu yang kelak pasti menyelimuti hati setiap insan negeri ini. Dan para liliput yang tiba – tiba menjadi raksasa telah mecengkeram kami semua dengan rasa itu. Sebuah bayangan utopis tentang sesuap gandum dan sepotong kue ulang tahun bagi setiap makhluk negeri.

Senor sekali lagi kumohon jangan bawa anak kami. Ia hanya menirukan suara melilit dari perut kosong. Tiada berparasangka dan dusta, coba tanyakanlah hal itu pada kamu. Iya diri kamu yang barusan ada tapi telah kaubunuh. Itu proyektilnya masih ada, karena kau dulu kami manusia debu dan tanah sebelum kau bunuh kamu.

Tapi sia – sia dan malam telah larut, menyisakan sepotong bulan tersaput gelap. Awan yang berarak sejak subuh tadi, membawa angin yang salah musim. Sebagai pertanda tentang apa yang terjadi. Dan kami para Ibu telah kosong, tiada lagi air dari mata kami. Air itu telah jatuh menjadi hujan malam ini yang mengirimkan kebekuan kepada para gelandangan yang telanjang. Ia telah menjadi gelandangan hari ini, terusir, terlunta dan sia. Berjalan diantara ratapan perih kami para Ibu yang berharap secuil darah dan daging kami kembali.

Nak relakanlah suamimu itu. Ia telah pergi bersama angin, rawatlah cucuku agar nanti ia bisa menerbangkan layangan itu. Biarkan ia bermain layang – layang di tanah lapang itu nak, layangan itu akan mengantar celoteh cucuku kepada burung merpati. Burung merpati yang membawa setangkai cemara itu, yang akan mengantarkan celoteh cucuku kepada sang angin.

Kini tinggalah kemeja anakku itu, kemeja rombeng yang sudah sobek disana – sini. Biarlah ia menjadi perca, akan kutisik dan kujahit satu persatu menjadi selimut hangat untukmu anakku. Dan lihatlah di dalamnya anakku, ada sepotong lukisan. Lukisan yang mengisahkan tentang negeri kami, yang dilukis dengan warna merah. Biarlah ia mengabarkan kepada setiap makhluk di dunia tentang kau anakku. Tentang manusia debu dan tanah yang telah menjadi angin musim semi bagi kami.

***

Sayangku aku mengerti kenapa kau menagis. Tidak bukan karena kesedihan. Tetes air matamu itu telah jatuh dan menjadi sungai. Sungai yang akan menghanyutkan segala pedih perih ini menuju ke lautan itu. Lautan yang telah menampung segalanya dengan rela. Karena kami pun telah di relakan olehmu dan juga oleh anak – anakku yang telah kau lahirkan dari rahimmu.

Kami telah purna, telah usai berpesta. Tinggalah sisa – sisa semua yang harus disingkirkan kedalam tong sampah. Ibu tolong jagalah mereka Bu. Jagalah mereka cucumu agar mereka dapat leluasa bermain layang – layang di tanah berumput itu Bu. Dan kalau kau merasakan angin hangat musim semi, yakinlah Bu. Bahwa semua kebohongan akan musnah, ia telah tertiup badai huricane menuju ke lautan pasifik atau mungkin membeku di daratan patagonia yang dingin.

Kala itu, Santiago, Chile, September 11 1973

220807 1:18AM

Iklan