23candi-drupadi-stripped.jpgKubertemu kau saat itu di kampus. Sejak saat itu nggak tahu kenapa kau nggak bisa lepas dari benakku. Entah kekuatan apa yang membuatku ingin menyapamu saat itu.

“Hai…hari yang cerah ya!” ugh… benar – benar kata – kata yang klise nggak tahu kenapa ini yang keluar dari mulutku.

“Hmm…. ya hari yang cerah” katamu sambil tersenyum entah apa maksud senyummu dan kenapa kau merespon kataku yang jelas senyummu membuatku berdebar. Itulah pertemuanku pertama kali denganmu, akupun berkenalan denganmu, Drupadi katamu namamu membalas jabat tanganku, entah kenapa ada rasa mengalir yang aneh di dalam diriku. Sejak saat itu aku merasa nggak bisa jauh darimu Drup!.

Tapi kenapa hal itu harus terjadi, kenapa kau harus bertemu dengan adikku, Sial! Sejak saat itu aku merasa ada sesuatu diantara kamu dan adikku. Padahal kau tahu kau sedang bersamaku saat itu. Kenapa segalanya menjadi complicated seperti ini. Beberapa kali kau berpaling, tapi aku selalu memaafkanmu, Drupadi!. Seakan kau memang ditakdirkan dewata untuk memiliki sesuatu yang dapat membuat kami para lelaki begitu memaafkanmu.

Tapi bukankah Arjuna sudah memilik beberapa istri, ia memang lebih tampan dariku. Tapi ia adikku dan kenyataan itu menamparku. Sucks! Ia memang titisan Laskmana ksatria yang ditakdirkan hanya mejadi side-kick dari Rama, hingga dewata menyaksikan kesetiaan dan ketulusannya menjadikan atmanya diselamatkan dewata hingga kelak menitis menjadi ksatria pemanah yang paling rupawan dari keluarga pandawa. Sang Dananjaya, Begawan Ciptaning, Sang Janaka sang ksatria yang memang seakan ditakdirkan dewata untuk mempunyai banyak perempuan sebagai istri disisinya.

Aku tahu bahwa aku memang salah telah mempertaruhkanmu dalam permainan poker, tapi kenapa saat itu tidak ada diantara para ksatria saudaraku yang keberatan. Lihatlah, Werkudara sang ksatria paling perkasa, ia hanya berdiri diam dan kau Arjuna kau hanya tertunduk dan diam membisu, mana kesaktianmu, mana semua gaman pemberian dewata yang kau peroleh dari tapa bratamu yang gentur itu. Bahkan si kembar Nakula dan Sadewa adik tiriku bergeming melihat semua deal yang dilakukan dalam permainan itu. Ternyata kau memang sudah mengatur itu semua, permaianan poker yang lugu itu.

Bahkan ternyata semua ini hanya rekayasamu, untuk (lagi –lagi) mengelabui mataku yang lugu ini, ternyata kau memang mempunyai affair dengan sulung kurawa Duryudana. Kenapa aku tidak menyadarinya saat kulihat kau berjalan dengannya suatu kali, kau hanya berkata maaf dan berkata bahwa semua itu nggak serius. “Aku hanya mencintaimu Yud!”, begitu katamu ketika itu. Entah berapa kali kaulakukan itu. Dan aku mempercayaimu, aku lagi – lagi kaubuai dengan segala bujuk rayumu.

Suatu kali ketika kulihat kau berjalan dengan adikku Arjuna, begitu panas hatiku. Rasanya gelegak magma di hatiku ini ingin tumpah dan menyembur menjadi menjadi lava yang sangat panas dan menhancurkan sekitarnya. “Ada apa kau dengan adikku Drup? Tolong jawablah!” , aku bertanya ketika itu. Lagi – lagi dengan bujuk rayumu, kaukecup bibirku dengan hangatnya sampai aku melupakan semua yang terjadi saat itu. “Nggak ada apa – apa kakang, kau tahu dia adalah adikmu. Aku hanya menerima kebaikan adikmu yang bersedia mengantarku saat itu. Itu saja Yud”, kau tersenyum, senyum yang sangat manis. “Kau tetap milikku Yud”, katamu sambil mengecup bibirku dengan mesra.

Seperti supermasive black hole kau hisap seisi galaksi dengan gravitasimu yang raksasa. Bahkan cahaya – cahaya begitu tidak berdaya terhisap oleh kekuatan gravitasimu yang maha raksasa. Seakan memang kabutuhkan semua cahaya itu hanya buat dirimu sendiri, ya.. hanya dirimu seorang. Suatu yang seakan memang ditakdirkan Tuhan untuk itu, tapi ingatlah pada waktunya nanti segala hukum itu akan musnah. Musnah oleh yang Maha Kuasa karena segalanya memang hanya tunduk pada kuasaNya.

Kenapa semuanya harus berpusing padamu, seakan – akan kau adalah sebuah bintang raksasa dari sebuah tata surya yang memang patut untuk para planet berpusing kepadamu. Kenapa kau selalu yang menjadi pusat perhatian dari semua ini, seakan – akan para planet itu hanya mengikuti naluri instingtif mereka yang sudah ada sejak lama hingga para planet itu tunduk saja mengitari segala permainanmu yang terkesan lugu.

“Kau tahu Yud, aku suka sekali memandang langit malam”

“Langit…bukan bintang dan segala kerlap – kerlipnya, karena kau tahu aku merasa bahwa malam menyelimuti terjadi karena seorang ksatria yang bertiwikrama dan menjadi Buta raksasa sebesar Triloka Buwana telah memakan matahari dan memuntahkannya lagi ketika subuh”. Katamu sambil berbaring disampingku kala itu sambil melihat langit.

“Tapi bukankah matahari telah membuat bumi menjadi hangat oleh sinarnya atau apakah kau tidak suka melihat birunya langit?”, kataku ketika itu.

“Tapi matahari terlalu sombong ia bersinar hingga membuat kita nggak bisa melihat keindaahan sinar bintang, bulan dan berbagai benda langit lainnya ia terlalu arogan” , katamu ketika itu.

Itulah perkataanmu saat itu, nggak tahulah mungkin semua itu berhubungan dengan masa lalumu, masa lalu yang selalu kau tekan. Tapi aku nggak sanggup lagi Drup!, kenapa harus dia. Andai ia laki – laki lainnya yang kau permainkan aku masih mengerti, entah mengapa aku bisa memahami apa yang kamu lakukan dengan laki – laki lainnya.

Tapi kenapa harus Arjuna, ia sudah punya Sembadra, Srikandi dan istri – istrinya yang lain. Bahkan aku dapat memahami tentang percintaanmu semalam dengan Werkudara dan si kembar Nakula-Sadewa, mereka hanya pengisi waktumu sementara saja. Ingin kukatankan bahwa aku bisa ber-tiwikrama Drup!. Akan kupompa segala nafsuku, hingga aku menjadi raksasa sebesar Trilokabuwana.

Akan kumakan mentari, biarlah kurasakan panasnya di dalam tubuhku. Biarlah ia melelehkan tubuhku, agar kau bisa melihat langit malam, bintang, bulan. Akan kelepaskan mentari sebelum subuh datang. Hingga bisa segera kau basuh tubuhmu dengan aliran air wudhlu yang suci menyucikan jiwa dan ragamu, juga setiap insan manusia yang ingin bertemu dengan Sang Pencipta. Bukankah kau sudah melihatku hampir saja bertiwikrama? tapi kemudian aku menekannya. Kau tahu Drup!. Aku nggak ingin bertiwikrama karena aku ingin semuanya benar Drup, bukan tentang nafsu atau amarah itu sendiri tapi sesuatu yang lebih suci.

Maka seperti sebuah garis, masa depan bukanlah suatu yang linier. Ia tergantung berbagai variable, ia suatu yang ­non-linier kamu tahu tentang itu Drup!. Kita bisa menciptakan masa depan kita sendiri, sebuah alternate universe dimana kau dan aku berada dalamnya, kamu bebas menetukan sendiri endingnya. Kita bisa menunggu bulan berwarna merah dimana seekor bangau akan mengetuk pintu rumah kita dan mengantar seorang bayi yang mungil.

Tapi mengapa kau melakukannya Drup, dengan adikku?

Sampah!

Semua ini sudah terjadi, aku sudah patah Drup!. Dan ketika kau mengajakku untuk berperang di padang Kuru, perang ‘suci’mu, ya.. perang yang kau anggap suci karena penistaan yang memang sudah kau restui sendiri. Maaf aku nggak sanggup lagi Drup!. Ini bukan perangku.

“Maaf Drup!”

“Sampai bertemu lagi” bisikku.

Aku akan terus berjalan menelusuri jalanku sendiri, biarlah pengembaraan ini mematangkanku. Who knows maybe kita akan bertemu. Aku akan menelusuri angin, berjalan ditapakku sendiri biarlah Tuhan yang menentukan arahku. Aku masih percaya padaNya karena Ia yang menciptakan sang garis itu, bukan Stephen Hawking.


4:38 PM 150707

gambar dari dan hak cipta http://www.seasite.niu.edu/