Konsepsi Kumbakarna tentang Nasionalisme, negara dan bela negara sangat berbeda dengan Gunawan Wibisana. Siapa yang benar dan siapa yang salah? Entahlah kalau saya kedua – duanya benar tergantung gimana kita melihat dan kondisinya. Cerita ini sebenarnya berkait dengan ‘konsepsi’ tercipta dan lahirnya Rahwana, Sarpakenaka, Kumbakarna dan Gunawan Wibisana. Mereka semua masih bersaudara dari kerajaan Alengka.

Walaupun itu bisa di track back kepada kisah, ‘terciptanya’ Rahwana. Sosok Rahwana nggak tercipta dengan sendirinya. Termasuk kisah meninggalnya Rama dengan menyedihkan setelah menyiakan Shinta yang nggak pernah diceritakan. Konsepsi (pemikiran) Kumbakarna dan Wibisana tentang Nasionalisme yang sangat berbeda siapakah yang benar?

Menurutku keduanya nggak ada yang seratus persen benar atau bisa juga dikatakan keduanya nggak ada yang benar maupun salah. Semua itu tergantung kepada kondisi dan sudut pandang kita tentang misalnya nasionalisme dan kondisi negaranya.

Kumbakarna adalah sosok raksasa yang sangat menakutkan tapi dibalik sosoknya ternyata terdapat jiwa yang baik. Dapat dikatakan ini agak ironis dibalik tubuh raksasanya yang menakutkan ternyata terdapat budi yang baik. Ia lebih memilih tapa, dengan cara tidur di sebuah gua karena nggak mau berkompromi dengan kakaknya yang nggak mau di kritik tentang berbagai kebijakanya yang penuh angkara.

Wibisana adalah seorang Brahmana Ksatria, ia seorang cendikiawan. Ia lebih memilih untuk mencoba merubah sebuah sistem dengan kapandaianya. Ia mungkin akan mengkritisi berbagai kebijakan Rahwana kakaknya walaupun, kemudian hanya bisa diam karena nggak mampu untuk merubahnya. Maka ketika pada suatu titik pertemuannya dengan Hanoman mengaharuskan ia memilih untuk berpihak kepada Rama. Sebagian dari kita ada yang menganggapnya sebagai perbuatan pengecut.

Maka pilihan keduanya nggak bisa dikatakan benar atau salah. Ketika Kumbakarna ditanya oleh Rahwana dimana balas budi setelah bertahun hidup dan makan dari bumi Alengka dan rasa cinta tanah airnya setelah mengkritik perbuatan Rahwana. Ia memilih ‘merogoh’ kerongkonganya dan memuntahkan semua makanan yang pernah ia makan. Ia memberikan wejangan terkahir kepada Rahwana bahwa ia akan menepati janjinya, ia akan membela tanah airnya tapi bukan perbuatan kakaknya sebelum maju kemedan perang. Kumbakarna bukanlah seorang yang bodoh

Bagi beberapa orang tindakan Kumbakarna adalah tindakan seorang ksatria sejati yang membela tanah airnya. Tapi bagaimana kalau negara yang dia bela tersebut misalnya adalah negara Jerman di Perang Dunia kedua dapatkah kita sebut tindakannya tindakannya sebagai tindakan seorang patriot? Itulah kenapa (mungkin) Kumbakarna sudah menyadari bahwa dia akan dijadikan ‘martir’ tumbal bagi angkara murka Rahwana.

Gunawan Wibisana seorang ksatria cendikiawan ia lebih banyak menggunakan nalar dan pemikirannya untuk mengkoreksi pemerintahan Rahwana walaupun akhirnya lebih banyak diam dan menerima semua yang dilakukan kakaknya. Tapi sampai pada suatu waktu dimana ia nggak lagi bisa bertoleransi dengan tindakan kakaknya maka ia memutuskan untuk bergabung dengan Rama. Tentu saja menyisakan pertanyaan dimana rasa cinta tanah airnya, kenapa ia dengan tega menyerang dan menghancurkan tanah airnya sendiri.

Pada akhirnya memang keduanya menurut saya nggak bisa dikatakan benar atau salah, semua tergantung pada kondisi kita melihat Negara, tanah air, kebijakan pemimpinnya dan si pemimpin Negara tersebut.

Iklan