Kadang gue merasa nggak pernah cukup dengan 24 jam saja, waktu bagi gw kadang terasa begitu sedikitt. Belum banyak yang bisa gw lakukan, terasa menyiakan waktu yang begitu sempit. 24 Jam terasa begitu cepat berlalu, menit-menit dan detik yang kadang serasa disiakan begitu saja. Padahal waktu tersebut nggak akan pernah kembali. Setiap detik begitu berarti tapi seperti lepas mengalir nggak kepegang seperti aliran air yang konstan nggak pernah berhenti, saking konstannya kita nggak menyadari akan air maupun alirannya seakan hal yang wajar saja.

Kita nggak menghargainya, lupa berterimakasih hal yang begitu kecil tapi sangat berarti. Sesuatu kadang dapat mengacaukan pandangan kita tentang sesuatu yang besar. Yang utuh, nggak hanya dipermukaan. Bukan repihan – repihan, remah kecil yang mengganggu. Suatu permintaan maaf bisakah cukup? Gw kadang merasa tenggelam dalam lautan, terus tenggelam karena suatu yang memberatkan ke dasar samudra yang kelam, entah siapa yang mau peduli.

Small hours, yang bisa berarti seluruh kehidupan, wasted karena luput melihatnya, luput menyapa dan memaafkan ataupun minta maaf. Lingkaran itu belumlah utuh karena sesuatu hal yang ‘kecil’ yang hilang. Mungkin karena kekhilafan, menyadari terlambat. “Hai….terima kasih”, “Maaf”, “Tolong”, “Saya memaafkanmu”, membiarkan prasangka memenuhi pikiaran, sampai hal – hal yang berarti menjadi sirna, menjadi nggak penting.

Gw juga menyadari mungkin telah menulisakan beberapa hal, yang (sangat) bodoh pada blog akhir – akhir ini. Atau juga mungkin karena kegoblokkan gw, menulisan sesuatu yang naif dan goblok buat ngambarin sesuatu yang ada dalam benak gw. Yah, mungkin itu karena gw kurang kreatif, tapi memang gw akui semua kegoblogkan gw. Tapi gw tetap mau belajar, tulisan – tulisan gw sebenarnya dapat dirangkum dalam sebuah ‘tag besar’ yaitu belajar menulis. Gw menolak ‘mati’, ‘mati’ disini bukanlah suatu yang yang lateral. Gw merasa ada suatu hal yang lebih mengerikan dari sekedar kematian.

Matinya pikiran dan nurani kita sebelum kematian itu sendiri. Itulah kenapa gw menuliskan tentang Stephen Hawking. Walaupun tubuh kita mungkin sudah nggak bisa bergerak tapi, jangan sampai pikiran dan nurani kita yang masih hidup ikut ‘mati’. Gw menganggap hal itu (mungkin) suatu yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri.

Gue paham tulisan bisa lebih tajam dari apapun, seperti sebuah peluru tapi bukanlah sembarang peluru seperti sebuah peluru hollow point setelah ditembakan ia bebas lepas nggak seperti peluru biasa yang menghancurkan tulang, daging dan jaringan. Ia pecah mandiri menjadi serpihan – serpihan fragment kecil, tiap fragment dapat berada di ruang dan waktu tersendiri di hati dan pikiran seseorang. Pecahan – pecahan itu nggak lagi terikat ia bebas, mendekontruksi dan manghancurkan kebekuan pemikiran kita. Tapi fragment – fragment itu juga bersifat ambigu, mempunyai kecenderungan desktuktif atau konstruktif, kadang dapat membuka dan mendekonstuksi pemikiran seseorang, dapat pula menjadi perusak ia meracuni pemikiran seseorang yang berpikiran sempit.

Happy Birthday

Iklan