matrixreloaded50_resize1.jpg“What is The Matrix?”, pertanyaan yang diberikan oleh Morpheus kepada Neo. The Matrix mungkin ada yang melihat hanya sebuah film sci-fi biasa. Walaupun sebenarnya ada sebuah pemikiran (halah!) yang menarik didalamnya. The Matrix dalam movie sebenarnya adalah mesin yang betugas ‘menyelamatkan’ kehidupan manusia Bumi di masa depan. Ia merupakan live support bagi manusia – manusia Bumi yang hidup di jaman yang terpolusi. Kepintaran ‘The Matrix’ sebenarnya merupakan sebuah Artificial Intelligence yang dapat terus belajar, ia merupakan sebuah sequent, masih ada program – program lain dalam dalam daftar init sequent mesin tersebut. Sayangnya mesin yang begitu kompleks itu consume a lot of energy, dengan kata lain ia butuh energy yang sangat besar buat ‘hidup’. Ia butuh ‘cell – cell’ baterei buat menjalankan program – programnya.

matrix26_resize.jpgBuat menjalankan ‘dunia’ yang ada dalam pikiran – pikiran setiap manusia, ia mejalankan sebuah sebuah symbiosis hingga manusia yang hidup dalam sell2 cocoon dijadikannya sumber energi bagi mesin itu. Sebagai imbalannya ia memberikan image – image yang diinginkan para manusia pembuat mesinnya dahulu. Sebuah gambaran tentang ‘dunia’ yang normal. Bahkan sejak manusia tersebut baru saja dilahirkan ia sudah secara otomatis menjadi sebuah cell – cell energy baru bagi ‘makhluk’ tersebut. Sebuah gambaran yang kelihatanya sangat absurd dan nggak masuk akal bahwa sebuah mesin dapat begitu mengontrol hidup manusia di planet ini.

Dare to Dream.

matrix43_resize.jpgBerani bermimpi?. Bagi sebagian manusia – manusia Indonesia kata – kata ini pasti suatu hal yang wajar, tapi bagi sebagian yang lainya berani bermimpi saja sudah suatu kemewahan. Kita sebenarnya merupakan bagian – bagian yang beruntung dari manusia – manusia Indonesia, memperolah akses informasi baik melalui Internet dan sebagainya. Tapi bagi sebagian manusia Indonesia ini semua bagai di awang – awang, pernahkan berpikir bahwa kita ini termasuk orang yang beruntung dan bersyukur kepada Tuhan atas keberuntungan itu?

Itulah kenapa Morpheus (The gods of dreams) berkata kepada Neo, “Pilihlah ditantara dua kapsul ini? Salah satunya tidak berefek apapun, tapi kalau kau ingin melihat seuatu kebenaran maka pilihlah kapsul yang satunya?” begitulah kira – kira Morpheus berkata kepada Neo. Dan kembali Morpheus menekankan kepada Neo agar berpikir dahulu sebelum menentukan pilihannya, “pikirlah lagi sebelum memilih salah satunya!”.

matrix04_resize.jpgBerani bermimpi saja merupakan suatu langkah maju, ditengah dunia yang menglobal dan mesin – mesin kapital besar yang memanfaatkan./memenjarakan kemerdekaan kita, hanya menjadikan manusia – manusia tidak lebih hanya sekedar bahan bakar, sumber energy tanpa batas yang nggak melihat sisi kemanusian.

Okelah mungkin perang dingin sudah usai, perang antara idiologi tersebut nggak dimenangkan oleh salah satunya, itu hanya hukum rimba. Keduanya bukan yang terbaik, si pemenang adalah yang lebih kuat, ya .. hanya lebih kuat tapi bukan yang terbaik. Yang dapat dipilih secara naluriah. Yang satu menganggap bahwa manusia harus sederajat, equal, karena itu diciptakan suatu ‘sistem’ buat menghilangkan sekat – sekat dengan cara yang ‘memaksa’ manusia – manusia yang hidup dalam sistem itu untuk mematuhinya. Manusia – manusia nggak lebih hanya seperti mesin2 yang ‘dingin’ gak punya emosi.

Yang satunya lagi membiarkan kebebasan, bahkan kebabasan tersebut begitu bebasnya sampai dapat menyisihkan kesadaran sosial. Menjadikan pribadi – pribadi ‘Paman Gober’ menumpuk kekayaan, sebesar – besarnya tanpa memperhatikan lingkungan sosialnya. Semua yang menjadi ukuran keberhasilan adalah kaya, besar dan banyaknya, bukan arti dan faedah kita bagi lingkungan sekitar.

Kebebasan sangatlah penting tapi, haruskah itu melanggar hak asasi. Kedua – duanya punya potensi melangkahi itu, walaupun salah satunya berpotensi untuk luput dari pengamatan mata kita yang lugu. Mungkin perlu sebuah castatopic seperti pada kitab2 Ilahi yang dapat memecahkan ego kita dan menyadarkan kemanusiaan kita.

Dunia yang digambarkan oleh The Matrix memang sangat mengerikan, manusia yang tidak lagi mempunyai esksistensi atas tubuhnya sendiri. Tergilas dan terpasung oleh deru mesin – mesin ‘kapital’ dan calon – calon tiran masa depan yang menciptakan sistem2 yang melupakan kemanusiaan.

Iklan