Juni 2007


matrixreloaded50_resize1.jpg“What is The Matrix?”, pertanyaan yang diberikan oleh Morpheus kepada Neo. The Matrix mungkin ada yang melihat hanya sebuah film sci-fi biasa. Walaupun sebenarnya ada sebuah pemikiran (halah!) yang menarik didalamnya. The Matrix dalam movie sebenarnya adalah mesin yang betugas ‘menyelamatkan’ kehidupan manusia Bumi di masa depan. Ia merupakan live support bagi manusia – manusia Bumi yang hidup di jaman yang terpolusi. Kepintaran ‘The Matrix’ sebenarnya merupakan sebuah Artificial Intelligence yang dapat terus belajar, ia merupakan sebuah sequent, masih ada program – program lain dalam dalam daftar init sequent mesin tersebut. Sayangnya mesin yang begitu kompleks itu consume a lot of energy, dengan kata lain ia butuh energy yang sangat besar buat ‘hidup’. Ia butuh ‘cell – cell’ baterei buat menjalankan program – programnya.

matrix26_resize.jpgBuat menjalankan ‘dunia’ yang ada dalam pikiran – pikiran setiap manusia, ia mejalankan sebuah sebuah symbiosis hingga manusia yang hidup dalam sell2 cocoon dijadikannya sumber energi bagi mesin itu. Sebagai imbalannya ia memberikan image – image yang diinginkan para manusia pembuat mesinnya dahulu. Sebuah gambaran tentang ‘dunia’ yang normal. Bahkan sejak manusia tersebut baru saja dilahirkan ia sudah secara otomatis menjadi sebuah cell – cell energy baru bagi ‘makhluk’ tersebut. Sebuah gambaran yang kelihatanya sangat absurd dan nggak masuk akal bahwa sebuah mesin dapat begitu mengontrol hidup manusia di planet ini.

Dare to Dream.

matrix43_resize.jpgBerani bermimpi?. Bagi sebagian manusia – manusia Indonesia kata – kata ini pasti suatu hal yang wajar, tapi bagi sebagian yang lainya berani bermimpi saja sudah suatu kemewahan. Kita sebenarnya merupakan bagian – bagian yang beruntung dari manusia – manusia Indonesia, memperolah akses informasi baik melalui Internet dan sebagainya. Tapi bagi sebagian manusia Indonesia ini semua bagai di awang – awang, pernahkan berpikir bahwa kita ini termasuk orang yang beruntung dan bersyukur kepada Tuhan atas keberuntungan itu?

Itulah kenapa Morpheus (The gods of dreams) berkata kepada Neo, “Pilihlah ditantara dua kapsul ini? Salah satunya tidak berefek apapun, tapi kalau kau ingin melihat seuatu kebenaran maka pilihlah kapsul yang satunya?” begitulah kira – kira Morpheus berkata kepada Neo. Dan kembali Morpheus menekankan kepada Neo agar berpikir dahulu sebelum menentukan pilihannya, “pikirlah lagi sebelum memilih salah satunya!”.

matrix04_resize.jpgBerani bermimpi saja merupakan suatu langkah maju, ditengah dunia yang menglobal dan mesin – mesin kapital besar yang memanfaatkan./memenjarakan kemerdekaan kita, hanya menjadikan manusia – manusia tidak lebih hanya sekedar bahan bakar, sumber energy tanpa batas yang nggak melihat sisi kemanusian.

Okelah mungkin perang dingin sudah usai, perang antara idiologi tersebut nggak dimenangkan oleh salah satunya, itu hanya hukum rimba. Keduanya bukan yang terbaik, si pemenang adalah yang lebih kuat, ya .. hanya lebih kuat tapi bukan yang terbaik. Yang dapat dipilih secara naluriah. Yang satu menganggap bahwa manusia harus sederajat, equal, karena itu diciptakan suatu ‘sistem’ buat menghilangkan sekat – sekat dengan cara yang ‘memaksa’ manusia – manusia yang hidup dalam sistem itu untuk mematuhinya. Manusia – manusia nggak lebih hanya seperti mesin2 yang ‘dingin’ gak punya emosi.

Yang satunya lagi membiarkan kebebasan, bahkan kebabasan tersebut begitu bebasnya sampai dapat menyisihkan kesadaran sosial. Menjadikan pribadi – pribadi ‘Paman Gober’ menumpuk kekayaan, sebesar – besarnya tanpa memperhatikan lingkungan sosialnya. Semua yang menjadi ukuran keberhasilan adalah kaya, besar dan banyaknya, bukan arti dan faedah kita bagi lingkungan sekitar.

Kebebasan sangatlah penting tapi, haruskah itu melanggar hak asasi. Kedua – duanya punya potensi melangkahi itu, walaupun salah satunya berpotensi untuk luput dari pengamatan mata kita yang lugu. Mungkin perlu sebuah castatopic seperti pada kitab2 Ilahi yang dapat memecahkan ego kita dan menyadarkan kemanusiaan kita.

Dunia yang digambarkan oleh The Matrix memang sangat mengerikan, manusia yang tidak lagi mempunyai esksistensi atas tubuhnya sendiri. Tergilas dan terpasung oleh deru mesin – mesin ‘kapital’ dan calon – calon tiran masa depan yang menciptakan sistem2 yang melupakan kemanusiaan.

Kadang gue merasa nggak pernah cukup dengan 24 jam saja, waktu bagi gw kadang terasa begitu sedikitt. Belum banyak yang bisa gw lakukan, terasa menyiakan waktu yang begitu sempit. 24 Jam terasa begitu cepat berlalu, menit-menit dan detik yang kadang serasa disiakan begitu saja. Padahal waktu tersebut nggak akan pernah kembali. Setiap detik begitu berarti tapi seperti lepas mengalir nggak kepegang seperti aliran air yang konstan nggak pernah berhenti, saking konstannya kita nggak menyadari akan air maupun alirannya seakan hal yang wajar saja.

Kita nggak menghargainya, lupa berterimakasih hal yang begitu kecil tapi sangat berarti. Sesuatu kadang dapat mengacaukan pandangan kita tentang sesuatu yang besar. Yang utuh, nggak hanya dipermukaan. Bukan repihan – repihan, remah kecil yang mengganggu. Suatu permintaan maaf bisakah cukup? Gw kadang merasa tenggelam dalam lautan, terus tenggelam karena suatu yang memberatkan ke dasar samudra yang kelam, entah siapa yang mau peduli.

Small hours, yang bisa berarti seluruh kehidupan, wasted karena luput melihatnya, luput menyapa dan memaafkan ataupun minta maaf. Lingkaran itu belumlah utuh karena sesuatu hal yang ‘kecil’ yang hilang. Mungkin karena kekhilafan, menyadari terlambat. “Hai….terima kasih”, “Maaf”, “Tolong”, “Saya memaafkanmu”, membiarkan prasangka memenuhi pikiaran, sampai hal – hal yang berarti menjadi sirna, menjadi nggak penting.

Gw juga menyadari mungkin telah menulisakan beberapa hal, yang (sangat) bodoh pada blog akhir – akhir ini. Atau juga mungkin karena kegoblokkan gw, menulisan sesuatu yang naif dan goblok buat ngambarin sesuatu yang ada dalam benak gw. Yah, mungkin itu karena gw kurang kreatif, tapi memang gw akui semua kegoblogkan gw. Tapi gw tetap mau belajar, tulisan – tulisan gw sebenarnya dapat dirangkum dalam sebuah ‘tag besar’ yaitu belajar menulis. Gw menolak ‘mati’, ‘mati’ disini bukanlah suatu yang yang lateral. Gw merasa ada suatu hal yang lebih mengerikan dari sekedar kematian.

Matinya pikiran dan nurani kita sebelum kematian itu sendiri. Itulah kenapa gw menuliskan tentang Stephen Hawking. Walaupun tubuh kita mungkin sudah nggak bisa bergerak tapi, jangan sampai pikiran dan nurani kita yang masih hidup ikut ‘mati’. Gw menganggap hal itu (mungkin) suatu yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri.

Gue paham tulisan bisa lebih tajam dari apapun, seperti sebuah peluru tapi bukanlah sembarang peluru seperti sebuah peluru hollow point setelah ditembakan ia bebas lepas nggak seperti peluru biasa yang menghancurkan tulang, daging dan jaringan. Ia pecah mandiri menjadi serpihan – serpihan fragment kecil, tiap fragment dapat berada di ruang dan waktu tersendiri di hati dan pikiran seseorang. Pecahan – pecahan itu nggak lagi terikat ia bebas, mendekontruksi dan manghancurkan kebekuan pemikiran kita. Tapi fragment – fragment itu juga bersifat ambigu, mempunyai kecenderungan desktuktif atau konstruktif, kadang dapat membuka dan mendekonstuksi pemikiran seseorang, dapat pula menjadi perusak ia meracuni pemikiran seseorang yang berpikiran sempit.

Happy Birthday

Konsepsi Kumbakarna tentang Nasionalisme, negara dan bela negara sangat berbeda dengan Gunawan Wibisana. Siapa yang benar dan siapa yang salah? Entahlah kalau saya kedua – duanya benar tergantung gimana kita melihat dan kondisinya. Cerita ini sebenarnya berkait dengan ‘konsepsi’ tercipta dan lahirnya Rahwana, Sarpakenaka, Kumbakarna dan Gunawan Wibisana. Mereka semua masih bersaudara dari kerajaan Alengka.

Walaupun itu bisa di track back kepada kisah, ‘terciptanya’ Rahwana. Sosok Rahwana nggak tercipta dengan sendirinya. Termasuk kisah meninggalnya Rama dengan menyedihkan setelah menyiakan Shinta yang nggak pernah diceritakan. Konsepsi (pemikiran) Kumbakarna dan Wibisana tentang Nasionalisme yang sangat berbeda siapakah yang benar?

Menurutku keduanya nggak ada yang seratus persen benar atau bisa juga dikatakan keduanya nggak ada yang benar maupun salah. Semua itu tergantung kepada kondisi dan sudut pandang kita tentang misalnya nasionalisme dan kondisi negaranya.

Kumbakarna adalah sosok raksasa yang sangat menakutkan tapi dibalik sosoknya ternyata terdapat jiwa yang baik. Dapat dikatakan ini agak ironis dibalik tubuh raksasanya yang menakutkan ternyata terdapat budi yang baik. Ia lebih memilih tapa, dengan cara tidur di sebuah gua karena nggak mau berkompromi dengan kakaknya yang nggak mau di kritik tentang berbagai kebijakanya yang penuh angkara.

Wibisana adalah seorang Brahmana Ksatria, ia seorang cendikiawan. Ia lebih memilih untuk mencoba merubah sebuah sistem dengan kapandaianya. Ia mungkin akan mengkritisi berbagai kebijakan Rahwana kakaknya walaupun, kemudian hanya bisa diam karena nggak mampu untuk merubahnya. Maka ketika pada suatu titik pertemuannya dengan Hanoman mengaharuskan ia memilih untuk berpihak kepada Rama. Sebagian dari kita ada yang menganggapnya sebagai perbuatan pengecut.

Maka pilihan keduanya nggak bisa dikatakan benar atau salah. Ketika Kumbakarna ditanya oleh Rahwana dimana balas budi setelah bertahun hidup dan makan dari bumi Alengka dan rasa cinta tanah airnya setelah mengkritik perbuatan Rahwana. Ia memilih ‘merogoh’ kerongkonganya dan memuntahkan semua makanan yang pernah ia makan. Ia memberikan wejangan terkahir kepada Rahwana bahwa ia akan menepati janjinya, ia akan membela tanah airnya tapi bukan perbuatan kakaknya sebelum maju kemedan perang. Kumbakarna bukanlah seorang yang bodoh

Bagi beberapa orang tindakan Kumbakarna adalah tindakan seorang ksatria sejati yang membela tanah airnya. Tapi bagaimana kalau negara yang dia bela tersebut misalnya adalah negara Jerman di Perang Dunia kedua dapatkah kita sebut tindakannya tindakannya sebagai tindakan seorang patriot? Itulah kenapa (mungkin) Kumbakarna sudah menyadari bahwa dia akan dijadikan ‘martir’ tumbal bagi angkara murka Rahwana.

Gunawan Wibisana seorang ksatria cendikiawan ia lebih banyak menggunakan nalar dan pemikirannya untuk mengkoreksi pemerintahan Rahwana walaupun akhirnya lebih banyak diam dan menerima semua yang dilakukan kakaknya. Tapi sampai pada suatu waktu dimana ia nggak lagi bisa bertoleransi dengan tindakan kakaknya maka ia memutuskan untuk bergabung dengan Rama. Tentu saja menyisakan pertanyaan dimana rasa cinta tanah airnya, kenapa ia dengan tega menyerang dan menghancurkan tanah airnya sendiri.

Pada akhirnya memang keduanya menurut saya nggak bisa dikatakan benar atau salah, semua tergantung pada kondisi kita melihat Negara, tanah air, kebijakan pemimpinnya dan si pemimpin Negara tersebut.

Daripada menunggu tulisan gw ‘matang’ lebih baik gw menuliskan sesuatu yang ‘setengah matang’ saja ke dalam blog gw. Sungguh bodoh kalau berpikir blog adalah suatu yang fixed yang nggak bisa dirubah padahal pemikiran manusia belajar dari apa yang dilihat, dengar dan rasakan. Jadi gw akan mempost tulisan – tulisan gw yang masih mentah, lelah menunggu tulisan – tulisan itu ‘matang’ dari oven pikiran gw. Jadi gw akan mempostkan tulisan gw yang masih dalam bentuk mentah (yang sisanya mungkin masih ada dalam benak gw) biarlah menjadi ‘matang’ dengan sendirinya, gw akan selalu mengedit tulisan gw.