Elang by Dewa 19

aku ingin terbang tinggi
seperti elang
melewati siang malam
menembus awan

ini tanganku untuk kau genggam
ini tubuhku untuk kau peluk
ini bibirku untuk kau cium
tapi tak bisa Kau miliki aku

tak usah kau terus tangisi kepergianku
air mata takkan memanggilku
untuk kembali

aku adalah mimpi-mimpi sedang melintasi
sang perawan yang bermain dengan perasaan
ini tanganku untuk kau genggam
ini tubuhku untuk kau peluk
ini bibirku untuk kau cium
tapi tak bisa kau miliki aku

tak usah kau terus tangisi kepergianku
air mata takkan memanggilku
untuk kembali

aku adalah mimpi-mimpi tiada arti
aku ingin terbang tinggi seperti elang

Kembali mengingat peristiwa itu, sekitar 9 tahun yang lampau, peristiwa yang membawa pengaruh signifikan bagi kelanjutan negeri ini. Gimana kelanjutan dari reformasi, saya sendiri gak tau. Seandainya saya Elang, apakah nyawaku harus sia – sia saja? ‘Perawan yang bermain – main dengan perasaan’ , sudah bukan lagi perawan sayangnya haruskah ia ‘mengadung’ mimpi yang gak berarti.

Sang ‘perawan’ tersebut akan menjadi Ibu dari ‘anak’ kita. Terserah apakah ‘anak’ tersebut akan menjadi ‘anak’ dari konsepsi2 manis yang selama ini hanya ada di angan kita atau ia hanya akan kau telantarkan saja. Sama seperti berjuta anak Indonesia yang nggak mengenyam pendidikan dan menjadi anak jalanan. Pendidikan ‘anak’ ini tanggung jawab bersama, akankah pikiran – pikiran utopis yang selama ini tercetus itu hanya akan menjadi lamunan siang bolong belaka.

Seharusnya ‘perkawinan’nya dengan konsepsi tersebut menjadi suci, seperti Tuhan yang mentasbihkan bahwa dengan hal itu mejadi ‘suci’ dilakukan. Haruskah kita jadi pemerkosa, orang yang gak bertanggung jawab setelah kita cumbui sang ‘perawan’ tersebut dengan berbagai ‘konsespsi’ ia kau campakkan begitu saja.

Aku rasa kamu dan juga aku nggak akan sanggup menanggungnya kelak apabila sang ‘anak’ nanti menayakan “kemana saja kau hai Ayah?, setelah kau perkosa Ibu kau tinggalkan dia dalam keadaan merana”. Sungguh nista apa yang kita lakukan, ingatlah Tuhan pasti akan membalas setimpal apa yang telah kita lakukan.

Tentu nggak ada dari kita yang mau jadi ‘sampah’ keparat, kita pasti akan mendapatkan buah dari perbuatan kita. Tapi ternyata sang ‘perawan’ sendiri gak menangisi apa yang telah terjadi. Ia mengerti, bahkan sangat mengerti (mungkin naif) bahwa mungkin dalam (harapan dan) do’a nya, rahimnya sedang mengadung sesuatu yang baik, sesuatu yang penting bagi masa depan negeri ini.

Tapi sang ‘perawan’ itu sendiri bukan seorang yang cengeng, seperti kebanyakan orang Indonesia ia adalah para perempuan yang tegar. Ia nggak akan pasrah saja pada ‘nasib’, ia akan mencari sendiri hidupnya, sudah semestinya, ia seperti seorang perempuan dari kasongan, menuntun sepeda dengan keranjang bambu menjual tembikar walaupun Jogja baru saja ditimpa bencana alam. Buat apa tembikar begitu orang bertannya, tapi di nggak peduli karena ia setia pada setitik cahaya, yang mungkin bisa membawanya menuju kebaikan kelak.

Iklan