kumbakarna1.gif

“Dhi…. eee….dhi ning ndi kowe dhi?”

“Dik….eee…..dik dimana kamu dik?” Kumbakarna merintih dan menayakan dimana adiknya. Dengan sisa tenaga Kumbakarna merangsek menerjang para pasukan wanara (kera).

**************

Setelah menyeberangi lautan Kumbakarna akhirnya sampai di daratan, sebenarnya tidak tepat kalau disebut daratan. Ini adalah urugan tanah yang di buat oleh para pasukan wanaranya Sri Rama. Menyeberangi lautan bukanlah hal yang sulit, tubuh raksasanya menyeberangi selat yang memisahkan antara daratan Alengka dengan tanah hindustan bagai anak kecil yang sedang berenang – renang di kolam. Bermain – main air saja, air selat yang tidak danggkal tersebut bukanlah tandingannya bagi tubuh raksasanya, bahkan para binatang – binatang laut dan ikan raksasa nggak berani mendekat takut dengan tubuh raksasanya.

Ketika kelihatan wujud raksasa yang sebesar gunung anakan naik dari air ke darat, para wadya bala wanara kaget. Mereka segera melapor kepada komandan pasukan kera.

“Ada raksasa sebesar gunung anakan mengalangi jalan kita?” kata seokor prajurit kera.

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Dia terus bicara dan menyakan tentang adiknya dan ingin bertemu dengan Sri Rama”

“Baiklah jangan sampai ia mendekati Sri Rama lindungi paduka, suruh ia pergi kalau masih ngeyel, kalau perlu dengan kekerasan”

“Siap”

Maka bergeraklah beberapa pasukan kera mendekati raksasa tersebut, seokor kera yang cukup berani dan berbulu hitam bertanya”

“hei…. raksasa siapa kamu? dan apa keperluaanmu?”

“hmm…Wee.ee… ini kok ada kera kecil bertanya suaranya cukup lantang. Aku Kumbakara, aku ingin bertemu dengan Sri Rama. Aku tidak punya maksud jahat hanya ingin bertanya dan mohon penjelasan tentang serangan beliau ke negeri kami Alengka diraja” kata Kumbakarna dengan suara yang bagaikan guntur di telingan para kera itu.

“tidak usah banyak bicara, kami tidak akan mengijinkan seorang raksasa bertemu dengan Sri Rama. kamu pasti bermaksud ingin membunuh Sri Rama, langkahmu samapai disini saja…..hei para prajurit halangangi raksasa ini”

“hei….””hei…””.ayo…..””ayo……” para prajurit kera segera mengepung Kumbakarna. “kepung”

Para prajurit kera itu sebenarnya takut, mereka takut dengan Kumbakarna tapi mereka harus melakukan tugas mereka. Para kera tersebut segera berloncatan, mereka mengepung tubuh Kumbakarna. Ada yang mengigit kaki, tangan, kepala, hidung dan kuping. Tapi para kera tersebut bukanlah tandingan Kumbakarna, para kera tersebut hanya sebesar serangga bagi raga Kumbakarno. Kumbakarna hanya dia saja, ia bergeming ia hanya ingin bertemu Sri Rama dan adiknya.

“O…o…hai para kera aku tidak bermaksud jahat, aku hanya ingin bertemu dengan tuan kalian” para pasukan kera tersebut mengepung tubuh Kumbakarna, gigitan para kera tersebut bagi Kumbakarna hanya bagaikan ‘gelitikan’ saja. Tapi makin lama ‘gelitikan’ tersebut membuatnya terganggu. Beberapa kera ada yang masuk ke lubang hidung Kumbakarna, ke mulutnya, dsb. Tiba – tiba kera yang berada di mulut Kumbakarna mengigit sehingga mengagetkanya.

“Aduh!”

Hingga tanpa sengaja tergigitlah kera yang ada di dalam mulutnya. Dan karena rasa geli karena seperti digetik hidungnya iapun bersin sehingga matilah juga kera yang berada di hidungnya. Para kera itu takut tapi bercampur marah, sedangkan Kumbakarna tidaklah melawan sama sekali ia hanya berkata ingin bertemu dengan Rama. Lama kelamaan para kera tersebut makin banyak, hingga terlukalah tubuh Kumbarna, pertama sebelah kiri tellinganya putus digigit, menyusul hidung dsb. Hingga akhirnya panah Ksatria, entah Laskmana atau siapa mengenai lengannya putuslah lengannya.

“Aduh…..o..O..o.. dhi ning endi kowe dhi aku kangen….”

“o….dhi… dhi.. aku kangen dhi….. ooo amuk…amuk….amuk….” Kumbakarna yang telah buta, terluka, dan menderita merangsek dengan membabi buta. Sampai akhirnya ia tinggal hanya kepala tapi kepala tersebut tetap masih berkata.

“dhi…. aku kangen dhi….. amuk..amuk…amuk….dhi….” bergulingan di antara pasukan kera. Hingga akhirnya seorang ksatria maju dan berbicara dengan gembung itu.

“kakanda maaf kan adikmu ini, saya telah menyakitimu” Wibisana meminta maaf kepada Kumbakarna yang tinggal kepalanya saja.

“Tidak dhi memang sudah jalannya dhi, kehendak Dewata memang begitu saya dan kamu tidak bersalah adiku. Apa yang kamu lakukan tidaklah dapat diaanggap salah, karena memang Dewata berkehendak begitu. Saya senang telah melakukan apa jalanku, dan juga dapat betemu denganmu Dhi”

“Kakanda maafakan aku….”

“Tidak usah bersedih dhi, kita semua hanya manusia, tolong ruwatlah jasadku. Agar sempurna jalanku”

“Baiklah kakang”

Maka diruwatlah jasad Kumbakarna.

 

 

bersambung……………..

Iklan