Kita sering dihadapkan pada kenyataan ini, walaupun jaman udah berubah. Kalau di jaman lalu, ada yang mengatakan itu seperti yang dituliskan oleh Ronggowarsito jaman edan, nek ora edan oran keduman (jaman gila, kalau nggak ikut gila nggak akan kebagian) judul yang saya tulis di atas benar2 berlaku di masa itu. Orang yang jujur, setia pada integeritas dan menegakan kebenaran sama saja dengan kere (jawa:miskin), nggak populer atau bahkan mati ngenes (menyedihkan/menderita) atau kalau nggak dipenjara.

Tapi kalau di jaman sekarang yang menurut pak Damarjati Supajar memasuki kala Tidha, masih berlakukah hal tersebut diatas?. Mungkin masih, cuman derajat ngedan dan apa arti ngedan itu sendiri mungkin lain dengan jaman lalu. Tapi tentang judul yang disebutkan diatas itu kok ya berlaku di jaman apa saja ya?. Coba pikir kalau nggak berlaku mungkin nggak akan ada kejadian orang – orang yang setia dan konsisten, jujur dan menegakan kebenaran malah kere, nggak populer,mati ngenes atau mungkin salah satunya sedangkan yang dimaksud dengan mati ngenes itu bisa diartikan misalnya secara ekonomi, dsb.

Atau memang wis sak mesthine, sepantasnyalah para orang2 tersebut memang sudah sepantasnya melalui laku2 itu sebagai bagian dari konsistensi mereka. Nggak taulah, lihat contohnya Gie, Munir dan masih banyak lagi misalnya mereka begitu suntuknya menjalani laku dalan mereka dengan tentu saja meyakini dan konsisten bahwa apa yang dilakoni mereka tersebut benar adanya. Walaupun laku mereka tersebut dicemooh, dihina bahkan dilawan mereka tetap bergeming dan lagi2 semuanya berakhir tragis sebuah jalan yang (mungkin) harus dilalui mereka yang penuh dengan penderitaan hingga kematian bagi mereka merupakan (mungkin) suatu jalan pembebas.

Petani Pugra berkata, “besok saya akan ke Solo dan mungkin akan tinggal lama sekali, karena saya akan belajar untuk bisa bertemu dengan aku saya yang sejati” – dan besoknya ia mati. Ia ketemu aku-nya yang sejati. Ini terjadi tahun 1974, jadi di kurun kita dimana orang haus akan dunia ini jua. Jadi, Wisanggeni yang lenyap ke telingan Sang Hyang Tunggal mungkin khayalan, tapi esensinya riil. Para Sufi, di Arab atau Jawa, yang bercinta terus menerus untuk bertemu dengan Tuhan kekasihnya, bukan impian atau omong besar belaka. Terkadang oleh keterbatasan manusiawinya, mereka ingin cepat sampai ke kaki Tuhan (baca dengan ‘bahasa kita’: ingin cepat mati). Namun inti sikapnya jelas: dunia ini fana belaka, dan tidak terlalu penting dan sangat naif unutk mebikin manusia berduyun jadi binatang serakah. Ini bukan igauan. Maka sufi itu menguburkan badan rekanya sambil berkata, “Dia mati; Alhamdulillah………….” Emha Ainun Nadjib, Indonesia bagian dari desa saya, hal 208.

Para manusia yang ditulis Cak Nun, diatas Petani Pugra seorang seniman tari dari Bali dan para Sufi mereka seakan bagai sudah lepas dari segala ‘serpihan’2 dunia, mereka telah ‘mengelilingi Borobudur’ melalui ‘Kamadhatu’, ‘Rupadhatu’, ‘Arupadhatu’, dan mencapai puncaknya. Atau telah merasakan rasa mengelilingi Ka’bah dengan ‘intensnya’ sebelum mereka sendiri ke Mekah, sehingga ketika mereka ke Mekah mereka merasa ‘pulang’ dan Tuhan pun welcome kepada dia. Mereka mungkin sudah mengetahui inner self mereka sebagai ciptaanNya dan mungkin juga khusyuk ‘bercinta’ denganNya atau setidaknya kalau mereka gagal mereka yakin Tuhan akan menghargai segala usaha mereka.

Apakah Munir dan orang biasa seperti kita dapat menemukan diri sejati kita atau termasuk orang yg disebutin diatas?, nggak tahu tapi setidaknya Munir telah mencobanya atau kita bisa mencobanya, sangat sulit memang merela diri kita menjadi paria kasta paling rendah, (mencoba) nggak pamrih, nggak butuh pujian dsb. Bahkan bergeming meskipun harus menemui ‘jalan yang sunyi’ bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun.

Amenangi jaman edan, ewuhaya ing pambudi, melu ngedan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya keduman melik, kaliren wekasanipun, ndilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang eling klawan waspada.

Menyaksikan zaman gila, serba susah dalam bertindak, ikut gila tidak akan tahan, tapi kalau tidak mengikuti (gila), tidak akan mendapatkan bagian, kelaparan pada akhirnya, namun telah menjadi kehendak Allah, sebahagia-bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Bait ke 7 dari Serat Kalatidha yang ditulis oleh R.Ng.Ronggowarsito, baiklan mungkin jaman edan yang dekemukakan oleh beliau mungkin sudah kelewat, seperti yang dikatakan oleh pak Damarjati Supajar bahwa Indonesia saat ini memasuki jaman berikutnya yaitu kala tidha (bukan kala bendhu). Seharusnya dengan sendirinya nilai-nilai yang dijaman sebelumnya yang dianggap arkaik dan basi, seperti pehormatan hak asasi, kejujuran, keadilan, dsb. menjadi relevan kembali. Tapi apa yang terjadi nilai2 itu memang menjadi relevan kembali, tapi ternyata nggak semuannya seperti itu masih ada yang hanya sebatas retorik saja.

Jadi kalau begini gimana? Ya wis lah karena jaman edan memang telah lewat, sehingga yg ‘gila’ sekarang benar2 dianggap ‘gila’. Maka mungkin kita perlu ‘ngedan’ atau jadi ‘gelandangan’?, tergantung difinisi ‘ngedan’ dan ‘gelandagan’ itu sendiri; kalau ‘gelandangan’ difinisinya seperti yang ditulis Cak Nun? Atau jadi anggota partai Kaipang yang bersenjatakan tongkat pemukul anjing seperti di negeri Tiongkok jaman dulu saja. ‘Gelandangan’ dan kaipang yang ditulis disini adalah orang2 yang sebenarnya nggak ingin terlibat dengan segala hal2 yang fana. Apakah berarti menjadi apatis dsb? nggak kok, mereka tetap bergerak tapi nggak keliatan ada agenda, laku jalan mereka memang kadang dianggap nyleneh, ngeyel dan gila tapi mereka tetap konsisten seperti yang dilakoni misalnya: Gie, Baharudin Lopa dan Munir.

Iklan