Mei 2007


Elang by Dewa 19

aku ingin terbang tinggi
seperti elang
melewati siang malam
menembus awan

ini tanganku untuk kau genggam
ini tubuhku untuk kau peluk
ini bibirku untuk kau cium
tapi tak bisa Kau miliki aku

tak usah kau terus tangisi kepergianku
air mata takkan memanggilku
untuk kembali

aku adalah mimpi-mimpi sedang melintasi
sang perawan yang bermain dengan perasaan
ini tanganku untuk kau genggam
ini tubuhku untuk kau peluk
ini bibirku untuk kau cium
tapi tak bisa kau miliki aku

tak usah kau terus tangisi kepergianku
air mata takkan memanggilku
untuk kembali

aku adalah mimpi-mimpi tiada arti
aku ingin terbang tinggi seperti elang

Kembali mengingat peristiwa itu, sekitar 9 tahun yang lampau, peristiwa yang membawa pengaruh signifikan bagi kelanjutan negeri ini. Gimana kelanjutan dari reformasi, saya sendiri gak tau. Seandainya saya Elang, apakah nyawaku harus sia – sia saja? ‘Perawan yang bermain – main dengan perasaan’ , sudah bukan lagi perawan sayangnya haruskah ia ‘mengadung’ mimpi yang gak berarti.

Sang ‘perawan’ tersebut akan menjadi Ibu dari ‘anak’ kita. Terserah apakah ‘anak’ tersebut akan menjadi ‘anak’ dari konsepsi2 manis yang selama ini hanya ada di angan kita atau ia hanya akan kau telantarkan saja. Sama seperti berjuta anak Indonesia yang nggak mengenyam pendidikan dan menjadi anak jalanan. Pendidikan ‘anak’ ini tanggung jawab bersama, akankah pikiran – pikiran utopis yang selama ini tercetus itu hanya akan menjadi lamunan siang bolong belaka.

Seharusnya ‘perkawinan’nya dengan konsepsi tersebut menjadi suci, seperti Tuhan yang mentasbihkan bahwa dengan hal itu mejadi ‘suci’ dilakukan. Haruskah kita jadi pemerkosa, orang yang gak bertanggung jawab setelah kita cumbui sang ‘perawan’ tersebut dengan berbagai ‘konsespsi’ ia kau campakkan begitu saja.

Aku rasa kamu dan juga aku nggak akan sanggup menanggungnya kelak apabila sang ‘anak’ nanti menayakan “kemana saja kau hai Ayah?, setelah kau perkosa Ibu kau tinggalkan dia dalam keadaan merana”. Sungguh nista apa yang kita lakukan, ingatlah Tuhan pasti akan membalas setimpal apa yang telah kita lakukan.

Tentu nggak ada dari kita yang mau jadi ‘sampah’ keparat, kita pasti akan mendapatkan buah dari perbuatan kita. Tapi ternyata sang ‘perawan’ sendiri gak menangisi apa yang telah terjadi. Ia mengerti, bahkan sangat mengerti (mungkin naif) bahwa mungkin dalam (harapan dan) do’a nya, rahimnya sedang mengadung sesuatu yang baik, sesuatu yang penting bagi masa depan negeri ini.

Tapi sang ‘perawan’ itu sendiri bukan seorang yang cengeng, seperti kebanyakan orang Indonesia ia adalah para perempuan yang tegar. Ia nggak akan pasrah saja pada ‘nasib’, ia akan mencari sendiri hidupnya, sudah semestinya, ia seperti seorang perempuan dari kasongan, menuntun sepeda dengan keranjang bambu menjual tembikar walaupun Jogja baru saja ditimpa bencana alam. Buat apa tembikar begitu orang bertannya, tapi di nggak peduli karena ia setia pada setitik cahaya, yang mungkin bisa membawanya menuju kebaikan kelak.

apakah ada esensi jiwaku saat ini?
aku siapa?
mimpi siang bolong?!

temanku, dimana kamu?
aku hampir memudar, sirna, musnah, lenyap
jiwaku begitu murah kau jual,
kau tukar dengan singgasana.

Aku,
kan kulewati sisa spiritku
sebelum yang Esa memanggilku
tapi jiwa dan esensiku tetap ada
pada sebagian mereka yang peduli
pada tangis gelisah kaum tetindas

tapi suara itu semakin lirih
karena kau menolak peduli kawan…

 

buat elang

Setelah mencoba – coba blog engine, gue berkesimpulan nggak ada blog engine yang paling baik. Semua blog engine mempunyai kelebihan dan kekurangan masing masing. Setelah kemarin donwload WP, hanya beberapa hari kemudia sudah release versi barunya. Yah jadi donwload lagi, ternyata di wordpress 2.2 ini fungsi widgetnya sudah termasuk jadi nggak usah install2 plugin lagi.

Gue sebenarnya tertarik dengan blog engine yang agak lebih ‘ringan’ dari wordpress. Pilihan saya jatuh pada serendipity, memang blog egine ini ringan, theme2 dan pluginnyapun cukup banyak sayang core filenya agak ‘gendut’ kalau gak salah sekitar 4MB (itu dalam bentuk zip!) jadi mungkin agak susah uploadnya ke server hostingnya (yang gratisan) yang biasanya agak lambat.

Dan tentu aja nyobain juga blog engine yang lain, misalnya DotClear. DT ini menarik buat gue walaupun mungkin agak susah baca manualnya, karena dibuat oleh orang prancis jadi manualnya dalam bahasa prancis minim sekali yang udah diterjemanhkan dalam bahasa inggris. Blog engine ini cukup ringan, tapi kemarin tak coba kok masih ada masalah jadi coba di utak-atik dulu. Dan tentu saja adalagi yaitu lifetype yang menarik juga, ini cukup cepat tapi sayang pilihan theme2nya agak kurang. Untung walaupun sedikit theme2nya lumayan bagus, kebanyakan merupan ‘porting’ dari theme2nya WP :p .

Jadi beberapa hari ini gue nyobain beberapa blog engine, masih ada blog engine yang mau gue coba lagi yaitu sBlog,bBlog dan eggBlog. Setelah nyobain bloging egine itu semua memang gue masih beranggapan wp masih yang paling bagus, baik dari segi jumlah theme2nya maupun plugin2nya yang banyak.

kumbakarna1.gif

“Dhi…. eee….dhi ning ndi kowe dhi?”

“Dik….eee…..dik dimana kamu dik?” Kumbakarna merintih dan menayakan dimana adiknya. Dengan sisa tenaga Kumbakarna merangsek menerjang para pasukan wanara (kera).

**************

Setelah menyeberangi lautan Kumbakarna akhirnya sampai di daratan, sebenarnya tidak tepat kalau disebut daratan. Ini adalah urugan tanah yang di buat oleh para pasukan wanaranya Sri Rama. Menyeberangi lautan bukanlah hal yang sulit, tubuh raksasanya menyeberangi selat yang memisahkan antara daratan Alengka dengan tanah hindustan bagai anak kecil yang sedang berenang – renang di kolam. Bermain – main air saja, air selat yang tidak danggkal tersebut bukanlah tandingannya bagi tubuh raksasanya, bahkan para binatang – binatang laut dan ikan raksasa nggak berani mendekat takut dengan tubuh raksasanya.

Ketika kelihatan wujud raksasa yang sebesar gunung anakan naik dari air ke darat, para wadya bala wanara kaget. Mereka segera melapor kepada komandan pasukan kera.

“Ada raksasa sebesar gunung anakan mengalangi jalan kita?” kata seokor prajurit kera.

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Dia terus bicara dan menyakan tentang adiknya dan ingin bertemu dengan Sri Rama”

“Baiklah jangan sampai ia mendekati Sri Rama lindungi paduka, suruh ia pergi kalau masih ngeyel, kalau perlu dengan kekerasan”

“Siap”

Maka bergeraklah beberapa pasukan kera mendekati raksasa tersebut, seokor kera yang cukup berani dan berbulu hitam bertanya”

“hei…. raksasa siapa kamu? dan apa keperluaanmu?”

“hmm…Wee.ee… ini kok ada kera kecil bertanya suaranya cukup lantang. Aku Kumbakara, aku ingin bertemu dengan Sri Rama. Aku tidak punya maksud jahat hanya ingin bertanya dan mohon penjelasan tentang serangan beliau ke negeri kami Alengka diraja” kata Kumbakarna dengan suara yang bagaikan guntur di telingan para kera itu.

“tidak usah banyak bicara, kami tidak akan mengijinkan seorang raksasa bertemu dengan Sri Rama. kamu pasti bermaksud ingin membunuh Sri Rama, langkahmu samapai disini saja…..hei para prajurit halangangi raksasa ini”

“hei….””hei…””.ayo…..””ayo……” para prajurit kera segera mengepung Kumbakarna. “kepung”

Para prajurit kera itu sebenarnya takut, mereka takut dengan Kumbakarna tapi mereka harus melakukan tugas mereka. Para kera tersebut segera berloncatan, mereka mengepung tubuh Kumbakarna. Ada yang mengigit kaki, tangan, kepala, hidung dan kuping. Tapi para kera tersebut bukanlah tandingan Kumbakarna, para kera tersebut hanya sebesar serangga bagi raga Kumbakarno. Kumbakarna hanya dia saja, ia bergeming ia hanya ingin bertemu Sri Rama dan adiknya.

“O…o…hai para kera aku tidak bermaksud jahat, aku hanya ingin bertemu dengan tuan kalian” para pasukan kera tersebut mengepung tubuh Kumbakarna, gigitan para kera tersebut bagi Kumbakarna hanya bagaikan ‘gelitikan’ saja. Tapi makin lama ‘gelitikan’ tersebut membuatnya terganggu. Beberapa kera ada yang masuk ke lubang hidung Kumbakarna, ke mulutnya, dsb. Tiba – tiba kera yang berada di mulut Kumbakarna mengigit sehingga mengagetkanya.

“Aduh!”

Hingga tanpa sengaja tergigitlah kera yang ada di dalam mulutnya. Dan karena rasa geli karena seperti digetik hidungnya iapun bersin sehingga matilah juga kera yang berada di hidungnya. Para kera itu takut tapi bercampur marah, sedangkan Kumbakarna tidaklah melawan sama sekali ia hanya berkata ingin bertemu dengan Rama. Lama kelamaan para kera tersebut makin banyak, hingga terlukalah tubuh Kumbarna, pertama sebelah kiri tellinganya putus digigit, menyusul hidung dsb. Hingga akhirnya panah Ksatria, entah Laskmana atau siapa mengenai lengannya putuslah lengannya.

“Aduh…..o..O..o.. dhi ning endi kowe dhi aku kangen….”

“o….dhi… dhi.. aku kangen dhi….. ooo amuk…amuk….amuk….” Kumbakarna yang telah buta, terluka, dan menderita merangsek dengan membabi buta. Sampai akhirnya ia tinggal hanya kepala tapi kepala tersebut tetap masih berkata.

“dhi…. aku kangen dhi….. amuk..amuk…amuk….dhi….” bergulingan di antara pasukan kera. Hingga akhirnya seorang ksatria maju dan berbicara dengan gembung itu.

“kakanda maaf kan adikmu ini, saya telah menyakitimu” Wibisana meminta maaf kepada Kumbakarna yang tinggal kepalanya saja.

“Tidak dhi memang sudah jalannya dhi, kehendak Dewata memang begitu saya dan kamu tidak bersalah adiku. Apa yang kamu lakukan tidaklah dapat diaanggap salah, karena memang Dewata berkehendak begitu. Saya senang telah melakukan apa jalanku, dan juga dapat betemu denganmu Dhi”

“Kakanda maafakan aku….”

“Tidak usah bersedih dhi, kita semua hanya manusia, tolong ruwatlah jasadku. Agar sempurna jalanku”

“Baiklah kakang”

Maka diruwatlah jasad Kumbakarna.

 

 

bersambung……………..

Kembali ke theme ini lagi, hmm…. apakah ada bug di themenya light WP. Tulisanku kok nggak mau di justify, padahal sudah aku edit kodenya juga, ya udah akhirnya kembali ke theme ini coba-coba theme2nya wordpress yang lain.

+ngopo nulis2 ra’ genah barang?

-yo ra’ popo, aku ra’ nggangep tulisane apik, terserah sing maca.

*hus lha wong tulisane apik kok! kebenaran kuwi patut di tulis.

-hus! ngawur tulisane kuwi ojo mbok anggep kebenaran. Kebenaran absolud kuwi kagunggane Gusti Allah

+ halah! lha wong tulisan elek koyo ngono kok, ora patut diedarke ning internet.

*hus yo wis ben tho, sak karepe wong negara merdeka sapa presidene dunia maya kan ora ono, lha wong tulisane yo apik tur patut

-hus! tulisane apik orane terserah para pembacane, janjane mung arep ngurangi isi ‘ransel’ sing ning gegerku ben rada ra’ kaboten, ra’ papa tho?

+halah ra’ usah ngilani!

*wis ra’ papa!

-lha, trus?

*****************************************************

Aduh! malah kepejet! wis kadung kekirim!

Kita sering dihadapkan pada kenyataan ini, walaupun jaman udah berubah. Kalau di jaman lalu, ada yang mengatakan itu seperti yang dituliskan oleh Ronggowarsito jaman edan, nek ora edan oran keduman (jaman gila, kalau nggak ikut gila nggak akan kebagian) judul yang saya tulis di atas benar2 berlaku di masa itu. Orang yang jujur, setia pada integeritas dan menegakan kebenaran sama saja dengan kere (jawa:miskin), nggak populer atau bahkan mati ngenes (menyedihkan/menderita) atau kalau nggak dipenjara.

Tapi kalau di jaman sekarang yang menurut pak Damarjati Supajar memasuki kala Tidha, masih berlakukah hal tersebut diatas?. Mungkin masih, cuman derajat ngedan dan apa arti ngedan itu sendiri mungkin lain dengan jaman lalu. Tapi tentang judul yang disebutkan diatas itu kok ya berlaku di jaman apa saja ya?. Coba pikir kalau nggak berlaku mungkin nggak akan ada kejadian orang – orang yang setia dan konsisten, jujur dan menegakan kebenaran malah kere, nggak populer,mati ngenes atau mungkin salah satunya sedangkan yang dimaksud dengan mati ngenes itu bisa diartikan misalnya secara ekonomi, dsb.

Atau memang wis sak mesthine, sepantasnyalah para orang2 tersebut memang sudah sepantasnya melalui laku2 itu sebagai bagian dari konsistensi mereka. Nggak taulah, lihat contohnya Gie, Munir dan masih banyak lagi misalnya mereka begitu suntuknya menjalani laku dalan mereka dengan tentu saja meyakini dan konsisten bahwa apa yang dilakoni mereka tersebut benar adanya. Walaupun laku mereka tersebut dicemooh, dihina bahkan dilawan mereka tetap bergeming dan lagi2 semuanya berakhir tragis sebuah jalan yang (mungkin) harus dilalui mereka yang penuh dengan penderitaan hingga kematian bagi mereka merupakan (mungkin) suatu jalan pembebas.

Petani Pugra berkata, “besok saya akan ke Solo dan mungkin akan tinggal lama sekali, karena saya akan belajar untuk bisa bertemu dengan aku saya yang sejati” – dan besoknya ia mati. Ia ketemu aku-nya yang sejati. Ini terjadi tahun 1974, jadi di kurun kita dimana orang haus akan dunia ini jua. Jadi, Wisanggeni yang lenyap ke telingan Sang Hyang Tunggal mungkin khayalan, tapi esensinya riil. Para Sufi, di Arab atau Jawa, yang bercinta terus menerus untuk bertemu dengan Tuhan kekasihnya, bukan impian atau omong besar belaka. Terkadang oleh keterbatasan manusiawinya, mereka ingin cepat sampai ke kaki Tuhan (baca dengan ‘bahasa kita’: ingin cepat mati). Namun inti sikapnya jelas: dunia ini fana belaka, dan tidak terlalu penting dan sangat naif unutk mebikin manusia berduyun jadi binatang serakah. Ini bukan igauan. Maka sufi itu menguburkan badan rekanya sambil berkata, “Dia mati; Alhamdulillah………….” Emha Ainun Nadjib, Indonesia bagian dari desa saya, hal 208.

Para manusia yang ditulis Cak Nun, diatas Petani Pugra seorang seniman tari dari Bali dan para Sufi mereka seakan bagai sudah lepas dari segala ‘serpihan’2 dunia, mereka telah ‘mengelilingi Borobudur’ melalui ‘Kamadhatu’, ‘Rupadhatu’, ‘Arupadhatu’, dan mencapai puncaknya. Atau telah merasakan rasa mengelilingi Ka’bah dengan ‘intensnya’ sebelum mereka sendiri ke Mekah, sehingga ketika mereka ke Mekah mereka merasa ‘pulang’ dan Tuhan pun welcome kepada dia. Mereka mungkin sudah mengetahui inner self mereka sebagai ciptaanNya dan mungkin juga khusyuk ‘bercinta’ denganNya atau setidaknya kalau mereka gagal mereka yakin Tuhan akan menghargai segala usaha mereka.

Apakah Munir dan orang biasa seperti kita dapat menemukan diri sejati kita atau termasuk orang yg disebutin diatas?, nggak tahu tapi setidaknya Munir telah mencobanya atau kita bisa mencobanya, sangat sulit memang merela diri kita menjadi paria kasta paling rendah, (mencoba) nggak pamrih, nggak butuh pujian dsb. Bahkan bergeming meskipun harus menemui ‘jalan yang sunyi’ bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun.

Amenangi jaman edan, ewuhaya ing pambudi, melu ngedan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya keduman melik, kaliren wekasanipun, ndilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang eling klawan waspada.

Menyaksikan zaman gila, serba susah dalam bertindak, ikut gila tidak akan tahan, tapi kalau tidak mengikuti (gila), tidak akan mendapatkan bagian, kelaparan pada akhirnya, namun telah menjadi kehendak Allah, sebahagia-bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Bait ke 7 dari Serat Kalatidha yang ditulis oleh R.Ng.Ronggowarsito, baiklan mungkin jaman edan yang dekemukakan oleh beliau mungkin sudah kelewat, seperti yang dikatakan oleh pak Damarjati Supajar bahwa Indonesia saat ini memasuki jaman berikutnya yaitu kala tidha (bukan kala bendhu). Seharusnya dengan sendirinya nilai-nilai yang dijaman sebelumnya yang dianggap arkaik dan basi, seperti pehormatan hak asasi, kejujuran, keadilan, dsb. menjadi relevan kembali. Tapi apa yang terjadi nilai2 itu memang menjadi relevan kembali, tapi ternyata nggak semuannya seperti itu masih ada yang hanya sebatas retorik saja.

Jadi kalau begini gimana? Ya wis lah karena jaman edan memang telah lewat, sehingga yg ‘gila’ sekarang benar2 dianggap ‘gila’. Maka mungkin kita perlu ‘ngedan’ atau jadi ‘gelandangan’?, tergantung difinisi ‘ngedan’ dan ‘gelandagan’ itu sendiri; kalau ‘gelandangan’ difinisinya seperti yang ditulis Cak Nun? Atau jadi anggota partai Kaipang yang bersenjatakan tongkat pemukul anjing seperti di negeri Tiongkok jaman dulu saja. ‘Gelandangan’ dan kaipang yang ditulis disini adalah orang2 yang sebenarnya nggak ingin terlibat dengan segala hal2 yang fana. Apakah berarti menjadi apatis dsb? nggak kok, mereka tetap bergerak tapi nggak keliatan ada agenda, laku jalan mereka memang kadang dianggap nyleneh, ngeyel dan gila tapi mereka tetap konsisten seperti yang dilakoni misalnya: Gie, Baharudin Lopa dan Munir.

Laman Berikutnya »