Aku merasa kehilangan, kehilangan yang mungkin juga dirasakan oleh manusia lainnya yang rindu kesejatian. Dimana di kota semakin suntuk, dengan segala rutinitas yang krodit dan melelahkan.

Dimana kesejatian? Kota bukan lagi pusat dari spiritualitas. Aku dan mungkin juga manusia lainya merasa kosong. Apa yang didapat dari segala kesibukan ini kecuali kelelahan yang mungkin gak terobati.

Terasa hambar segala udara dan air yang kuminum, aku perlu ‘udara’ kesejatian dan ‘air’ kesejukan, ‘air’, ‘udara’ dan ‘tanah’ yang kupijak disini terasa kotor terdistorsi oleh nafsu – nafsu yang rendah ‘kamadhatu’.

Aku butuh melakukan perjalanan. Mengitari ‘Borobudurku’ kemudian naik tangganya, setapak – setapak hingga sampailah jiwa dan ragaku di puncak stupa. Kurentangkan ‘sayapku’, ragaku diterpa oleh hangatnya senja sang surya dan semilir angin sang bayu. Tapi jiwaku terbang dan segera kurasakan tubuh beserta sukmaku moksa leyap bersama jagad ini. Menyatu dengan Sang Waktu itu sendiri, gak ada lagi saat ini, kemarin maupun esok. Aku ada tapi tiada.

Iklan