tukulBagi yang tinggal di sekitar Semarang, Jawa Tengah mungkin sudah paham sama istilah yang gue sebutin di atas. Mumpung si Thukul lagi populer di tipi :p, si Thukul yang asli wong ndeso dan orang Semarang pasti juga paham.

Ganjel Rel bukan pengganjal rel kereta api betulan, itu sebenarnya adalah roti yang bebentuk kotak dan keras khas kota Semarang. Tapi isitilah itu dapat juga berarti roti yang cukup keras, roti tersebut seperti sebenarnya agak mirip roti dari Prancis yang mempunyai bentuk panjang dan bertekstur keras yang ternyata menurut para ahli sangat baik bagi pencernaan karena justru banyak mengandung serat walaupun (mungkin) rasanya agak seret kalau buat sarapan. Roti tersebut biasanya juga dijadikan sangu anak2 sebelum berangkat sekolah sebagai pengganjal perut.

Lawakan2 Thukul sebenarnya agak kasaran bagi orang Jawa dan orang yang mengerti budaya Jawa dapat dikatakan seperti sebuah percakapan (dan umapatan) yang didengar di warung dan percakapan sehari2 dan bagi orang – orang di daerah pedalaman Jawa (Solo – Jogja) yang penuh unggah-ungguh, bahkan Pak Becak atau kusir dokarpun minimal berbahasa Krama atau bahasa yang halus.

Tapi bagi orang – orang pesisiran (Pantura) Jawa pasti mengerti, karena budaya di daerah itu yang biasanya sangat egaliter dan terbuka. Orang – orang Semarang yang sangat terbuka dan blakasuta, kasar dan tanpa basa-basi dalam ngungkapin perasaan tapi sebenarnya berhati halus dan pemaaf. Ciri – ciri ini dapat dijumpai pada masyarakat pesisiran yang memiliki seni budaya yang kurang halus dibandingkan seni budaya yang dekat dengan Kraton seperti Solo dan Jogja.

Saya jadi teringat dengan nasehat Bapak saya, hidup ini memang tidak selalu mudah ada kalanya kita harus melalui banyak halangan dan cobaan. Maka beliau berpesan hidup itu seperti Juadah (sejenis makanan dari ketan, kalo gak salah orang sunda menyebutnya uli).

Ini gamabar (ketoke) jadah karo tempe bacemBeliau berpesan : “Urip memang akeh cobane kaya ketan kae. Ketan iku nek saya di240px-yellowlabradorlooking.jpg tumbuk saya atos lan malah dadi Juadah sing atos tapi enak, yen nggo mbalang asu wae mati . Terjemahan bahasa Indonesianya kira2 : “Hidup itu seperti beras ketan itu. Beras Ketan itu yang tadinya lembek semakin ditumbuk semakin keras bahkan dapat jadi Uli yang keras tapi enak, yang apabila dilemparkan ke anjing saja mati.

Intinya adalah hidup memang penuh cobaan, nggak hanya yang senang saja ada kalanya kita diberiNya cobaan bahkan cemoohan dari orang lain. Tapi apabila kita sabar dan tetap fokus pada apa yang jadi esensi dan tujuan hidup kita dan berjalan di jalanNya, maka segala cobaan tersebut justru menjadi sesuatu yang akan memperkuat hidup kita selanjutnya.

Kata yang saya tebalkan sebenarnya Cuma tambahanku aja, frase tersebut memang sangat biasa muncul di percakapan sehari – hari orang Jawa buat ngambarin barang yang berat dan besar. Kata2 itu biasanya berupa guyon (bercanda) yang mencul begitu aja, misalnya ketika seorang anak yang lagi berangkat sekolah dan sangu roti yang sangat atos/keras mereka biasanya akan bercanda, “roti kok atose kaya ganjel rel, nggo mbalang asu wae mati”.

 

PS:Saya (dan semua keluargaku) pecinta binatang nggak menganjurkan menyabit Anjing (dan Kucing) dengan juadah atau biasa ditulis Jadah, juadah lebih enak dimakan saja oleh manusia digoreng atau dimakan biasa saja dan dapat ditambah dengan parutan kelapa atau gula merah yang dicairkan (kinca) :-D.

Gambar juadahnya mungking kurang akurat ya, yang coklat itu bukan juadah tapi tempe bacem, gambar lainnya di dapat dari id.wikipedia dan gambare si tukul dari sini

Iklan