Maret 2007


Kagem Adhiku (Adik Ku)
ing
Kosai
Japan

Assalamuallaikum Wr. Wb.

Dhi, pripun kabaripun. Mugi – mugi tansah sehat lan kaparing berkah saking Gusti Allah ingkang Maha Agung. Bapak kaliyan Ibu dateng mriki Alhamdulillah sehat2 kemawon, Mas yakin sedaya punika amargi saking donganinpun Adhi.

Pripun kabaripun Kosai, menapa sampun mlebet mangsa musim Semi. Tangsah kelingan kaliyan critanipun Adhi nek musim panas nagari Sakura saged panas ngeluwihi panasipun nagari – nagari tropis. Wonten festifal – festifal ingkang nyambut musim semi lan kathah malih.

Dhi mboten usah sedih, menawi maca tulisanipun Adhi, kula dados melu sedih. Dhi eling napa kandane Mas, dateng Jepang mboten usah mikir ingkang macem – macem. Dateng Jepang kudu tansah eling dening Gusti Allah lan dateng Jepang menika mboten namung ngoleki donya nanging ingkang luwih penting ngloleki ilmu ingkan bermanfaat lan pengalaman.

Mengertos menawa kabeh niku memang mboten segampil niku, nanging cekap sedaya menika di pasrahaken dening Gusti Allah, menyuwun supados diparingi eling lan diparingi dalan ingkan lurus lan diparingi “jembar” dalaninpun. Eling dening Qur’an “Fa innama’al usri usron inama’al usri usron”

Cekap semanten serat saking kulo mugi – mugi tansah kaparing Hidayah saking Gusti Allah Ingkang Maha Agung, diparingi rejeki ingkang kathah lan tansah eling shalat gangsal wektu. Lan tansah eling dongaaken Bapak, Ibu lan Mas.

Wassalamuallaikum Wr. Wb.

PS:Serat menika namung khyalanipun kula, kula nulis nggangem basa jawi krama inggih kagem latihan kula, latihan nulis ngaggem basa “Ibu” yaiku basa Jawi. Isi serat niki mboten usah dianggep serius, matur nuwun 🙂

Iklan
Pada awalnya aku beranggapan munulis blog adalah sesuatu yang akan dapat mempermalukan diriku sendiri, tapi yang terjadi ternyata aku telah menulis dan akan terus untuk mencoba menulis karena telah merasakan “kelegaan” setelah menulis sesuatu betapun bodohnya hal tersebut. Mencoba gak akan menghapus apapun tulisan yang telah kutulis kedalam blog, walaupun hal tersebut akan ngungkapin betapa bodoh dan naifnya aku. Aku akan tetap mencoba menulis karena menulis bagiku sekarang menjadi semacam terapi bagi jiwaku.

beberapa tahun yang lampau………

Semua itu kadang bagai dejavu kuingat kembali, atau kucoba mengingat kembali apa yang terjadi. Yah … semuanya memang bagai kepingan – kepingan sebuah puzzle, tapi kucoba tuk mengingat kembali. Diperlukan sebuah kejujuran dan sebuah pikiran yang open minded untuk mencoba menyatukan kembali segala kepingan – kepingan itu menjadi suatu yang jelas.

Semuanya menjadi kacau, pecah berserak gak jelas mau kemana. Aku merasa aku akan gila, bahkan mungkin sudah GILA. Semua jargon dan term yang kujadikan pijakan saat itu baru kusadari merupakan SAMPAH.

Suatu idiologi dan gambaran yang kedengaran sangat utopian, ternyata suatu yang hanya merupakan daya angan2 dan khayal manusia yang mereka pikir berasal dari semangat anti kemapanan ternyata berasal dari suatu yang sangat idiot dan gak berdasar.

Semua yang keliatannya sangat indah tersebut hanya suatu yang fake dan sampah yang berasal dari imaji manusia yang berpikiran sempit dan gak menyentuh realitas dasar insani. Aku bagai terbuai oleh asap surgawi yang penuh kemunafikan. Sesuatu yang kedengarannya sangat indah tapi dibalik itu semua ternyata kegelapan itu sendiri. Gak berdasar dan rapuh.

Yang kusangka merupakan enlightenment ternyata hanya merupakan sesuatu yang hanya mengambang dipermukaan, yang akan tersapu hanyut oleh riak gelombang yang paling kecil sekalipun.

Semuanya itu nggak akan kumasukan kedalam “pikiran” tapi hanya mau kujadikan pengingat tentang apa yang telah terjadi, sehingga mungkin bisa menjadi sebuah sign yang akan membuatku akan melangkah lebih jauh kedepan.

Jadi disinilah aku mencari – cari dalam kegelapan, berkali2 berpegang pada sesuatu yang kurasa hakiki, ternyata merupakan sesuatu yang sangat rentan dan fragile, sesuatu yang gak bisa disentuh, rapuh dan fana.

Gak tahulah apa aku sudah memperolah pencerahan, tapi setidaknya aku merasa lebih “kaya” dan mengerti atau paling tidak merasa mengerti dan mungkin lebih baik dalam memahami pikiran manusia dan manusia, setidaknya itulah yang ada dalam pikiran gue.

“Kaya” bukanlah hal2 tentang materi tetapi merupakan seuatu yg lebih berarti tentang hakekat segala sesuatu. Gak lagi melihat manusia dari cover dan sesuatu yang menutupi permukaan paling tidak aku akan mencobanya.

Ingin kuteriakan sesuatu. “Wooooooi………Aku akan terus belajar….diam, statis mati itu gak akan kulakuan”. “Segalanya bergerak, yang gak bergerak, statis, jumud, mandek, stagnan berarti MATI”

masih bersambung?……….

cloud_1.jpg“Wong urip iku mung mampir ngombe” orang hidup itu hanya mampir minum. Pepatah jawa ini yang biasa disebutkan oleh Bapak biasanya kalau anaknya mulai polah maka si Bapak mungkin akan berkata “Le.. urip iku mung mampir ngombe…….” kepada si Anak yang sedang ngambek minta dibelikan Notebook atau pun barang2 yang gak kebeli oleh kantong Bapaknya.

Artinya bisa juga lain kalau dikatakan kepada seorang Anak yang sedang melihat musibah baik itu pesawat jatuh, kecelakaan. Maksudnya adalah hidup ini hanya sebentar maka kita harus menyiapkan segala sesuatunya nanti buat after life.

Penguasa yang lalim pasti akan jatuh walaupun mungkin akan memakan waktu, yang waktu itu mungkin sepertiga bahkan setengah waktu kita didunia. Apabila sebuah sistem yang tidak sehat (korup) tentu akan memerlukan energy yang lebih kuat buat mengontrol keutuhan dari sistem tersebut, sehingga pada suatu saat energy tersebut tidak cukup kuat mempertahankan “kulit” karena “isinya” yang terlampau besar sehingga pecah. Kenapa kita tidak membiarkan “isi” tersebut dengan sendirinya membentuk kulit yang melingkari sistem tersebut. (tulisan ini gak jelas dan terlalu ngaco kelihatannya aku mulai gila :p).

“Sebuah proses alami yang bermula di dalam satu keadaan kesetimbangan dan berakhir di dalam satu keadaan kesetimbangan lain akan bergerak di dalam arah yang menyebabkan entropi dari sistem dan lingkungannya semakin besar”. Hukum Kedua Termodinamika (bener gak ya sambil garuk2 pala). Entropi adalah derajat ketidakteraturan dalam sistem kalau di ilmu fisika. Itulah kenapa ada The Oracle (menurut gw) di sistem komputer The Matrix, The Oracle menurut gue merupakan entrophy dari suatu sistem besar yaitu The Matrix, ia merupakan suatu katup yang membuat si mesin tetap waras.

Baikalah kembali ke ceritaku, beliau adalah nenekku (dari pihak Bapak) sekarang terbaring sakit, memang usia beliau sudah tidak muda lagi. Sebelumnya Eyang Putri (Nenek dari pihak Ibu) juga sudah meninggal……. sejak saat itu gue jadi lebih mengerti (sedikit) tentang kematian (atau setidaknya itulah menurutku). Dan segala hal yang tentang kehilangan orang yang terdekat dari kita tiba2 menjadi nyata bagiku. Eyang Putri bagiku adalah seperti Ibu yang kedua, mungkin karena pada waktu kecil saya dekat sekali dengan kakek dan nenekku dari pihak Ibu

Tiba2 segala hal tentang kematian ada didepanku, segala tulisan dan artikel yang pernah kubaca tiba2 saja nggak ada artinya karena aku berhadapan langsung dengan rasa kehilangan tersebut. Segala yang kubaca menjadi gak relevan sama sekali, segala sesuatu tersebut tampak seperti sebuah omong kosong, seperti di film atau sinetron gak bermutu.

Pada awalnya adalah rasa marah, tidak aku nggak marah kepada Tuhan. Aku marah kepada DIRI saya sendiri….. kenapa aku tidak?…….. kalau saja?………. Yah pertanyaan2 seperti itu yg ada dalam benakku. Tapi dengan seiring waktu rasa tersebut mulai lenyap. Dan kalau ada yang berkata bahwa segala kesedihan itu akan terhapus oleh waktu aku hanya dapat berkata bahwa itu hanya setengahnya saja benar.

Kehilangan seseorang yang sangat berarti ternyata gak segampang itu terhapus oleh waktu, memang rasa sedih akan terhapus seiring waktu tapi ternyata tetap merasakan sesuatu empty space, suatu kekosongan, jarak, sebuah ceruk dihidup kita yang mungkin gak akan bisa diisi. Lubang itu akan tetap tinggal disitu dihati kita karena gak akan mungkin menggantikan seseorang yang berarti bagi hidup kita. Itu mungkin suatu sign bahwa orang tersebut sangat berarti bagi hidup kita, sayangnya kita terlambat menyadari hal tersebut.