Soe Hok Gie kecilBisakah kita konsisten seperti Gie, jalan yang ditempuh Gie mungkin bukan merupakan jalan yang ramai dan populer. Tapi dia merupakan sesorang yang konsisten dengan pendiriannya, setidaknya itulah pandangan gw tenntang sosok Soe Hok Gie.

 

Soe Hok Gie lahir 17 Desember 1942, dia adalah adik dari sosiolog Arif Budiman (baca blognya Jay). Segala jalan pikiran Gie dapat diketahui dari buku hariannya yang ditulis sejak 4 Maret 1957 sampai 8 Desember 1969 beberapa hari sebelum meninggalnya Gie 16 Desember 1969 di Gunung Semeru. Aku gak akan menuliskan tentang kisah hidup Gie (karena sudah banyak ditulis dan sudah difilmkan). Tulisan ini hanya merupakan pandangan gw tentang pandangan hidup Gie.

 

motorcycle.jpgTentang pendapat orang yang menyamakan sosok Gie dengan CheGuevara, menurut gw kurang tepat walaupun ada beberapa periode dalam hidup Che yang menurut gw hampir dapat disamakan dengan Gie, yaitu ketika Ernesto ‘Che’ Guevara melakukan perjalanan berkeling Amerika Selatan sampai ke Miami bersama sahabatnya Alberto Granado dengan menggunankan sepeda motor Norton 500 ‘La Poderosa’ (“Si Perkasa”). Perjalanan menggunakan motor Che ini dicatat dalam buku hariannya yang akhirnya dibuat film dengan judul The Motorcycle Diaries (judul Spanyol: Diarios de motocicleta).

 

Ini hampir sama seperti Gie, Gie yang merupakan salah seorang pendiri Mapala UI sangat menyukai naik gunung dan kegiatan pecinta alam. Di dalam buku hariannya Gie juga banyak melihat dan menulis tentang penderitaan rakyat kecil termasuk ketika dia melihat pengemis yang sedang mengorek sampah dan makan kulit mangga di dekat Istana dia berkata “Aku besertamu orang-orang malang” Dia pun merogoh sakunya, lalu memberikan uangnya yg cuma Rp 2,50 kepada pengemis itu, itu yang ditulisanya di buku hariannya menjelang ulang tahunnya yang ke 17. Ini hampir sama dengan Che yang banyak menemui daerah yang dilanda penderitaan dan kemiskinan dalam perjalanannya berpetualang di Amerika Selatan dan mencatatnya di buku hariannya. Ia juga sempat menjadi sukarelawan dan menolong para penderita kusta di daerah miskin di Peru.

 

Tentang kosistennya Gie untuk tetap memilih ‘jalan sunyi’ dapat diketahui dari sifat kritisnya yang gak berhenti. Ini keliatan setelah jatuhnya Sukarno dan masuknya Indonesia dalam rejim Orde Barunya Suharto, ia termasuk orang yang pertama mengkritik tajam rejim Orde Baru hingga mneyebabkan ia ‘dikucilkan’. Ia nggak ingin seperti para temannya sesama mahasiswa angkatan 66 lainya yang memilih untuk ‘berhenti’ kritis.

Walaupun akhirnya Gie dan Guevara melalui jalan hidup berbeda namun pada akhir hidupnya kedua meninggal di ‘gunung’, Gie meninggal karena mengirup gas beracun dalam pendakian terakhirnya di gunung Semeru. Sedangkan Guevara tertangkap dan terkepung oleh pasukan Bolivia yang dibantu pasukan Amerika pada waktu mereka sedang bergerilya di hutan dan pegunungan di Bolivia, ia akhirnya ditembak mati oleh seorang sersan mabuk di sebuah sekolah di kota Higueras.

Pada akhirnya tulisan ini sebenarnya merupakan cermin buat gw, bisakah gw tetap konsisten walaupun mungkin harus melaui ‘jalan sunyi’ seperti Gie. Buat kalian temen2 mahasiswa, akan jadi apakah kalian lima atau sepuluh tahun lagi, bisakan kalian tetap konsisten? Dan lagi2 tulisan ini merupakan merupakan tulisan dan pandangan gw yang subjektif dan menurut pikiran gw saja, feel free kalo ada yang kurang setuju atau mau nambahin. Terima Kasih.

Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:”Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

“Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.”

“Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.”

“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.”

“Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?”

“Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…”

“Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.”

“Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.”

Iklan