<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sekedar tulisan</title>
	<atom:link href="http://masiwan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://masiwan.wordpress.com</link>
	<description>nglamun,nglantur,ngaco,nulis,kontemplasi,belajar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Nov 2007 13:44:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='masiwan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sekedar tulisan</title>
		<link>http://masiwan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://masiwan.wordpress.com/osd.xml" title="Sekedar tulisan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://masiwan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>14 jam sebelum&#8230; (2)</title>
		<link>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/14-jam-sebelum-2/</link>
		<comments>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/14-jam-sebelum-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 04:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masiwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar nulis]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[draft]]></category>
		<category><![CDATA[gak jelas]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/14-jam-sebelum-2/</guid>
		<description><![CDATA[14 jam sebelum… Bedil itu telah menyalak. Mengeluarkan pelurunya, sebait sepi. Yang telah ditembakkan dari proyetilnya menuju ke hati yang sunyi. Ditengah keheningan malam yang menyesakkan. Seleret langkah di keheningan malam, setiap langkahnya berat oleh beban. Nafasnya berdesakkan, mencoba mengusir dingin yang kelam. Dalam setiap langkahnya terkandung sederet untaian harap. Beberapa jam setelah ini akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=143&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">14 jam sebelum…</p>
<p align="justify">Bedil itu telah menyalak. Mengeluarkan pelurunya, sebait sepi. Yang telah ditembakkan dari proyetilnya menuju ke hati yang sunyi. Ditengah keheningan malam yang menyesakkan. Seleret langkah di keheningan malam, setiap langkahnya berat oleh beban. Nafasnya berdesakkan, mencoba mengusir dingin yang kelam. Dalam setiap langkahnya terkandung sederet untaian harap. Beberapa jam setelah ini akan tumbuh di ufuk timur sang mentari. Sebuah harapan akan kehangatan, yang dituang kedalam cangkir kopi. Aku pun menghisap hawa dingin itu lagi.</p>
<p align="justify"><em>“Duh puanku, aku berjalan disini. Duh Gusti apa artinya ini?” </em></p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">Dalam desah nafasnya,<span id="more-143"></span> ia masih terjaga. <!--baca kelanjutannya-->Dalam gelap yang sunyi. Ngelangut. Menghantarkan kebekuan yang terbungkus dalam angin malam. Asap yang dingin mendesak oksigen di dalam paru. Bertarung dalam kabut dari dirinya. Yang menggelayut, tertiup melayang tak tentu, gelisah. Kami saling diam, suntuk dalam pikiran pribadi yang jengah. Merayap menggelayuti dinding yang kelam, bersatu dalam lembab dan sepi. Berarak pulang menuju ke peraduan pribadi. Pikiran yang melayang tak tentu.</p>
<p align="justify">Tapi kita tetap diam. Bagaimana dengan dirimu? Masih berbaring, menutup matamu. Diam, suntuk dengan pikiranmu sendiri. Ruangan disini terasa sesak ya? aku membatin. Tapi kau tetap membisu. Aku tahu kau masih terjaga, tak tidur. Karena desah nafasmu yang tak teratur, ia belum menjadi teratur seperti kehendakmu. Tapi tiba &#8211; tiba seperti terdengar sebuah bisikan yang lirih di tengah wengi ini.</p>
<p align="justify"><em>“Aku tak mengerti, kenapa kau hanya diam?”</em></p>
<p align="justify">Tapi tak terdengar suara apapun, apalagi lagu. Hanya desahan nafas yang mencoba untuk teratur. Kamu masih disitu, nggak mengharap disentuh. Tapi aku juga mengerti, sebuah sentuhan akan memusnahkan semuanya. Teringat ketika kau masih kecil dulu, aku biasa bermain<em> jetungan</em> dengamu. Ini seperti menemukanmu bersembunyi di dalam gelap. Tapi kau masih ingin sembunyi.</p>
<p align="justify">Tapi kenapa begitu terburu? Sedangkan sebelumnya kutahu dan pernah kudengar tentang kenginanmu untuk berjalan denganku. Perjalanan yang mengasyikkan, rendezvous-mu dengan duniamu itu, telah membuatmu berhenti berpetualang denganku? Padahal disini masih ada jalan yang terus mengkerucut. Masih panjang, menuju ke bulatan mentari yang terbenam disitu.</p>
<p align="justify">Ini sudah 8 jam sebelum…</p>
<p align="justify">Aku mau menyelesaikan tugasku, mengetik disitu. Aku berjalan menuju meja di sudut dengan penerangan lampu duduk yang lembut. Membuka laptopku, mencoba mengetikkan sesuatu di keyboard. Sebait puisi, sajak, prosa, frase, kalimat, kata, huruf. Tapi tidak dapat kulakukan. Hanya sebaris huruf ini saja yang telah memenuhi display komputer.</p>
<p align="justify">Apakah Ayah dan Ibu telah mendorongmu? Tapi tidak ini semua memang benar dan memang harus begitu. Atau bukan? Kenapa aku telah menjadi sentimentil. Aku berjalan ke meja makan, membuat kopi kental yang hangat bagi diriku sendiri. Mengaduk kopi instan kental itu di cangkir, melarutkan serbuk &#8211; serbuk hitam itu menjadi pekat. Larut bersama pikiranku, masih berasap. Panas. Asap itu mengepul karena udara yang dingin malam ini. Seperti pikiranku yang dipenuhi kabut yang tak kumengerti.</p>
<p align="justify">Aku menyeruputnya, panas!. Masih panas, membakar ujung lidahku. Kutiup sebentar sekedar menurunkan suhunya, tapi rasanya sudah lain. Karena lidahku yang tersentuh oleh kopi panas itu, mematikan beberapa indera pengecapku. Tapi itu akan tumbuh lagi beberapa waktu, batinku.</p>
<p align="justify">Mungkin aku cemburu tapi mungkin juga bukan. O… puanku dimana jiwa kanakmu itu saat ini. Ingin rasanya kujangkau dirimu yang itu. Kamu tahu jiwa kanak kita. Terkubur begitu jauh sampai terlupa. Disitu terdapat diri kita yang masih murni. Sesekali kita perlu terjatuh ke pangkuan diri kita itu. Jiwa kanak yang murni, yang melihat segalanya dengan bening. Beranikan kamu mengambil resiko itu?</p>
<p align="justify">Kuingin berdialog dengan jiwamu itu, membangkitkanya. Ia mungkin seharusnya bangkit malam ini, untuk menyaingi dirimu. Ya…dirimu, yang butuh jiwa yang murni itu. Antara hitam dan putih ia menjadi dirimu. Tanpanya kau akan selalu hampa, karena dia adalah kamu. Yang telah kau kalahkan dahulu ketika kau merasa bahwa dirimu yang itu telah usang. Tapi kau kini merasa hampa karena dia itu adalah deru air laut yang bergelora bagi jiwamu. Tapi kau menolaknya.</p>
<p align="justify">Ketika itu kau berumur 9 tahun dan tiba &#8211; tiba semuanya terjadi. Dunia kecil dalam dirimu. Dunia (mikrokosmis) yang imature, tapi ada dan terus tumbuh. Bersamanya kau menyebutnya kedewasaan. Semuanya menjadi tidak penting lagi bukan. Ketika aku gandeng tanganmu saat itu mungkin akan terasa lain. Karena kami lelaki tidak mengerti itu.</p>
<p align="justify">Tapi itu memang seharusnya. Jangan berprasangka buruk, ini tentang perbuatan kita menerobos hujan. Tanpa memperdulikan tentang flu ataupun demam yang mungkin kita alami sesudahnya, ketika kecil.</p>
<p align="justify">Tapi dalam e-mail-mu yang terakhir itu. Kau berkata tentang perjalanan yang ingin kaulakukan. Sial!. Ironis sekali kenapa itu harus terjadi. aku tahu bahwa ini suatu yang sulit. Itulah mengapa kau sengaja ‘melepas’ semuanya, tapi sebenarnya apakah itu perbuatan yang adil? Kau tidak ingin mengikatku, begitu juga dengan diriku.</p>
<p align="justify">Maka kita berjalan masing &#8211; masing saja dalam ‘diam’. Diam yang mengganggu pikiran kita, seperti mengerti tapi juga tak mengerti. Tapi tentu saja hati tidak bisa di tipu. Hati kita tetap berbohong, tapi dengan e-mail-mu itu, apakah kau ingin ‘bicara’.</p>
<p align="justify">Bagaimana kita medesakkan ‘diam’ kita. Menjerembabkannya seperti seonggok sampah yang patut dibuang. Dan kuajak kamu minum kopi di ujung avenue itu atau dimanapun kau mau ber-rendezvous denganku. Dan akan kubisikkan kata itu ke dalam cuping kupingmu yang mungil, ‘lepaslah, lepaslah jiwa kanakmu itu’</p>
<p align="justify">Tapi begitulah, dan kau tersenyum. Sambil menyicip kopimu, sepotong croissant tergeletak di dekat cangkir kopimu. Mademoiselle ada sesuatu yang indah di senyummu, itu yang tersembunyi di sudut cangkir kopi itu. Dan kau tersenyum kecil (lagi). Kubisikkan lagi hal itu. Kata yang tak kumengerti dari mana. ‘Aku tidak mengerti, tapi maukah kau berbagi sesuatu di ujung cangkir kopi itu’.</p>
<p align="justify">Tapi kamu telah hilang dan tiba &#8211; tiba kamu menjadi <em>matryoshka</em>, kubuka kamu yang ini tapi selalu ada dirimu yang lebih kecil, begitu rumit. Lagi dan lagi. Itu terus terjadi sampai menjadi sebiji atom atau apapun elemen terkecil benda yang belum ketemu. Dan tiba &#8211; tiba sebiji atom telah melejit dan mengenai atom yang lain, memecahkan atom itu dan menembakkan elemen yang mengenai atom yang lainnya juga. Lagi (dan lagi), menyebabkan reaksi berantai.</p>
<p align="justify">Udara tiba &#8211; tiba berubah, aku tidak tahu kenapa. Ia telah terkontaminasi oleh ledakan nuklir (kata?) yang tiba &#8211; tiba itu mungkin. Dan dirimu ada di dalam benakku, berlari diantara neuron &#8211; neuron di sel &#8211; sel kelabuku. Melompat &#8211; lompat dan berlari. Aku berlari mengejarmu dan terus mengejarmu melompati sel &#8211; sel kelabu itu, melompati ujung &#8211; ujung neuron itu, menjadi plasma. Aliran energi yang murni, mengaliri cakra &#8211; cakra di tubuhku dan mengaktifkannya.</p>
<p align="justify"><em>“Hati, jiwa dan pikiranmu cukupkah itu…”</em></p>
<p align="justify">ini sudah 1 jam sebelum…</p>
<p align="justify">Lirih, kudengar bisikmu. ‘Aku harus pergi’. Aku bisa mengerti itu. Di dalam keramaian komuter itu kulihat dirimu pergi. Menyusup di situ, menjadi energi yang tak kasat mata. Kau telah pergi. Tapi energimu masih tertinggal disini, duduk di bangku didepanku sambil meminum secangkir kopi yang pahit itu. Tanpa sisa.</p>
<p align="justify">Dalam proyektorMu Tuhan, tak kutemukan diriku, aku telah menjadi netra? Tapi bukankan episode ini belum usai? Akupun bangkit pergi menyusup di keramaian komuter itu menyusulmu.</p>
<p align="justify">PS:Dengan Apologi,apologi,apologi (tiga kali). Saya terinspirasi menulis. Hanya sekedar tulisan yang gak berarti <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masiwan.wordpress.com/143/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masiwan.wordpress.com/143/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masiwan.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masiwan.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masiwan.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masiwan.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masiwan.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masiwan.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masiwan.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masiwan.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masiwan.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masiwan.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masiwan.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masiwan.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masiwan.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masiwan.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=143&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/14-jam-sebelum-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/891be2c340bc4b93edb7909126c78231?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masiwan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>rubik</title>
		<link>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/rubik/</link>
		<comments>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/rubik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 04:30:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masiwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar nulis]]></category>
		<category><![CDATA[gak jelas]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/rubik/</guid>
		<description><![CDATA[aneh sekali apa yang kulihat dari peristiwa menjadi sebuah kubus sebuah rubik yang menunggu untuk kucabik menjadi kepingan :yang kucoba kulekatkankan lagi kepingannya itu menjadi sebuah gambaran :yang terlihat simetris di benakku tapi ini bukan tentang nafsu aku yakin bukan nafsu… pic from en.wikipedia.com<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=142&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masiwan.files.wordpress.com/2007/11/rubiks_cube_variations.jpg" title="rubiks_cube_variations.jpg"><img src="http://masiwan.files.wordpress.com/2007/11/rubiks_cube_variations.thumbnail.jpg?w=510" alt="rubiks_cube_variations.jpg" /></a></p>
<p>aneh sekali<br />
apa yang kulihat<br />
dari peristiwa</p>
<p>menjadi sebuah kubus<br />
sebuah rubik yang menunggu<br />
untuk kucabik menjadi kepingan<br />
:yang kucoba kulekatkankan lagi<br />
kepingannya itu<br />
menjadi sebuah gambaran<br />
:yang terlihat simetris di benakku</p>
<p>tapi ini bukan tentang nafsu<br />
aku yakin bukan nafsu…</p>
<p>pic from en.wikipedia.com</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masiwan.wordpress.com/142/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masiwan.wordpress.com/142/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masiwan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masiwan.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masiwan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masiwan.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masiwan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masiwan.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masiwan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masiwan.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masiwan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masiwan.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masiwan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masiwan.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masiwan.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masiwan.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=142&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/rubik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/891be2c340bc4b93edb7909126c78231?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masiwan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://masiwan.files.wordpress.com/2007/11/rubiks_cube_variations.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rubiks_cube_variations.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>racun (pikiran)</title>
		<link>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/racun-pikiran/</link>
		<comments>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/racun-pikiran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 04:17:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masiwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar nulis]]></category>
		<category><![CDATA[gak jelas]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/racun-pikiran/</guid>
		<description><![CDATA[setetes dirimu itu beracun menghujam benak ingsun didiamkan menjadi karat lama &#8211; lama menjadi madat berkelebat di dalam jidat yang tak terasa kujilat tertelan menjadi pekat dalam mimpi yang singkat telah berubah menjadi jerat dalam jeram bertingkat-tingkat yang selalu menyebar pikat tentang suatu yang tak-padat Aku memakinya, cialat!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=140&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>setetes dirimu itu beracun<br />
menghujam benak ingsun<br />
didiamkan menjadi karat<br />
lama &#8211; lama menjadi madat</em></p>
<p><em>berkelebat di dalam jidat<br />
yang tak terasa kujilat<br />
tertelan menjadi pekat<br />
dalam mimpi yang singkat</em></p>
<p><em>telah berubah menjadi jerat<br />
dalam jeram bertingkat-tingkat<br />
yang selalu menyebar pikat<br />
tentang suatu yang tak-padat</em></p>
<p><em>Aku memakinya, cialat!</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masiwan.wordpress.com/140/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masiwan.wordpress.com/140/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masiwan.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masiwan.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masiwan.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masiwan.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masiwan.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masiwan.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masiwan.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masiwan.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masiwan.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masiwan.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masiwan.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masiwan.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masiwan.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masiwan.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=140&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/racun-pikiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/891be2c340bc4b93edb7909126c78231?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masiwan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sang Penghibur</title>
		<link>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/sang-penghibur/</link>
		<comments>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/sang-penghibur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 04:17:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masiwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar nulis]]></category>
		<category><![CDATA[gak jelas]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/sang-penghibur/</guid>
		<description><![CDATA[Dan sang penghibur itu telah bekerja, ia bekerja dengan diam di benakku yang padam “apa yang kau mau?” “tidak kau tahu?” Dan sekali lagi dia bekerja, tidak harap dipuja tanpa pinta bekerja “apa maumu?” “hanya senyummu!” ‘Sang Penghibur’ itu ada lagi, dalam setiap hela nafasku aku tahu karena dia ‘kamu’ “Aku sedang kelu” “Tidak, maju [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=139&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dan sang penghibur itu telah bekerja,<br />
ia bekerja dengan diam<br />
di benakku yang padam<br />
<em> “apa yang kau mau?”<br />
“tidak kau tahu?”</em></p>
<p>Dan sekali lagi dia bekerja,<br />
tidak harap dipuja<br />
tanpa pinta bekerja<br />
<em> “apa maumu?”<br />
“hanya senyummu!”</em></p>
<p>‘Sang Penghibur’ itu ada lagi,<br />
dalam setiap hela nafasku<br />
aku tahu karena dia ‘kamu’<br />
<em> “Aku sedang kelu”<br />
“Tidak, maju ayo maju”</em></p>
<p>Ku usir lagi si ‘dia’<br />
tapi kembali dengan suka<br />
pada saat ku duka<br />
<em> “Aku sedang luka”<br />
“Mari bersuka-suka saja”</em></p>
<p><em>“Dasar Gila!”<br />
“Terserah kau saja;<br />
mari bersuka!”</em></p>
<p>Inspirasi dari lirik lagu padi &#8211; sang penghibur</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masiwan.wordpress.com/139/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masiwan.wordpress.com/139/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masiwan.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masiwan.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masiwan.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masiwan.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masiwan.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masiwan.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masiwan.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masiwan.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masiwan.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masiwan.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masiwan.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masiwan.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masiwan.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masiwan.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=139&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/sang-penghibur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/891be2c340bc4b93edb7909126c78231?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masiwan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sang Guru Piano</title>
		<link>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/sang-guru-piano/</link>
		<comments>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/sang-guru-piano/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 04:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masiwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar nulis]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/sang-guru-piano/</guid>
		<description><![CDATA[Jangan tertipu dengan cover buku ini, ini bukan chick lit (hehehe) dan bukan roman. Profesor Erika Kohut adalah seorang pengajar di Konservatori Wina. Ia seorang guru piano pada siang hari, berkutat dengan segala seni musik surgawi. Tapi sisi lain hidupnya benar &#8211; benar berbeda, seperti dua sisi mata uang, musik klasik yang merupakan seni cita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=138&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://masiwan.files.wordpress.com/2007/11/ejel01.jpg" title="ejel01.jpg"><img src="http://masiwan.files.wordpress.com/2007/11/ejel01.thumbnail.jpg?w=510" alt="ejel01.jpg" align="left" /></a>Jangan tertipu dengan cover buku ini, ini bukan chick lit (hehehe) dan bukan roman. Profesor Erika Kohut adalah seorang pengajar di Konservatori Wina. Ia seorang guru piano pada siang hari, berkutat dengan segala seni musik surgawi. Tapi sisi lain hidupnya benar &#8211; benar berbeda, seperti dua sisi mata uang, musik klasik yang merupakan seni cita rasa tinggi pada siang hari dan kalau malam hari ia terbiasa mengunjungi bagian kota wina yang gelap. Kehidupan malam wina yang kotor, peeping-show, pertunjukan striptease dan lain sebagainya. Pikiran, emosi, kenangan dan fantasy seseorang begitu rumit tapi oleh penulis ditulis dengan gaya penulisan yang meloncat &#8211; loncat hingga mengaburkan batas antara kenyataan dan kayalan. Pikiran dan fantasi seseorang manusia yang begitu kompleks yang dapat dipicu oleh hal yang remeh seperti rasa yang dicercap, baui, rasakan dan lihat, digambarkannya dengan metafora yang menarik. Apakah sisi lain dari Erica itu hanya merupakan pemenuhan ‘id’nya saja?</p>
<p align="justify">Kehidupan Erica itu mungkin nggak bisa lepas dari dominasi dan obsesi Ibu Erica. Saya seperti melihat Ibu Erica yang selalu membuntuti kemanapun anaknya (walaupun itu mungkin hanya dalam pikirannya saja?). Itulah yang membuat ia sulit merasakan kehangantan, ‘rasa’ dan perhatian lebih yang diberikan oleh seorang muridnya Walter Klemer. Mau nggak mau kita jadi ikut merasakan juga suasana hati Erica di novel ini yang suram. Menarik ketika terjadi interaksi antara sang murid dan guru piano. Walter Klemer yang akhirnya berhasil mendapat perhatian gurunya harus menghadapi seuatu yang rumit, sebuah hubungan yang seharusnya normal menjadi begitu rumit.</p>
<p align="justify">Sulit memang untuk ‘mendekat’ dengan karakter dalam novel ini, karena semuanya mungkin sengaja di buat berjarak, begitu saya merasa sudah ‘dekat’ dengan tokoh disitu perasaan saya di hempaskan lagi oleh si penulis menuju keputusaan dan kehampaan? (sebaiknya baca saja sendiri) dengan analogi &#8211; analogi dan metafora yang memang sengaja di tuliskan oleh penulisnya. Elfriede Jelinek yang memperoleh hadiah Nobel di bidang Sastra tahun 2004. Dan saya juga mungkin sulit mereview buku ini karena mungkin keterbatasan pengetahuan saya. Novel ini juga sudah difilmkan oleh Michael Haneke dan memenangkan tiga penghargaan utama dalam Festival Film Cannes 2001.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masiwan.wordpress.com/138/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masiwan.wordpress.com/138/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masiwan.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masiwan.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masiwan.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masiwan.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masiwan.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masiwan.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masiwan.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masiwan.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masiwan.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masiwan.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masiwan.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masiwan.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masiwan.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masiwan.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=138&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/sang-guru-piano/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/891be2c340bc4b93edb7909126c78231?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masiwan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://masiwan.files.wordpress.com/2007/11/ejel01.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ejel01.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sky Burial</title>
		<link>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/sky-burial/</link>
		<comments>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/sky-burial/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 04:13:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masiwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/sky-burial/</guid>
		<description><![CDATA[Membaca review buku ini di Internet, jadi penasaran buat membeli dan membacanya. Akhirnya saya memahami sebuah film tentang kehidupan di negeri Tirai Bambu yang pernah saya tonton. Film itu sebenarnya juga nggak sengaja saya tonton, judulnya Xiu Xiu. Saya jadi memahami dan mengerti kenapa dan apa dorongan yang menyebabkan si tokoh mau untuk di tempatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=136&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://masiwan.files.wordpress.com/2007/11/buku_pemakaman_langit.gif" title="buku_pemakaman_langit.gif"><img src="http://masiwan.files.wordpress.com/2007/11/buku_pemakaman_langit.thumbnail.gif?w=510" alt="buku_pemakaman_langit.gif" align="left" /></a>Membaca review buku ini di Internet, jadi penasaran buat membeli dan membacanya. Akhirnya saya memahami sebuah film tentang kehidupan di negeri Tirai Bambu yang pernah saya tonton. Film itu sebenarnya juga nggak sengaja saya tonton, judulnya Xiu Xiu. Saya jadi memahami dan mengerti kenapa dan apa dorongan yang menyebabkan si tokoh mau untuk di tempatkan ke sebuah tempat asing dan tepencil di daratan China. Sedikit sekali yang saya ketahu tentang negeri atap dunia itu. Setelah membaca buku ini saya bisa merasakan keindahan negeri ini, keramahan dan betapa spiritualitas yang tidak bisa dipisahkan dari keseharian penduduk Tibet.</p>
<p align="justify">Buku ini ngukapin sedikit tentang masa &#8211; masa China setelah perang saudara berakhir. Bagaimana perubahan politik dan sosial di negeri itu ketika itu. Tapi buku ini bukan nyeritain tentang itu. Tapi tentang perjalanan hidup seorang wanita China yang menjadi anggota medik dari pasukan pembebasan rakyat China. Bagaimana perjalanan hidupnya menemukan Kejun suaminya yang meninggal di Tibet.</p>
<p align="justify">Shu Wen yang baru saja menikah dengan Kejun selama tiga minggu harus rela berpisah karena Kejun ditugaskan di tibet sebagai prajurit medis. Setelah beberapa waktu Shu Wen tidak mendapat berita dari Tibet tentang Kejun. Tapi setelah 100 hari keberangkatannya tiba &#8211; tiba saja ia memperoleh berita bahwa Kejun meninggal di Tibet. Tapi tentara pembebasan tidak menyebutkan perihal kematiannya maupun mayatnya. Shu Wen yang tidak mempercayai kematian suaminya, masih berharap bahwa suaminya itu hanya tersesat di Tibet, terluka atau terpisah dari pasukannya dan suatu saat akan kembali.</p>
<p align="justify">Rasa itulah yang menyebabkan ia mendaftarkan diri sebagai anggota medis dari pasukan pembebasan agar dapat dikirim ke Tibet untuk mencari keberadaan Kejun ataupun beritanya. Tapi ternyata ‘petualangannya’ itu tidaklah mudah, setelah terpukau dengan lansekap Tibet yang indah. Ia pun harus menghadapi kenyataan ganasnya alam Tibet. Pasukannya dihadapkan pada serangan tiba &#8211; tiba yang menyebabkan anggota pasukan itu mati dengan dada tertancap belati tanpa diketahui siapa pembunuhnya.</p>
<p align="justify">Ia pun harus terpisah dari pasukannya dan ditolong oleh sebuah suku nomad. Ia pun akhirnya menjadi bagian dari suku nomad itu bersama seorang gadis tibet bernama Zhouma yang juga sedang mencari seseorang, sama seperti dirinya.</p>
<p align="justify">Buku ini juga menceritakan keindahan alam Tibet, lansekap yang luas tanpa manusia. Keheningan ‘absolut’ Tibet dan keindahan alam negeri atap dunia itu, bentangan langit tanpa batas. Waktu yang terasa berhenti dan tanpa waktu hidup di padang rumput itu hanya ditandai dari perubahan musim.</p>
<p align="justify">Bagaimana Shu Wen menghadapi alam Tibet dan hidup nomaden bersama keluarga Gela dan istrinya Serbao dan anggota keluarga mereka yang menerimanya selama bertahun &#8211; tahun untuk mencari kabar Kejun. Dan tentang legenda Sky Burial, sebuah upacara pemakaman Tibet yang sangat unik. Bagaimana Sky Burial atau pemakaman langit itu akan menghubungkannya dengan Kejun.</p>
<p align="justify">Sky Burial atau pemakaman langit adalah salah satu upacara pemakaman yang sangat unik di Tibet. Sebelum diberikan kepada burung &#8211; burung nazar, gagak dan elang. Jenazah dimandikan, kemudian rambut di seluruh tubuh di cukur habis, dibalut sehelai kain putih dan diletakkan dengan posisi duduk dengan kepala menunduk di atas lutut. Setelah memilih hari yang baik, jenazah digendong oleh seorang penggendong khusus ke altar pemakaman langit. Kemudian didoakan oleh para lama, setelah seorang guru pemakaman lagit meniupkan terompet tanduk, menyulut api murbei unutk mendatangkan burung nazar. Jenasah kemudian di pilah &#8211; pilah dengan cara tertentu meremukan tulang belulangnya dengan urutan yang ditetapkan ritual. Kemudian memberikannya kepada burung nazar, kadang diolesi dengan mentega Yak agar membuat burung nazar mau memakannya. Mereka beranggapan bahwa jiwa mereka akan dibawa oleh para burung nazar itu ke surga. Ini meniru Buddha Sakyamuni yang ‘mengorbankan’ tubuhnya dimakan oleh harimau agar ia bisa mencapai nirwana(hal. 225-226). Kelihatannya memang kejam tapi bagi orang Tibet pemakaman langit adalah sebuah upacara yang suci sebagai bentuk keselarasan antara Bumi dan langit, spiritualitas tidak bisa dipisahkan dari keseharian mereka.</p>
<blockquote>
<p align="justify">“Manusia adalah bagian dari alam,” mulainya. “Kita datang ke dunia secara alami dan meninggalkannya secara alami pula. Kehidupan dan kematian merupakan bagian dari roda reinkarnasi. Kematian tak perlu ditakuti. Manusia menanti kehidupan berikutnya dengan penuh semangat. Tatkala api disulut dari rerantingan murbei pada situs pemakaman langit, terbentanglah sebuah jalan lima-warna antara surga dan bumi,… hal.225</p>
</blockquote>
<p align="justify">Buku ini tentang kisah cinta, kehilangan, penemuan, kekuatan, ketegaran dan bagaimana semuanya dirangkai menjadi satu, dalam petualangan Shu Wen mencari Kejun. Bagaimana akhirnya dapatkah Shu Wen ‘menemukan’ Kejun setelah bertahun &#8211; tahun? Buku ini berdasarkan kisah nyata yang di tuturkan Wen kepada penulisnya Xinran.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masiwan.wordpress.com/136/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masiwan.wordpress.com/136/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masiwan.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masiwan.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masiwan.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masiwan.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masiwan.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masiwan.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masiwan.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masiwan.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masiwan.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masiwan.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masiwan.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masiwan.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masiwan.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masiwan.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=136&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masiwan.wordpress.com/2007/11/17/sky-burial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/891be2c340bc4b93edb7909126c78231?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masiwan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://masiwan.files.wordpress.com/2007/11/buku_pemakaman_langit.thumbnail.gif" medium="image">
			<media:title type="html">buku_pemakaman_langit.gif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pejalan kaki</title>
		<link>http://masiwan.wordpress.com/2007/10/01/pejalan-kaki/</link>
		<comments>http://masiwan.wordpress.com/2007/10/01/pejalan-kaki/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Sep 2007 23:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masiwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar nulis]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[draft]]></category>
		<category><![CDATA[gak jelas]]></category>
		<category><![CDATA[meracau]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiwan.wordpress.com/2007/10/01/pejalan-kaki/</guid>
		<description><![CDATA[Perlukah sekolah? Sekelebat pikiran radikal pernah muncul dibenakku. Binar &#8211; binar banal. Karena ia telah memakanku, menjerumuskanku. Sebuah angan berawal dari mimpi yang terasa hambar karena bengkah. Semuanya pecah, perih dan memar. Menjadi parut di seputar kalbu dan benakku. Semua itu pernah menjadi lakon, dalam hikayat tentang ego dan tiba &#8211; tiba memukulku. Nyalang menatap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=132&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Perlukah sekolah? Sekelebat pikiran radikal pernah muncul dibenakku. Binar &#8211; binar banal. Karena ia telah memakanku, menjerumuskanku. Sebuah angan berawal dari mimpi yang terasa hambar karena bengkah. Semuanya pecah, perih dan memar. Menjadi parut di seputar kalbu dan benakku.</p>
<p align="justify">Semua itu pernah menjadi lakon, dalam hikayat tentang ego dan tiba &#8211; tiba memukulku. Nyalang menatap dan mengejekku, menjerembabkanku kedalam dunia yang suntuk berisi tentang pita kaset &#8211; kaset kusut yang tersusun menjadi menjadi imaji yang terasa kekal. Tapi musnah diterjang gelombang tsunami, sebuah sentakan dari karpet bumi yang sebenarnya mungil.</p>
<p align="justify">Dan dia ada disitu? siapa? Dari iris matamu yang indah aku tahu siapa kamu, Laila katamu. <em>“Aku adalah pejalan kaki gila yang menelusuri tapak – tapak kaki yang pudar”</em>, batinku berkenalan, berbicara denganmu. <em>“Dan maaf, karena kamu adalah sang pejalan kaki gila yang memang harus berjalan. Sedangkan aku adalah seorang peziarah waktu. Maka kita harus berpisah, karena aku selalu mencari”</em>, katamu. Dan itu saja sudahlah cukup. Di persimpangan kita berpisah.</p>
<p align="justify">Karenanya aku tidak marah, aku berjalan. Segera saja kutiup serunai yang segera mengalun merdu. Suaranya menggema kedalam lorong kalbu dan tanpa terasa serunai itu ditimpali oleh sebuah suara. <em>“Suara itu?”</em>. Tang-Ting Tang-Ting. Percikan api yang memercik dari sebuah tungku. Membara membakar biji besi yang segera ditimpa godam. Kemelitik yang ditimpali palu itu, terasa merdu dibenakku. Jiwaku menjelma larikan oranye itu. Ting-Tang Ting-Tang dan spiritku menjelma menjadi itu.</p>
<p align="justify">Di tempa dan diluruskan. Di masukkan lagi kedalam bara. Di tiupkan angin yang segera membuat bara itu kembali terbakar. Larut, menjadi tarikan nafas sang peniup serunai yang tiba &#8211; tiba terpekur, berhenti berbunyi. Dalam sunyi terdengar suara itu, sebuah untaian frekuensi yang saling menjalin. Dalam bayang bunyi dari tapak &#8211; tapak terompah sang peziarah waktu. Yang berziarah kedalam ruang batin seorang Ibu yang sedang menimang si buah hati dalam kalbu.</p>
<p align="justify">Itu tentang rasa hangat itu, susu yang diminum oleh si kecil dalam buaiannya. Seperti sebuah bandul dari tarikan gravitasi bulan dan bumi yang saling menarik. Dalam ayat &#8211; ayat kausal yang dituliskan Tuhan di angkasanya. Menjadi seperti hirupan nafas nikmat dari sang perokok. Yang hembusannya bagai sesuap nasi hangat yang terbeli dari sebuah atensi dari seorang yang mengerti tentang arti dari mencari.</p>
<p align="justify">Dan tiba &#8211; tiba bagai sebuah angin gila, itu semua menjadi satu. Menjadi larutan pekat antara frekuensi, bara, tarikan nafas, bulan dan bumi. Ia telah menjadi larut, dalam adukan takjil yang manis dan syahdu. Pekat dan berputar dalam sendok yang diaduk oleh Ibu. Setiap hembusan nafasnya menjelma menjadi tasbih, berputar dalam irama yang ritmis. Rebana yang ditabuh oleh pengemis.</p>
<p align="justify">Dan si pejalan kaki gila itu telah berpusing, dalam diamnya ia telah bicara. Tidaklah perlu mengerti tapi cukup paham untuk tahu. Dalam setiap putaran yang menjadi makna. Setiap putaran yang menjelma waktu, tapi tidak cukup penting dimana itu. Tapi itu telah melemparkannya menembus waktu. Kedalam sebuah impian kelu. Tapi saya tahu ia tidak begitu. <em>“God i surrender to you”.</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masiwan.wordpress.com/132/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masiwan.wordpress.com/132/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masiwan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masiwan.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masiwan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masiwan.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masiwan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masiwan.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masiwan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masiwan.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masiwan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masiwan.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masiwan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masiwan.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masiwan.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masiwan.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=132&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masiwan.wordpress.com/2007/10/01/pejalan-kaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/891be2c340bc4b93edb7909126c78231?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masiwan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kembali ke nothing</title>
		<link>http://masiwan.wordpress.com/2007/09/21/kembali-ke-nothing/</link>
		<comments>http://masiwan.wordpress.com/2007/09/21/kembali-ke-nothing/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2007 23:10:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masiwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar nulis]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[draft]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiwan.wordpress.com/2007/09/21/kembali-ke-nothing/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap bulan puasa biasanya itu menjadi moment yang tepat buat instrospeksi diri. Karena di bulan ini semua kondisi yang memungkinkan untuk itu terjadi dan banyak dilakukan. Kembali ke nothing. Hidup memang pencarian yang nggak pernah berhenti. Sebenarnya apa yang dicari? mungkin juga sebagian ada yang sudah tahu apa sebenarnya di cari di hidup ini. Tentu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=123&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://masiwan.files.wordpress.com/2007/09/normal_aqsa_7.jpg"><img src="http://masiwan.files.wordpress.com/2007/09/normal_aqsa_7.thumbnail.jpg?w=510" align="left" /></a>Setiap bulan puasa biasanya itu menjadi moment yang tepat buat instrospeksi diri. Karena di bulan ini semua kondisi yang memungkinkan untuk itu terjadi dan banyak dilakukan.</p>
<p align="justify">Kembali ke nothing. Hidup memang pencarian yang nggak pernah berhenti. Sebenarnya apa yang dicari? mungkin juga sebagian ada yang sudah tahu apa sebenarnya di cari di hidup ini. Tentu saja masih banyak orang yang berusaha mencari apa makna hidup ini. Termasuk mungkin gw.</p>
<p align="justify">Kosong atau nothing. Semua berawal dari ada menjadi tiada lagi, manusia diciptakan Allah dari tanah tentu saja kembali ke tanah. Tapi sejak kapan membutuhkan sesuatu yang dapat mengikat kita kepada sesuatu. Ini bukan hanya tentang materi. Materi dan sebagainya itu merupakan hal yang kasat mata. Mungkin gampang di identifikasi sebagai ‘thing’ karena kelihatan.</p>
<p align="justify">Seperti roda hidup dari bawah kemudian tiba di atas lagi dan siap tidak siap pasti akan kembali kebawah. Dari nothing kemudian kita mencapai pencapaian ‘thing’ dan kemudian kembali nothing lagi. Beranikah kita memutuskan untuk mencari ‘sumber’ dari kegundahan kita, membuang segala macam ‘aku’. Mencari tentang makna hidup dengan langsung melihat ’hidup’ yang selama ini tidak terlihat karena banyak terhalang oleh segala ‘aku’ bentukan sendiri.</p>
<p align="justify">Mungkin karena dosa &#8211; dosa yang telah kita lakukan. ‘Aku’ itu mungkin bisa juga terbentuk karena harta, jabatan dan mungkin juga citra bentukan kita sendiri. Termasuk juga image bentukan kita sendiri di internet yang kadang kala jauh sekali dari diri.</p>
<p align="justify">Puasa di bulan Ramadhan. Tentu saja sudah yang banyak mengetahui bahwa puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus. Tapi puasa juga mencoba mengingatkan tentang ke eksistensi kita. Yang sebenarnya ‘nothing’, selama ini telah banyak terikat dengan sesuatu. Puasa memcoba untuk mengembalikan manusia menuju fitrahnya semula. Sebagai makhluk ciptaanNya yang tidak berarti di banding dengan kebesaranNya.</p>
<p align="justify">Gw nggak ingin menghujat hal – hal duniawi. Sedangkan ternyata gw adalah orang yang ternyata mungkin masih sangat terikat dengan hal – hal ini. Puasa mencoba kembali mempertanyakan ‘aku’ kita, mencoba membuang segala keterikatan kita pada sesuatu. Siapa sebenarnya diri kita? tanpa terikat oleh segala hal yang berusaha membentuk ‘aku’.</p>
<p align="justify">Diri pribadi, fitrah kita itu mungkin terendam sangat dalam. Karena kesibukan yang banyak di lakukan, menjadi terkotori oleh image dan citra yang palsu. Tapi dalam sebulan ini mencoba untuk dicari lagi dan ditemukan kembali. Bisakah kita lepas dari segala keterikatan yang telah mendistorsi kita?</p>
<p align="justify">Diri kita dan gw saat ini mungkin seperti gedung pencakar langit yang rapuh, ketika gempa terjadi semuanya kolaps. Tapi tanpa terasa ia menjadi ‘aku’, tanpanya kita menjadi hampa, lemas dan nggak punya power. Inikah tanda keterikatan gw pada sesuatu? Gw nggak tahu tapi paling tidak itu bisa menjadi bahan perenungan. Siapa diri kita, ‘aku’ yang sengguhnya sesungguhnya bukan bentukan dari imaji, keterikatan pada sesuatu dan mungkin juga fantasi.</p>
<p align="justify">Moment puasa ini bagi gw sangat penting untuk mencari lagi fitrah kita sebagai makhlukNya, ‘aku’ kita yang sebenarnya yang mungkin harus ditemukan kembali. Terima Kasih Ya Allah telah kau ciptakan bulan yang begitu mulia dimana segala amal kebaikan kita dilipat gandakan pahalanya. Tempat dimana kita bisa melihat diri kita sebenarnya dan tempat kita bisa berintrospeksi melihat segala macam kekurangan dan kesalahan kita selama ini. Ya Allah… terima kasih. Allahu Akbar, Allah Maha Besar.</p>
<p> <em>La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu mina dzalimin rabbi inni kulli dzunubun wa antal afuwwul ghafur</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>(Ya Allah ampunilah dosaku…)</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">pic dari <a href="http://www.islamicfinder.org/gallery/displayimage.php?album=22&amp;pos=107" target="_blank">sini</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masiwan.wordpress.com/123/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masiwan.wordpress.com/123/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masiwan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masiwan.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masiwan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masiwan.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masiwan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masiwan.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masiwan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masiwan.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masiwan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masiwan.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masiwan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masiwan.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masiwan.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masiwan.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=123&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masiwan.wordpress.com/2007/09/21/kembali-ke-nothing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/891be2c340bc4b93edb7909126c78231?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masiwan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://masiwan.files.wordpress.com/2007/09/normal_aqsa_7.thumbnail.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>katarsis</title>
		<link>http://masiwan.wordpress.com/2007/09/21/katarsis/</link>
		<comments>http://masiwan.wordpress.com/2007/09/21/katarsis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2007 23:08:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masiwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar nulis]]></category>
		<category><![CDATA[gak jelas]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiwan.wordpress.com/2007/09/21/katarsis/</guid>
		<description><![CDATA[Fana mengalir dari dekapan kosong apa yang kucari? dari hidup pernah kupegang ekornya tapi putus lari bersama raganya hilang ditengah kabut terbutakan ditengah cahaya silau buta di malam yang kelam Ya Tuhan.. apa lagi ini? berlutut di tanahmu kegenggam pasir dari tanah kembali ketanah musnah, sirna hanya kebaikan yang abadi menjadi cahaya bagi nurani pelita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=122&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Fana<br />
mengalir dari dekapan<br />
kosong</em></p>
<p><em>apa yang kucari?<br />
dari hidup</em></p>
<p><em>pernah kupegang ekornya<br />
tapi putus<br />
lari bersama raganya</em></p>
<p><em>hilang<br />
ditengah kabut terbutakan<br />
ditengah cahaya silau<br />
buta di malam yang kelam</em></p>
<p><em>Ya Tuhan..<br />
apa lagi ini?<br />
berlutut di tanahmu<br />
kegenggam pasir</em></p>
<p><em>dari tanah<br />
kembali ketanah</em></p>
<p><em>musnah, sirna<br />
hanya kebaikan yang abadi<br />
menjadi cahaya bagi nurani</em></p>
<p><em>pelita di tengah taifun ganas<br />
bagi sampan di lautan lepas<br />
perahu yang terombang-ambing<br />
dari subuh sampai petang</em></p>
<p><em>yang hanya menjadi keledai<br />
tanpa ada yang menilai<br />
apa arti dari semua ini</em></p>
<p><em>Ya Allah…<br />
selamatkanlah aku…<br />
dari derita tak berujung ini<br />
hidup, muda, tua, sakit, mati</em></p>
<p><em>samsara yang abadi<br />
entah apa yang terjadi,<br />
jika tiada suluhmu<br />
perih tersayat di perjalanan</em></p>
<p><em>nyatakah semua ini?<br />
cuma ilusi?</em></p>
<p><em>tapi kemana perginya waktu?<br />
dunia simbolis,<br />
memento bagi memori</em></p>
<p><em>dan aku tenggelam<br />
kedalam riuhnya aku<br />
yang menjadi besar</em></p>
<p><em>tanpa sadar<br />
akan kebesaranNya<br />
aku menjadi kerdil</em></p>
<p><em>dikerdilkan oleh ruang dan waktu yang fana,<br />
mencari diri sendiri<br />
dan makna mencari,<br />
sesuatu yang kurasa pergi<br />
padahal ia ada berlindung pada jiwaku</em></p>
<p><em>jiwaku yang resah mencari<br />
kedalaman makna arti<br />
tentang bumi yang berevolusi<br />
bukan tentang diri sendiri</em></p>
<p><em>dan aku terdadahkan<br />
oleh aral yang terjadi<br />
yang tiba menjadi hikmah<br />
pelajaran penuh arti</em></p>
<p><em>bagi diri pribadi<br />
yang rindu<br />
akan cahaya Ilahi</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masiwan.wordpress.com/122/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masiwan.wordpress.com/122/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masiwan.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masiwan.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masiwan.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masiwan.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masiwan.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masiwan.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masiwan.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masiwan.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masiwan.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masiwan.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masiwan.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masiwan.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masiwan.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masiwan.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=122&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masiwan.wordpress.com/2007/09/21/katarsis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/891be2c340bc4b93edb7909126c78231?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masiwan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ruang imaji</title>
		<link>http://masiwan.wordpress.com/2007/09/21/ruang-imaji/</link>
		<comments>http://masiwan.wordpress.com/2007/09/21/ruang-imaji/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2007 23:06:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masiwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar nulis]]></category>
		<category><![CDATA[gak jelas]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiwan.wordpress.com/2007/09/21/ruang-imaji/</guid>
		<description><![CDATA[ruang – ruang imajiku sedang berdenyut bagai ribuan neon yang bergetar memendarkan warna dan nuasa yang terasa janggal yang hanya sekelabat saja terangkum dalam ribuan warna tertangkum dalam iris matamu yang bertanya tentang apa makna dan arti dari inskripsi yang telah kutuliskan kepada siapa akupun tak mengerti dan dalam diam aku bicara arus yang terus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=121&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>ruang – ruang imajiku sedang berdenyut<br />
bagai ribuan neon yang bergetar<br />
memendarkan warna dan nuasa<br />
yang terasa janggal</em></p>
<p><em>yang hanya sekelabat saja<br />
terangkum dalam ribuan warna<br />
tertangkum dalam iris matamu<br />
yang bertanya tentang apa makna dan arti</em></p>
<p><em>dari inskripsi yang telah kutuliskan<br />
kepada siapa akupun tak mengerti<br />
dan dalam diam aku bicara<br />
arus yang terus berputar dalam benakku</em></p>
<p><em>membuat aku tak bisa memejamkan<br />
kelopak mataku yang telah menjadi transparan<br />
dan akupun silau terjaga dan terus terjaga<br />
oleh dunia yang terasa menjadi sirna</em></p>
<p><em>berubah menjadi ribuan bits makna<br />
yang berkelebat dalam ruang maya<br />
dari dunia tanpa nama dan rasa<br />
yang tercercap oleh indera</em></p>
<p><em>tapi telah memukau aku<br />
dengan rasa itu<br />
yang tergenggam tapi tak kulihat<br />
ribuan paragraf yang menjadi misteri</em></p>
<p><em>dari mana datangnya aku tak mengerti<br />
tapi Tuhan pasti mengerti<br />
euforia yang tak terduga<br />
membuat aku gila</em></p>
<p><em>euforia yang tak terkira<br />
yang kadang tak bisa kutampung<br />
dalam goresan pena<br />
yang terasa pejal dan kelu</em></p>
<p><em>tapi menunggu disitu<br />
di benakku<br />
berdenyut<br />
menunggu aku</em></p>
<p><em>meggoreskannya menjadi parafrase<br />
yang elok yang tak kumengerti<br />
dari mana ini semua berasal<br />
tanpa sadar telah kugoreskan</em></p>
<p><em>menjadi kata yang tak terduga<br />
ekstase yang tak kukira<br />
akan kualami dari sebentuk karya literasi<br />
yang selama ini mungkin asing bagiku</em></p>
<p><em>151007 6:43AM</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/masiwan.wordpress.com/121/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/masiwan.wordpress.com/121/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masiwan.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masiwan.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masiwan.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masiwan.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masiwan.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masiwan.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masiwan.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masiwan.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masiwan.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masiwan.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masiwan.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masiwan.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masiwan.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masiwan.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masiwan.wordpress.com&amp;blog=685178&amp;post=121&amp;subd=masiwan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masiwan.wordpress.com/2007/09/21/ruang-imaji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/891be2c340bc4b93edb7909126c78231?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masiwan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
