belajar nulis


14 jam sebelum…

Bedil itu telah menyalak. Mengeluarkan pelurunya, sebait sepi. Yang telah ditembakkan dari proyetilnya menuju ke hati yang sunyi. Ditengah keheningan malam yang menyesakkan. Seleret langkah di keheningan malam, setiap langkahnya berat oleh beban. Nafasnya berdesakkan, mencoba mengusir dingin yang kelam. Dalam setiap langkahnya terkandung sederet untaian harap. Beberapa jam setelah ini akan tumbuh di ufuk timur sang mentari. Sebuah harapan akan kehangatan, yang dituang kedalam cangkir kopi. Aku pun menghisap hawa dingin itu lagi.

“Duh puanku, aku berjalan disini. Duh Gusti apa artinya ini?”

***

Dalam desah nafasnya, (lagi…)

rubiks_cube_variations.jpg

aneh sekali
apa yang kulihat
dari peristiwa

menjadi sebuah kubus
sebuah rubik yang menunggu
untuk kucabik menjadi kepingan
:yang kucoba kulekatkankan lagi
kepingannya itu
menjadi sebuah gambaran
:yang terlihat simetris di benakku

tapi ini bukan tentang nafsu
aku yakin bukan nafsu…

pic from en.wikipedia.com

setetes dirimu itu beracun
menghujam benak ingsun
didiamkan menjadi karat
lama – lama menjadi madat

berkelebat di dalam jidat
yang tak terasa kujilat
tertelan menjadi pekat
dalam mimpi yang singkat

telah berubah menjadi jerat
dalam jeram bertingkat-tingkat
yang selalu menyebar pikat
tentang suatu yang tak-padat

Aku memakinya, cialat!

Dan sang penghibur itu telah bekerja,
ia bekerja dengan diam
di benakku yang padam
“apa yang kau mau?”
“tidak kau tahu?”

Dan sekali lagi dia bekerja,
tidak harap dipuja
tanpa pinta bekerja
“apa maumu?”
“hanya senyummu!”

‘Sang Penghibur’ itu ada lagi,
dalam setiap hela nafasku
aku tahu karena dia ‘kamu’
“Aku sedang kelu”
“Tidak, maju ayo maju”

Ku usir lagi si ‘dia’
tapi kembali dengan suka
pada saat ku duka
“Aku sedang luka”
“Mari bersuka-suka saja”

“Dasar Gila!”
“Terserah kau saja;
mari bersuka!”

Inspirasi dari lirik lagu padi – sang penghibur

ejel01.jpgJangan tertipu dengan cover buku ini, ini bukan chick lit (hehehe) dan bukan roman. Profesor Erika Kohut adalah seorang pengajar di Konservatori Wina. Ia seorang guru piano pada siang hari, berkutat dengan segala seni musik surgawi. Tapi sisi lain hidupnya benar – benar berbeda, seperti dua sisi mata uang, musik klasik yang merupakan seni cita rasa tinggi pada siang hari dan kalau malam hari ia terbiasa mengunjungi bagian kota wina yang gelap. Kehidupan malam wina yang kotor, peeping-show, pertunjukan striptease dan lain sebagainya. Pikiran, emosi, kenangan dan fantasy seseorang begitu rumit tapi oleh penulis ditulis dengan gaya penulisan yang meloncat – loncat hingga mengaburkan batas antara kenyataan dan kayalan. Pikiran dan fantasi seseorang manusia yang begitu kompleks yang dapat dipicu oleh hal yang remeh seperti rasa yang dicercap, baui, rasakan dan lihat, digambarkannya dengan metafora yang menarik. Apakah sisi lain dari Erica itu hanya merupakan pemenuhan ‘id’nya saja?

Kehidupan Erica itu mungkin nggak bisa lepas dari dominasi dan obsesi Ibu Erica. Saya seperti melihat Ibu Erica yang selalu membuntuti kemanapun anaknya (walaupun itu mungkin hanya dalam pikirannya saja?). Itulah yang membuat ia sulit merasakan kehangantan, ‘rasa’ dan perhatian lebih yang diberikan oleh seorang muridnya Walter Klemer. Mau nggak mau kita jadi ikut merasakan juga suasana hati Erica di novel ini yang suram. Menarik ketika terjadi interaksi antara sang murid dan guru piano. Walter Klemer yang akhirnya berhasil mendapat perhatian gurunya harus menghadapi seuatu yang rumit, sebuah hubungan yang seharusnya normal menjadi begitu rumit.

Sulit memang untuk ‘mendekat’ dengan karakter dalam novel ini, karena semuanya mungkin sengaja di buat berjarak, begitu saya merasa sudah ‘dekat’ dengan tokoh disitu perasaan saya di hempaskan lagi oleh si penulis menuju keputusaan dan kehampaan? (sebaiknya baca saja sendiri) dengan analogi – analogi dan metafora yang memang sengaja di tuliskan oleh penulisnya. Elfriede Jelinek yang memperoleh hadiah Nobel di bidang Sastra tahun 2004. Dan saya juga mungkin sulit mereview buku ini karena mungkin keterbatasan pengetahuan saya. Novel ini juga sudah difilmkan oleh Michael Haneke dan memenangkan tiga penghargaan utama dalam Festival Film Cannes 2001.

Perlukah sekolah? Sekelebat pikiran radikal pernah muncul dibenakku. Binar – binar banal. Karena ia telah memakanku, menjerumuskanku. Sebuah angan berawal dari mimpi yang terasa hambar karena bengkah. Semuanya pecah, perih dan memar. Menjadi parut di seputar kalbu dan benakku.

Semua itu pernah menjadi lakon, dalam hikayat tentang ego dan tiba – tiba memukulku. Nyalang menatap dan mengejekku, menjerembabkanku kedalam dunia yang suntuk berisi tentang pita kaset – kaset kusut yang tersusun menjadi menjadi imaji yang terasa kekal. Tapi musnah diterjang gelombang tsunami, sebuah sentakan dari karpet bumi yang sebenarnya mungil.

Dan dia ada disitu? siapa? Dari iris matamu yang indah aku tahu siapa kamu, Laila katamu. “Aku adalah pejalan kaki gila yang menelusuri tapak – tapak kaki yang pudar”, batinku berkenalan, berbicara denganmu. “Dan maaf, karena kamu adalah sang pejalan kaki gila yang memang harus berjalan. Sedangkan aku adalah seorang peziarah waktu. Maka kita harus berpisah, karena aku selalu mencari”, katamu. Dan itu saja sudahlah cukup. Di persimpangan kita berpisah.

Karenanya aku tidak marah, aku berjalan. Segera saja kutiup serunai yang segera mengalun merdu. Suaranya menggema kedalam lorong kalbu dan tanpa terasa serunai itu ditimpali oleh sebuah suara. “Suara itu?”. Tang-Ting Tang-Ting. Percikan api yang memercik dari sebuah tungku. Membara membakar biji besi yang segera ditimpa godam. Kemelitik yang ditimpali palu itu, terasa merdu dibenakku. Jiwaku menjelma larikan oranye itu. Ting-Tang Ting-Tang dan spiritku menjelma menjadi itu.

Di tempa dan diluruskan. Di masukkan lagi kedalam bara. Di tiupkan angin yang segera membuat bara itu kembali terbakar. Larut, menjadi tarikan nafas sang peniup serunai yang tiba – tiba terpekur, berhenti berbunyi. Dalam sunyi terdengar suara itu, sebuah untaian frekuensi yang saling menjalin. Dalam bayang bunyi dari tapak – tapak terompah sang peziarah waktu. Yang berziarah kedalam ruang batin seorang Ibu yang sedang menimang si buah hati dalam kalbu.

Itu tentang rasa hangat itu, susu yang diminum oleh si kecil dalam buaiannya. Seperti sebuah bandul dari tarikan gravitasi bulan dan bumi yang saling menarik. Dalam ayat – ayat kausal yang dituliskan Tuhan di angkasanya. Menjadi seperti hirupan nafas nikmat dari sang perokok. Yang hembusannya bagai sesuap nasi hangat yang terbeli dari sebuah atensi dari seorang yang mengerti tentang arti dari mencari.

Dan tiba – tiba bagai sebuah angin gila, itu semua menjadi satu. Menjadi larutan pekat antara frekuensi, bara, tarikan nafas, bulan dan bumi. Ia telah menjadi larut, dalam adukan takjil yang manis dan syahdu. Pekat dan berputar dalam sendok yang diaduk oleh Ibu. Setiap hembusan nafasnya menjelma menjadi tasbih, berputar dalam irama yang ritmis. Rebana yang ditabuh oleh pengemis.

Dan si pejalan kaki gila itu telah berpusing, dalam diamnya ia telah bicara. Tidaklah perlu mengerti tapi cukup paham untuk tahu. Dalam setiap putaran yang menjadi makna. Setiap putaran yang menjelma waktu, tapi tidak cukup penting dimana itu. Tapi itu telah melemparkannya menembus waktu. Kedalam sebuah impian kelu. Tapi saya tahu ia tidak begitu. “God i surrender to you”.

Halaman Berikutnya »